Struggle of The Heart [new story]

  • Wow mantap jadi ingat masa lalu hehe
    Tp buat nerapin rule macam gitu susah beud apalagi saringan angggota bocor2 rada bebal antara sok nubie atau spy atau masa bodo wkwk


    Kalau yg ngatur fam nya dah pengalaman enak baru mantap tuh jangan yg karbitan tiba2 jadi pengurus ally lol.


    Semoga yang masih aktif bermain bisa nerapin rule seperti ini biar mainnya ga makan hati mulu krn anggota yg kebanyakan kurang ajar lol (jadenya curhat wkwk)

  • Main bertahun tahun, baru sesi dalam novel ini saya berhadapan dengan regulasi yg menurut saya matang dan ter organisir , defend kompak , attacker kompak ,memang sepertinya para petinggi ter khusus nya timur laut emang punya rekam jejak prestasi dan pengalaman, cm 1 yg bikin saya kapok main dengan para pelaku cerita di novel ini , saya pernah request CFD dan hasil pemberian defend nya dluar dugaan yg membuat dapur saya goyang , ntah karena mereka


    1. membantu mempertahankan desa saya
    2. stock deff nya melimpah
    3. atau karena saya dikerjain hahahahaha


    terlepas dri itu semua sekali lagi saya ucapkan terima kasih bantuan nya


    mungkin di sesi ini FREA blm beruntung buat hammer gede , karena puluhan ribu imperian nya mati ngenes kegilas tronton tetangga sebelah di desa saya , tp FREA dan temen2 berhasil bawa TNR ke podium 1


    saya masih menunggu chapter dimana banyak kejadian lucu dan konyol dalam novel ini tulis terus makkkkkkk , jangan kasih kendor tu tangan dan jemari

    Server 5 Addicted


    14th (Ss 5) | EneMieS (Ss 6) | Renaissance (Ss 7) | Cheval Blanc (Ss 8) | REDQUEENs (Ss 9)


  • Chapter 11. Ea… Ea…


    Part one. Violation of the rule


    “Yang pegang spin125 siapa ya? Main settling aja di sebelah caps gw,” pagi-pagi Laras sudah mencak-mencak di aula Mansion Frea tempat seluruh RED berkoordinasi. “Ilang dah satu slot buat bikin desa support,” gerutunya.


    “Leader Eken, tolong aturan bisa segera dipublish” saran Dicky. “Di area caps saya juga sudah muncul desa-desa lain tanpa konfirmasi,” keluhnya.


    “Di sini bukannya ada perwakilan RED|EA ya?” dengus Laras lagi. “Coba tolong anggotanya ditegur itu. Kasus spin125 itu jelas-jelas nyolot, saya tanya kenapa settle di sebelah ladang saya malah nyolot, balik nanya emangnya ada aturan yang melarang settle di sebelah desa orang…”semprotnya. “Saya minta penyelesaian. Jika tidak ada permintaan maaf, saya sendiri yang bertindak nantinya…” kali ini kalimatnya ia tujukan pada Ron dan Eken, begitu menyadari perwakilan RED|EA yang ia cari belum nampak di aula.


    “Nyolot bagaimana bro Laras?” tanya Eken dengan nada setenang mungkin untuk meredakan emosi Laras.


    “Yah nyolot lah, masa settling di sebelah 15c orang? Maksudnya apa? Kejar apa settling di sebelah 15c orang?” Laras sewot. “Kalau ada pemain tidak bro kenal, tahu-tahu settling di sebelah 15c FREA, apa tanggapan bro? Enjoy aja?” Laras melempar pertanyaan ke Eken dan Ron.


    Eken menghela nafas, ia berusaha menenangkan Laras. “Aturan segera difinalkan. Coba dikirimi pesan dulu baik-baik bro Laras, agar dia mau pindah. Jangan main cata dulu...”


    “Jadi dari bro Eken penyelesaiannya adalah catapult desa kedua Spin?” tanya Laras.


    “Coba dibicarakan baik-baik saja dulu,” sahut Eken. “Kalau memang sudah deal dan dia mau pindah baru dicata…”


    “Kalau ga mau pindah juga?” tanya Laras lagi, nadanya masih tinggi.


    “Coba sini saya minta kontaknya,” kembali Eken bersikap tenang. “Kita bahas bareng…”


    “Sebetulnya tidak relevan membangun desa di sebelah capital orang kalau tidak ada maunya,” timpal Sulung.


    “Nah, itu yang saya maksud,” sambar Laras, merasa ada yang mendukung argumennya. “Dan lagi alasan dia settling di sebelah ladang saya katanya mau support Alfa. Itu kan absurd... Ladang Alfa di greyzone. Jelas dia settling ke sebelah saya malah berarti makin jauh dari Alfa!!!” pekik Laras.


