Struggle of The Heart [new story]

  • Chapter 11. Ea... Ea...

    Part four. FIKES


    “Ini dengan bro siapa? Sebelumnya pernah bermain di mana saja bro? Bagaimana cara saya bisa menghubungi bro secara langsung?

    Orientasi main attack/def? Dan rencana mau settle di mana bro? Tolong berada di luar 13x13 (area radius 6petak) dari caps kaya ya...

    Untuk bergabung, silakan set sitter ke Beast, untuk dilakukan pengecekan. Tks.

    Salam, Kaya”


    Tak berapa lama setelah ia mengirim, kurir kembali membawa balasan dari si Kecoa.


    “Waduhhh… pertanyaan semua... jawab yang mana neh???

    Sudah disitter sama Beast, lantjar djaja.”


    Ruby geram dengan balasan singkat dan tak menjawab pertanyaan itu. Pantas Beast juga tak sreg setelah mengecek orang ini, pikirnya. Ia minta kurir menunggunya menulis balasan.


    “Ini dengan bro siapa? Sebelumnya pernah bermain di mana saja bro? Bagaimana cara saya bisa menghubungi bro secara langsung?

    Pertanyaan-pertanyaan itu yang saya minta tolong dijawab bro…”


    Baru saja Ruby hendak mengangsurkan kertas balasan itu pada kurir, sudut matanya menangkap aktivitas bongkar muat gerobak imigran tak jauh dari ladangnya. Satu kastil baru berdiri, hanya berjarak empat petak dari ladangnya. Tertulis di gerbang kastil baru itu, “Kecoa, Aliansi RED|EA, desa baru.”


    “Kurang ajaaarrrr!!!” teriak Ruby seketika, hingga sang kurir tersentak kaget.


    “Nona baik-baik saja?” tanya sang kurir, sembari memastikan apakah surat yang Ruby tulis barusan telah siap dikirimkan.


    “Tunggu sebentar,” Ruby urung mengangsurkan surat yang baru saja ia tulis. Ia buka kembali kertas tersebut, ada pesan yang ia rasa perlu ditambahkan. Digenggamnya penanya kuat-kuat, giginya bergemeretak menahan geram. Ia siap menumpahkan kemarahannya pada orang tak sopan yang telah ia pesan untuk menjauh dari 13*13 nya namun tiba-tiba menempati personal space-nya tanpa pemberitahuan.


    'Tenang Ruby, tenang…’ akal sehatnya membisikkan kalimat itu, membangkitkan kembali kesadarannya. 'Ruby, kamu adalah internal manager, tugasmu menyelesaikan sengketa-sengketa semacam ini di tengah anggotamu. Jika kau libatkan emosimu di sini, maka ini adalah sengketa pribadimu dengan tetangga barumu. Jika demikian, kamu pun harus menarik diri dari kasus ini, karena tak mungkin kamu bisa tetap bersikap objektif sebagai internal manager di sini…’ Ruby pun menghela nafas perlahan. Diletakkan kembali penanya, ia menata kembali hatinya.


    “...dan bro berada di 13x13 capital saya, jadi saya berharap komunikasi bisa lancar antara kita ke depannya.

    Salam,

    Ruby”


    Akhirnya itu yang Ruby tulis. Dilipatnya surat tersebut lantas ia serahkan pada sang kurir. Begitu sang kurir berlalu, berkelebat di pikirannya daftar pelanggaran personal space yang sudah EA buat. Setelah 13*13 Beast, sunset, Syaf, kini kaya. Ada apa dengan EA hingga seolah menguji kesabaran tim RED, terutama dari HEA. Rasanya koq begitu sistematis yang EA lakukan untuk melemahkan teman. Ruby menghela nafas. Terpikir olehnya untuk kembali mengadu ke Ron. Niat itu belum terlaksana ketika balasan dari tetangga barunya datang tak lama kemudian.


    “Siap om,” jawab si tetangga baru dalam suratnya. “Salam kenal, saya Bulezz. Kontak-kontak aja om kalau butuh apa-apa…”


    Jawaban terbaru itu sedikit menurunkan tensi Ruby. ‘Setidaknya orang itu membuka diri’, pikir Ruby. ‘Mungkin aku hanya perlu mencoba pendekatan baru untuk mendapatkan solusi’, pikirnya lagi. Ia pun bergegas ke dapur.


    •••


    Ruby berjalan dengan ringan. Wangi tercium dari makaroni schotel di nampan yang ia bawa. Dimasukinya gerbang kastil “KECOA” yang baru saja menjadi tetangganya. Seorang pria berpenampilan jenaka menyambutnya.


    “Terima kasih… Wah, repot-repot, malah saya yang pendatang baru belum kasih apa-apa,” seru Bulezz si tetangga baru dengan nada malu ketika menerima nampan dari Ruby. “Maaf saya panggilnya om dari kemarin, ga ngira kalau kaya itu mbak-mbak,” lanjutnya lagi. Ia letakkan nampan Ruby ke mejanya. Dan ketika ia menarik tangannya, sebuah batu nampak mencolok di cincin yang melingkari jari manisnya.