    “Usulan saya biarkan ybs siapkan desanya,” komentar Sulung lagi. “Selanjutnya, pemilik capital silakan chief desa tersebut…”


    “Kejar riset chief di awal, yang ada desa saya ga akan berkembang Om,” tukas Laras sewot.


    “Kalau begitu si pemilik desa ini harus memberi akses pada pemilik capital tanpa harus ditanya lagi,” usul Sulung. “Begitu dia menghentikan akses, maka langsung chief saja atau ratakan desanya…”


    “Kita coba cari kontaknya dulu,” Eken menengahi. “Kalau dah kenal orangnya, kan lebih enak ngobrolnya. Nanti juga pasti mau pindah kok…”


    Laras mendengus. Emosinya masih memuncak. Saat itulah Gin masuk ke tengah-tengah mereka.


    “Halo halo semua,” sapa Gin sembari menempatkan pantatnya di bangku tak jauh dari Ron dan Eken. “Gimana, ada masalah ya. Hmm…”


    “Iya, mau tanya dong, bro. Ducati memangnya sudah minta ijin mau menempati area 13*13 caps Sunset?” tanya Dicky. “Saya tanya yang bersangkutan, katanya sudah diijinkan oleh petingginya…”


    “Hmm… sebentar,” Gin menggumam lagi. “Ducati dan spin… Keduanya termasuk teman kepercayaan saya. Santai saja, no spy…”


    Laras masih mendengus. Tanpa Gin menjelaskan itu juga ia sudah mengindranya. Keduanya menggunakan nama motor, sama seperti sebagian besar anggota Dealer yang menggunakan nama motor atau mobil sebagai alias mereka, yang berarti sudah pasti merupakan tim inti Dealer bersama Gin. Tapi bukan masalah spy atau bukan yang ia permasalahkan.


    “Sebelum memberangkatkan imigrannya keduanya sudah konsul ke saya sih,” sambung Gin. “Cuma memang hari-hari ini saya lagi sibuk dan kurang fokus meninjau masukan dan usulan dari teman-teman saya terkait lokasi desa 2. Tahu-tahu sudah main jalan saja imigran mereka,” Gin nyengir sebagai ekspresi bersalahnya.


    “Kalau boleh tahu, Ducati attacker ato deffender ya?” tanya Dicky. “Tadi agak nyesek aja soalnya deffender saya balik kanan karena lahan sudah ditempati padahal sudah jalan 22 jam…” Dicky sama kesalnya sebenarnya seperti halnya Laras. Tapi ia lebih hati-hati menjaga kalimatnya agar tak sefrontal Laras.


    “Ducati sibuk juga jadi dia mau main aman,” terang Gin. “Saya acc dia jalan ke kluster famili di 100/100 tapi gak acc untuk lokasi di dekat desa sunset. Tapi silahkan dibicarakan baik-baik mengenai booking oasis atau apa biar gak bentrok dalam pembersihan dan pengambilannya…”


    “Oke, nanti saya komunikasi sama ducati saja langsung,” tanggap Dicky. “Thanks infonya om.”


    “Makasih juga om Dicky atas pengertiannya,” Gin mengatupkan kedua tangannya, mengisyaratkan salam ke Dicky.


    “Nah begini kan enak,” komentar Eken sambil tersenyum.


    “Ducati tipe silent attack, sementara spin tipe deff,” lanjut Gin lagi. “Saya dan teman-teman mau latihan cluster di area greyzone… Jadi spin juga bisa jadi pabrik defender nantinya...”


    “Sorry, no excuse,” tukas Laras. “Itu akan Beast cata. Slot untuk desa support Beast terbatas.” Laras menggunakan nama Beast, aliasnya.


    “Ngapain main cata om?” protes Gin. “Biarin aja kembang, paling tidak nanti desa ketiganya kan bisa pindah kalau memang om terasa sesak…”


    Panjul menyikut Ruby. “Kamu yakin aliasmu Kaya, mbak? Bukan Belle?” bisik Panjul. Ruby memijat kepalanya, pening. Panjul sepertinya benar, Laras dengan alias Beast dan karakter pemberangnya, menegaskan bahwa ia memang sang pembawa kutukan. Dan mungkin Panjul juga benar, seharusnya karakter alias Ruby adalah Belle agar bisa menghapus kutukan sang Beast.


    “Sebaiknya dibiarkan saja,” Sulung masih keukeuh dengan usulannya untuk chief desa Spin sebagai desa support Laras nantinya. Ini pun menambah pening Ruby.


    “Maaf Om Beast.” ujar Gin. “Jangan terbakar emosi, nanti malah menyulut emosi yang lainnya…”


    Yuwi spontan tergelak. “Hahaha... baru juga selesai dibikin aturan dah ada aja yang nyolot…”


    “Kemarin kan saya nanya, ada booking tempat atau tidak, katanya tidak ada, jadi waktu itu saya acc,” lanjut Gin. “Saya sendiri belum lihat rulenya, karena sedang berburu waktu. Untuk oasis nanti silakan dikomunikasikan dengan pihak berkaitan saja om biar enak. Terlebih supaya teman saya nanti saya tidak menjadikan desa tersebut sebagai caps. Bagaimana om Beast? Masih ada yang dikeluhkan?”


    Laras masih hendak berdiri dan siap berteriak, tapi Ruby menahannya. Ia sapukan telapak tangannya perlahan ke punggung Laras untuk menenangkannya. Ruby pun angkat bicara.


    “Tidak ada booking tempat sejak jauh-jauh hari sebelumnya, itu benar,” ujar Ruby. “Tapi memberitahukan ke mana imigran berangkat itu wajib, agar tidak ada imigran lain yang balik kanan. Terlebih itu di 13*13 capital teman.”


    “Ruby juga ingin menegaskan kembali, alasan mengapa rule 13*13 ini sangat diperlukan, yakni untuk pengembangan masing-masing desa dan akun,” lanjutnya. “Untuk memiliki aliansi yang bagus, keluarga yang bagus, akun yang bagus, harus dipastikan bahwa setiap area yang kondusif untuk pengembangan akun berada dalam kontrol pemilik caps. Di sana hanya boleh ada desa support, defender, atau id yg bisa diakses. Karena sumber daya maupun defens dibutuhkan dalam waktu singkat. Jika tidak, itu akan mengganggu pemilik caps.”


    “Berkaitan dengan kasus seperti Spin dan Beast atau Sunset dan Ducati ini, ke depan kita akan melihat kerugiannya buat aliansi. Beast jelas tak akan bisa berkembang optimal, sementara Spin pun tak bisa optimal. Sunset akan berkurang peluang pengembangan akunnya, dan Ducati pun tak akan optimal dengan target silent hammer di sana. Tak banyak yang bisa diharap nantinya dari 9c dengan oasis yang bakal berkurang karena beririsan dengan Sunset. Jadi untuk kasus semacam ini saran Ruby, dapatkan akses, jika tidak maka dicata agar bisa pindah ke tempat yang lebih optimal sejak awal,” Ruby menyampaikan pandangannya seputar konflik settling.


    “Dan tolong diperhatikan buat semuanya agar tak terulang ke depannya. Ini aturan dasar yang harus disepakati jika kita bermain dengan banyak orang. Awalnya mungkin terasa ga enak, tapi ini untuk kebaikan aliansi. Awalnya mungkin kesannya koq saklek amat, tapi ini yang nantinya di akhir akan buat kita optimal. Ini yang harus kita sepakati dulu,” pungkas Ruby.


    Gin dan Laras tak berkomentar. Dicky, Panjul, dan Ron tersenyum puas mendengar paparan Ruby, mereka sepakat sepenuhnya. Sementara Yuwi memberikan ekspresi seperti anak sekolah yang setengah bosan dipaksa mengucapkan ‘Ya Bu Guru…’.


    “Baiklah,” tanggap Eken. “Saya segera selesaikan aturan aliansi dengan menambahkan aturan settling. Saya juga sedang menyusun struktur petinggi RED, belum ketemu yang paling pas. Mohon dimengerti ya kalau agak lama. Sementara itu, masalah yang ada diselesaikan secara kekeluargaan. Kita berharap masalah seperti ini tidak terjadi lagi di masa yang akan datang.”


    Pertemuan bubar setelah itu. Laras masih dongkol dan tak mau menengok ke Gin yang ia anggap sebagai leader yang tak bisa mengatur anggotanya, padahal Gin ikut dalam pembahasan tentang rule aliansi...


    •••


  • hahaha, kayaknya positif krn dikerjain itu fer...
    TNR? TNR yang di-vote sebagai ally terbaik di sini fer? kan ni novel masih bahas soal RED, gimana toh? hehehe


    jejak dulu, suka sama cerita2 inspiratif macam tulisan2ny tante swann :thumbup::thumbsup:

    makasih bro :saint:


    ---


    dear all, berhasil juga menulis tambahan satu chapter lagi, di tengah kesibukan baru dan banyak hal yang lebih menyita perhatian. ditunggu krisannya ya...
    doain saya juga ya biar sehat, lancar ujiannya dan urusan2 lainnya, dan bisa nyelesaiin buku ini...
    makasiih :love:

  • Chapter 11. Ea... Ea...

    Part two. Internal Manager


    “Baiklah,” tanggap Eken. “Saya segera selesaikan aturan aliansi dengan menambahkan aturan settling. Saya juga sedang menyusun struktur petinggi RED, belum ketemu yang paling pas. Mohon dimengerti ya kalau agak lama. Sementara itu, masalah yang ada diselesaikan secara kekeluargaan. Kita berharap masalah seperti ini tidak terjadi lagi di masa yang akan datang.”


    Pertemuan bubar setelah itu. Laras masih dongkol dan tak mau menengok ke Gin yang ia anggap sebagai leader yang tak bisa mengatur anggotanya, padahal Gin ikut dalam pembahasan tentang rule aliansi...


    •••


    “Pak,” Ruby bergegas mengejar Eken selepas pertemuan tersebut. Disodorkannya beberapa helai draft pengumuman dan rule aliansi yang telah Ruby edit.


    “Ini draft form biodata anggota, tolong masukannya,” ujar Ruby. “Kalau ok, kita bisa pakai form ini. Ini untuk anggota pas pertama kali dia gabung, nanti untuk update dan data pasukannya kita buat form lagi.”


    “Dan ini draft pengumuman yang jika berkenan bisa segera kau umumkan Pak.” Disampaikannya tentang dua pengumuman standar yang Windjade ajarkan pada Swann untuk diterapkan di Infamous. Pertama adalah pengumuman selamat datang dan penyatuan visi misi serta pengumpulan biodata, sementara yang kedua adalah pengumuman untuk pengumpulan data pasukan yang akan dikirimkan secara berkala. Dan Ruby berharap itu bisa diterapkan di RED.


    Setelah perdebatan kecil karena Eken masih bersikukuh menggunakan istilah 6*6 untuk radius 6 perak dari caps (yang sempat memaksa Ruby mengunyah pensilnya), akhirnya Eken menerima konsep Ruby.


    “13*13 itu istilah baku di luar Pak, jangan buat teman-teman salah persepsi nantinya. Saya mungkin memang guru esde kalau kata Yuwi, tapi itu karena Ruby ingin kita main dengan standar,” pungkas Ruby.


    Maka malam itu, Ruby menempelkan rule yang telah disempurnakan di papan pengumuman di luar aula Frea. Ron pun menyiapkan pelataran aula sebagai tempat terbuka untuk berkumpul seluruh anggota RED. Sementara Eken, membagikan gulungan salinan pengumuman yang Ruby ajukan untuk diumumkan di keenam mansion RED.


    Laras dan Yuwi segera mengambil gulungan untuk mereka umumkan masing-masing di RED|CC dan DD, sementara Eken mengumumkannya di RED|AA. Ruby mengambil dua gulungan untuk ia sampaikan ke Didi dan Sulung untuk diumumkan di NN dan WW. Ron membiarkan gulungan untuk EA sewaktu-waktu Adam atau Gin datang untuk mengambilnya nanti.


    “Oh ya, keputusan tentang perekrutan Unity ke RED melalui sitcheck oleh Beast apakah sudah disampaikan kepada Bobo (leader Unity)?” Panjul mengingatkan. “Biar bisa dia umumkan. Atau mau aku saja yang umumkan di sana?” Panjul nyengir.


    Eken memasrahkan hal itu pada Panjul, yang berarti peleburan Unity ke RED menjadi tanggung jawab Panjul dan Laras.


    •••


    ”Pak, kalau dirimu percaya Ruby, tolong kasih Ruby kewenangan jadi internal manager,” Ruby kembali mengejar Eken sekeluarnya dari aula. Ruby tak sabar melihat Eken tak kunjung mengumumkan struktur RED padahal diskusi mereka berdua seputar siapa sebaiknya mengurusi apa sudah mereka lakukan sejak begitu pertama kali Eken terpilih sebagai ketua. “Jadi, alih-alih cuma jadi emak-emak bawel, Ruby bisa ketok palu untuk kasus-kasus sengketa internal lebih cepat. Eron, yuwi, Adam, juga bisa ditambahkan di tim internal management ini. Ruby akan berusaha biasakan teman-teman bermain dengan orientasi jangka panjang seperti yang biasa diterapkan di Infamous,” terangnya.


    “Internal manager apaan tuh sis?” tanya Eken.


    Ruby menghela nafas, ia harus mengulang kembali penjelasannya. “Tugasnya menej internal, mengevaluasi apakah tiap-tiap aku optimal, menyeleksi akun berdasar keaktifan/partisipasi dan optimal/tdk nya, serta yang menyelesaikan masalah kalau ada sengketa internal. Di samping itu, menyediakan data yang dibutuhkan oleh DC (Defense Coordinator) Team maupun bg attack dengan cepat dari data yang dimenejnya…”


    Ruby pun menyebutkan Panjul, Sulung, dan Didi sebagai kandidat tim DC.

    “Diplomasi terpusat hanya di tanganmu. Dan di dalam kuadran, kebijakannya sudah final, tidak ada sekutu/nap baru, hanya rekrut,” usul Ruby lebih lanjut. “Sementara leader attack Ruby percayakan sepenuhnya ke dirimu mau tunjuk siapa pak…”


    Eken tercenung.


    •••


    Keesokan harinya, Eken mengumumkan susunan petinggi RED.


    koordinator internal : sis Ruby

    koordinator persiapan arte : bro Dicky & Gin

    koordinator attack : bro Sulung

    koordinator def : bro Didi

    petinggi red CC : bro Laras

    petinggi red AA: bro Ron

    petinggi red EA : bro Adam

    petinggi red NN : Aik

    peringgi red DD. : Yuwi

    petinggi red WW : Sulung


    “Bro Laras tolong koordinasi dengan Troller untuk beresin proses Unity gabung ke RED,” tambah Eken. “Mohon kerja samanya ya…” pungkas Eken yang disambung dengan kesediaan dan dukungan semua yang hadir. Didi menambahkan usulan agar masing-masing pemilik def memberikan akses kepada koordinator def agar mudah memenej def.


    “Saya sedang menyelesaikan peta anggota kita,” Ruby menambahkan. “Dengan hasil pengisian form yang masuk nanti akan tergambar peta desa-desa attack dan def kita. Berdasar peta itu, bisa disusun koordinator def per wilayah yang memiliki akses def di areanya, sehingga tiap kali butuh def, lebih mudah menghitung berapa def yang bisa terkumpul dalam sekian menit atau jam.”


    “Jadi mohon bantuannya untuk sosialisasikan ke anggota agar mengisi form yang telah dibagikan selengkap mungkin,” lanjut Ruby lagi yang diiyakan yang lainnya.


    •••



    “Bu, itu gimana koordinator arte?” tanya Dicky pada Ruby, dalam perjalanan pulang dari aula Frea ke rumah mereka. “Saya ga ngerti gimana cara mengkoordinir arte untuk Ally, ngertinya mah tinggal jalan ambil buat sendiri aja…”


    “Tenang aja Om,” Panjul menjawab pertanyaan Dicky sebelum Ruby membuka mulutnya. “Nanti pasti kita bantuin koq. Yang penting salah satu dari keluarga kita ada yang jadi koordinator arte, jadi konsep manajemen arte seperti yang di kepala si emak ini bisa diterapkan,” lanjutnya sambil menunjuk Ruby. “Ya kan MAK?”


    Ruby spontan menjitak kepala Panjul. Ia sebal sekali jika adiknya ikut-ikutan memanggilnya emak. Tapi tak urung ia tersenyum ke arah Dicky sambil mengangguk mantap sebagai jawaban pertanyaannya.


    “Tapi bagaimana dengan Gin?” cetus Laras dengan nada pesimis. “Anak seperti itu memenej arte, apa ga berantakan nantinya?”


    Ruby kembali tersenyum, kali ini ke Laras. “Pasti ada alasan Eken mencantumkan nama Gin, betapapun dia adalah salah satu leader tim kecil di RED. Dan toh arte masih beberapa bulan lagi. Masih ada waktu untuk Ruby menyamakan isi kepala dengannya, juga waktu bagi buat Eken untuk mengevaluasi efektif tidaknya struktur kepengurusan nantinya.”


    Laras masih bermuka masam. Menetapnya anak EA di area capitalnya nampaknya benar-benar membuatnya menyangsikan apapun yang berbau nama Gin.


    “Unity bagaimana perkembangannya Ras?” Ruby mengalihkan pada topik baru.


    “Sebagian besar sudah dicek dan siap pindah, tinggal tunggu aku perluas kedutaan agar bisa menampung mereka. Tinggal sedikit lagi yang belum aku cek. Sementara beberapa yang sudah jadi farm kuras tak perlu aku cek, kita tinggalkan saja,” lapor Laras. Ruby pun tersenyum puas.


    Tapi senyum itu pupus begitu sampai gerbang depan rumah, mereka telah disambut wajah kesal Syaf.


    “Anak EA settle di 7*7 ladangku,” keluhnya.


    “Lagi?” Ruby menghela nafas…


    •••

    "The most blessed leader is one who loves the people, and -in return, they love him" (Mohammad PBUH)


    If ur depressed ur living in the past. If ur anxious ur living in the future. If ur at peace ur living in the present" (LaoTzu)


    https://wbb.forum.travian.com/user/45099-swann/#about

    The post was edited 4 times, last by swann ().

  • Chapter 11. Ea... Ea...

    Part three. Desperate Internal Manager


    Pertemuan di aula Frea kembali diadakan. Di awal terbentuknya RED, diskusi rutin tiap hari atau bahkan dua kali sehari menjadi penting untuk kesatuan gerak mereka. Ruby kembali mengingatkan tentang settling di personal space teman, berkaitan dengan kasus Syaf yang menyusul kasus Dicky dan Laras sebelumnya. Tapi bukan hanya itu agendanya.


    “Timtam sudah pindah dari Unity ke EA,” ujar Laras. “Bukannya sudah dibuat sistemnya untuk peleburan Unity melalu sitcek dan dimasukkan ke CC ya. Tolong biasakan bermain dengan sistem biar rapih, kalau ada yang tak sesuai sistem dikonfirmasi dulu, kita punya leader yang bikin sistem,” protesnya.


    “Timtam rekomendasi dari teman itu,” dalih Gin. “Sepertinya teman bro Laras juga…”


    “Saya tidak kenal,” tukas Laras. “Baru juga mau sitcek, sudah pindah ke EA…”


    “Bro Gin tolong dikoordinasikan,” tanggap Eken. “Soalnya Unity banyak tanaman seberang, jangan diterima dulu. Timtam coba diarahin buat ke CC, buat di cek sitter dulu sama bro Laras.”


    “Saran saya sih semua ditampung dulu di CC,” timpal Ron, “jangan disebar-sebar.”


    “Timtam satu ally dengan saya sebelumnya,” protes Gin. “Masih perlu ke CC juga? Saya garansi deh om untuk Timtam,” tawar Gin.


    “Kemarin sudah dibuat plan, bro,” jawab Eken. “Arahkan ke cc dulu aja. Saya juga kenal anak unity, tapi saya arahin ke CC.”


    “Siapa aja om?” tanya Gin. “Misal gini, ada temen kita kenal baik, baru daftar dan dia ingin gabung, harus ke CC dulu gitu?” nada Gin mulai meninggi


    “Ikuti kesepakatan dulu Bro,” tegas Eken.


    “Bro Gin, tolong semua ikut aturan yang sudah dibuat biar semua merasa adil,” timpal Ron lagi. “Mohon pengertiannya bro, makasih.”


    “Kita kembali ke semangat RED ya,” Ruby mengingatkan. “Siapapun kita: pemain lama maupun baru, tim lama maupun seteru lama di server sebelumnya, maupun yg baru ketemu di server ini, akan bermain bersama dalam satu sistem yang sama. Untuk itu perlu rendahkan ego masing-masing kita untuk jalankan sesuai alur yang telah disepakati. Kita tidak ingin anggota baru RED langsung masuk ke ally-ally yang sudah ada, untuk menghindari kesan bahwa RED terdiri dari beberapa family. Saat ini boleh dikatakan identitas HEA dan PB sudah sepenuhnya hilang atau lebur. Dan kami tidak ingin ada kesan bahwa EA memiliki identitas dan sistem tersendiri di dalam sistem yang kita sepakati.”


    “Jadi prioritas saat ini menguatkan yang sudah ada di AA, DD, EA, dan menggembleng anggota baru di CC,” papar Ruby lagi. Ia tidak menyebutkan WW dan NN karena dianggapnya itu berisi personal defender anggota yang lain. “Jadi diharapkan ketika nanti hasil evaluasi mengatakan kita siap untuk penataan ally sesuai tim kerja, kita bermaksud merombak AA, DD, EA, CC berdasarkan pembagian tugas tsb menjelang arte (yg detilnya msh sgt tergantung hsl evaluasi nanti).”


    Ruby membuka gulungan berisi data anggota dan peta yang dipegangnya. “Ini adalah peta kita saat ini,” tunjuknya. “Dari sini kita bisa lihat kekuatan klastering EA di sentral, sementara sebagian AA ada juga yang klastering nya di sentral. Di perifer telah terisi mayoritas anak AA, sebagian anak CC dan juga EA. Klaster WW 100/100 msh blm cukup optimal. Karenanya, Ruby pribadi melihat masih banyak pe-er untuk mengolah anggota baru di CC dulu, terutama yang belum memiliki desa kedua, agar bisa lebih diarahkan ke perifer dan 100/100 agar area padat di sentral bisa ditata lebih baik. Dan ke depannya, seluruh anggota RED yang di sentral juga berada di bawah satu koordinasi.”


    Masih banyak yang menyesak di kepala Ruby, tapi sang internal manager itu mencukupkan paparannya sampai di situ dulu. Ia berharap apa yang ia tekankan menghasilkan sinergi dan penataan RED di seluruh penjuru kuadran menjadi lebih mantap. Semua mengangguk-angguk, termasuk Gin. Dan di antara semuanya, Ron-lah yang paling antusias mendengar paparan Ruby.


    •••


    Ron menahan Ruby untuk tak pulang dulu selepas pertemuan itu. Keprihatinan terpancar dari wajahnya.


    “Koq aku merasa EA seperti aliansi di dalam aliansi ya Mbak,” keluhnya.


    Ruby menghela nafas. “Aku juga merasa begitu. Setelah dua kasus pelanggaran personal space yang Ruby bilang masih bisa ditolerir kalau mereka beralasan tak paham rule, hari ini mereka ulang lagi pelanggaran itu. Dan hasil pengumpulan form data juga tak menggembirakan. AA, DD, dan CC sudah terkumpul 70-an persen, sementara anak EA tak sampai 20 persen yang merespons form tersebut. Bagaimana bisa bersinergi jika memperkenalkan diri dan memberitahu bagaimana mereka bisa dihubungi pun tak mereka lakukan...”


    “Dan dari 20 persen anak EA yang merespons dan memberikan datanya, hanya dua orang yang memenuhi undanganku bergabung ke jamuan besar seluruh anggota di pelataran Mansion Frea,” timpal Ron. Ron memang membuat jamuan besar yang terbuka bagi seluruh anggota RED untuk mengakrabkan mereka. “Bahkan Gin pun tak mau bergabung di forum itu, terlalu ramai katanya. Bagaimana bisa bersinergi kalau upaya mengenal atau bahkan untuk sekedar bisa dikenal anggota tim yang lain pun tak mereka lakukan…”


    Ruby menghela nafas. Padahal sinergi dengan EA sangat penting baginya. Mayoritas anggota EA berada di sentral. Begitu pun dirinya, Laras, Syaf, juga Didi, dan beberapa anggota AA lainnya.


    •••


    Ruby pulang tanpa berhasil merumuskan jawaban bersama Ron. Penat, ia telungkupkan wajahnya ke meja perpustakaan. Hanya demi mendapati keningnya terantuk sepucuk surat yang tergeletak mungkin sejak beberapa jam sebelumnya.


    “Selamat Malam Om Kaya...

    Saya KECOA, disuruh komando pusat disuruh pindah melebur. Mohon izin kalau diizinkan dan ada slot kosong, saya mau bergabung ke tempat Om saja. Sekalian mohon izin buka desa baru deket desa 2 Om Kaya ya…”


    Ruby menautkan alisnya. Kecoa ini salah satu pemain yang Laras laporkan sebagai tak layak bergabung. Perkembangannya lambat, tak merespons komunikasi dengan baik, dan Laras berkeras tak mau mengundangnya ke CC. Dan sekarang anak itu mengirim pesan ke Ruby minta diundang ke ally Ruby, yang itu berarti ke AA? Diambilnya pena, ia tulis jawaban.


    “Ini dengan bro siapa? Sebelumnya pernah bermain di mana saja bro? Bagaimana cara saya bisa menghubungi bro secara langsung?

    Orientasi main attack/def? Dan rencana mau settle di mana bro? Tolong berada di luar 13x13 (area radius 6petak) dari caps kaya ya...

    Untuk bergabung, silakan set sitter ke Beast, untuk dilakukan pengecekan. Tks.

    Salam, Kaya”


    Tak berapa lama setelah ia mengirim, kurir kembali membawa balasan dari si Kecoa.


    “Waduhhh… pertanyaan semua... jawab yang mana neh???

    Sudah disitter sama Beast, lantjar djaja.”


    Ruby geram dengan balasan singkat dan tak menjawab pertanyaan itu. Pantas Beast juga tak sreg setelah mengecek orang ini, pikirnya. Ia minta kurir menunggunya menulis balasan.


    “Ini dengan bro siapa? Sebelumnya pernah bermain di mana saja bro? Bagaimana cara saya bisa menghubungi bro secara langsung?

    Pertanyaan-pertanyaan itu yang saya minta tolong dijawab bro…”


    Baru saja Ruby hendak mengangsurkan kertas balasan itu pada kurir, sudut matanya menangkap aktivitas bongkar muat gerobak imigran tak jauh dari ladangnya. Satu kastil baru berdiri, hanya berjarak empat petak dari ladangnya. Tertulis di gerbang kastil baru itu, “Kecoa, Aliansi RED|EA, desa baru.”


    “Kurang ajaaarrrr!!!” teriak Ruby seketika, mengagetkan sang kurir.


    •••

    "The most blessed leader is one who loves the people, and -in return, they love him" (Mohammad PBUH)


    If ur depressed ur living in the past. If ur anxious ur living in the future. If ur at peace ur living in the present" (LaoTzu)


    https://wbb.forum.travian.com/user/45099-swann/#about

    The post was edited 1 time, last by swann ().

  • Update chapter baru...

    Tapi maaf belum diedit format font, quote/spoiler, dll nya

    Juga belum sempat insert siggy unyu2nya Ruby+Panjul :S

    Edit dari hp stlh update forum wbb baru ini malah susah :|


    Di bagian ini, mulai makin banyak konflik antara Gin si topi jerami of EA dengan RED secara keseluruhan. phi pingin ulas itu, berkaitan dg preformed ally, pentingnya data di preformed ally dan terlebih lagi di ally yg berisi gabungan. Juga pentingnya pemetaan, alur komunikasi, tapi nanti lagi deh...


    Silakan dibaca aja dulu, krisan utk konten cerita dan manajemennya ditunggu yaaa... Tenkyu

  • mantap mba phie langsung dua part.

    makin penasaran kelanjutanya...:thumbsup::thumbsup:


    emang pasti bakal bnyak gesekan-gesekan dengan menyatukan bnyak individu, bnyak kelompok, tapi itu seruunya.....

    grup wa langsung rame, ada yang left dlll. :):)

    A3doel Alpha D > Ts1
    Ampere ESA > Ts2
    Weber TNR - Sore RZ - Gold RL > Ts5

  • Akhir nya setelah menghabiskan setengah jam (dan 2 gelas kopi item), selesai juga baca lanjutan novel nya mak dokter.. hehe


    Kalau boleh ngasih review, kesan saya ialah walaupun tak ikut bermain di server ini namun kita serasa dibawa masuk ke petualangan Ts5 ini lengkap dengan intrik-intrik dan bumbu-bumbu micin nya.. ^^


    Sempat bernostalgia juga, dulu juga saya dan mungkin beberapa kawan-kawan dimari pernah mengalami masa-masa membentuk ally baru dengan sekumpulan orang-orang baru juga. Beban terbesar nya menurut saya selain leader adalah menjadi internal manager suatu aliansi (kebetulan pernah ada di kedua posisi tsb). Terlebih banyak orang beranggapan bermain travian adalah sekedar asal klik mouse dan have fun saja, but the reality is not as simple like that.


    "Travian adalah seni mengatur dan diatur agar dapat teratur".


    Agar ada nya keteraturan, kita jelas butuh sistem (aturan aliansi dan segala tetek bengek kultur dan budaya nya), nah kesulitan terbesar dalam membentuk suatu aliansi terletak di sebesar apa keinginan para anggota nya ingin masuk, memahami, menjalankan sistem yang ada agar tetap sevisi-misi kedepan? Menurut saya hal ini yang paling fundamental, sebelum kita berbicara soal CFA, CFD, Battle Plan dll. Not so fun as we all thought before right? Hehe


    Saya juga sempat membaca diawal saat mak dokter sempat mengkritik kultur dan budaya bermain travian di Indonesia. Disini saya lumayan senang, ada juga akhir nya yang membahas topik ini. Travian Indonesia jelas butuh perubahan pola pikir (mindset) agar tetap ramai dan berjaya kaya dulu (just info travian 2007 dan 2008 memenangkan penghargaan permainan browser game terpopuler tahun itu). Bagaimana game ini mau tetap eksis bila pemain-pemain baru saja tidak mendapatkan kultur yang akhir nya membuat mereka tetap betah dan bertahan dalam game ini? Sementara sistem yang ada justru membuat player lama dan itu-itu saja yang tetap bertahan (sadly, we all call it "seleksi alam", but its way more deeper than that)


    Haha.. udah ah kepanjangan basa-basi nya, tar malah basi beneran, inti nya kita semua tetap butuh tulisan, sentilan, drama, dll dari mak dokter seperti ini.. saya sudah stok kopi banyak nih mak, tolong dilanjutin ya 8o


    Proud to be Family Member of:


    RK | DiV | AKR | KlimaX | AKL | =MH= | RvN


    The lion and the calf shall lie down together, but the calf won't get much sleep

  • 3 chapter artist nya masih Gin dkk , tp bagus lah kalau Gin dkk rewel , kalau nggak gtu NE terlalu mulus jalan nya :P

    Server 5 Addicted


    14th (Ss 5) | EneMieS (Ss 6) | Renaissance (Ss 7) | Cheval Blanc (Ss 8) | REDQUEENs (Ss 9)


  • Pada bilang menarik, penasaran, n nagih doang... jempolnya mana... ||

    Ndak lanjut ah kalau ndak da jempol #ngancem


    Eh, bukan ding... Memang belum sempat nulis lanjutannya sih. Puntennn... Masih pusing mikirin ujian saianya. Doakan lancar dan bagus hasilnya yaa... :saint:

  • Pada bilang menarik, penasaran, n nagih doang... jempolnya mana... ||

    Ndak lanjut ah kalau ndak da jempol #ngancem


    Eh, bukan ding... Memang belum sempat nulis lanjutannya sih. Puntennn... Masih pusing mikirin ujian saianya. Doakan lancar dan bagus hasilnya yaa... :saint:

    Mak...bukan gmau like

    Saya blm tau dmana tmpt like nya..

    Jrg bgt morum