    “Klawing,” gumam Ruby tanpa sadar. Cukup keras gumamannya rupanya untuk bisa didengar orang lain. Bulezz spontan tertawa.


    “Tahu aja sih mbak,” agak terkekeh Bulezz ketika berkomentar itu sambil menunjukkan cincinnya.


    Pantas saja Ruby merasa familiar dengan Bulezz. Di jamuan besar RED yang Ron adakan, hanya ada dua orang yang hadir dari EA. Satu orang yang tasnya penuh berisi snack coklat dan gemar membagi-baginya ke siapa saja, itu Timtam. Dan satu lagi yang memamerkan koleksi batu akiknya, Klawing. “Klawing itu satu sungai di Jawa Tengah, banyak batu bagus yang berasal dari sana,” papar Klawing waktu itu tanpa diminta. Klawing itu Bulezz rupanya.


    “Desa Kecoa milik Bulezz?” tanya Ruby. “Lalu Klawing?”


    “Klawing kurang bagus perkembangannya,” sahut Bulezz ringan. “Kebetulan ada teman yang berhenti bermain, desanya terlantar, tapi nampaknya lebih berprospek. Jadi saya lanjutkan saja desa Kecoa ini. Lalu daripada di Unity ga jelas, saya minta Gin masukkan saja ke EA”


    Ruby manggut-manggut. “Desa baru di sini juga arahan Gin?” selidik Ruby.


    “Nggak,” kilah Bulezz. “Saya cuma tau EA niat merapat di sentral. Ya saya ke sini saja, ladangnya bagus. Di area Natar, ngumpul dekat teman-teman. Kebetulan dekat tempat mbak juga.”


    Ruby bergumam. “Tapi ladang om cuma 9 tombak, tak terlalu luas. Oasis juga tak terlalu banyak. Dan karena sebagian oasis bersinggungan dengan area Ruby, pasti akan mengganggu perkembangan desa Om atau desa Ruby nantinya,” papar Ruby.


    “Ga pha-pha,” sahut Bulezz. “Kalau dibutuhkan, buat Kaya saja. Kecoa mungkin ga akan ambil terlalu banyak. Yang penting saya mah dekat sama teman-teman. Bukan juragan emas koq saya, hahaha…”


    Ruby geleng-geleng kepala kali ini. Orang ini benar-benar menggampangkan segalanya. Dalam bahasa pesan tertulis, itu benar-benar menyebalkan. Tapi melihat raut jenaka di wajah orang itu membuat penilaian Ruby sedikit berbeda. Sedikit optimisme muncul, setidaknya orang itu paham arah besar permainan dan memiliki inisiatif. Tak seperti kebanyakan anak EA yang setiap melangkah hanya berpedoman ‘sesuai arahan komandan Gin’.


    Ruby jadi ingat Timtam. Pemain satu itu juga cenderung independen dalam melangkah. Ladangnya bahkan ia pilih bukan di sentral, malah lebih dekat ke klaster Ron, Oyode, dan anak-anak ex Hobbit. Timtam juga begitu aktif merampok, dan terlihat paham benar arah permainan yang ia inginkan. Dan tak seperti anak-anak EA lain yang tertutup, Timtam dan Bulezz cukup bersosialisasi di ruang yang Ron buat. ‘Mereka berdua bukan dari lingkaran pertama Gin?’ Ruby bertanya-tanya dalam hati. Ia tak mau menerka-nerka lebih lanjut. Tapi tersimpan harapan besar di benaknya, untuk bisa perlahan menembus ketertutupan EA, dan mengatur area sentral dengan lebih rapi, sebagai satu tim besar RED.


    •••


    Ruby tak langsung pulang ke rumah setelah berkunjung ke tempat Bulezz. Ia mencari Adam.


    “Dam, semua anak EA itu tim lama Gin?” tanya Ruby. “Atau ada rekrutan baru?”


    “Sebagian tim lama, Mbak,” sahut Adam. “Sebagian rekrutan baru di sini.” Adam menyebutkan beberapa nama tim lama dan rekrutan baru. Bulezz dan Timtam memang teman Gin, tapi bukan tim yang sejak awal janjian membentuk Dealer. Ruby lantas menghela nafas, sebagian rekrutan baru adalah orang-orang yang sebenarnya pernah meminta bergabung ke Ron, Ruby, atau Didi, tapi tak dinilai layak. Dan Gin, tanpa berkoordinasi dengan yang lain, mengundang mereka ke EA.


    “Yang tim lama, coba Ruby tebak… Fikes?” terka Ruby.


    Adam mengangguk. “Anak-anak Fikes yang janjian untuk bersama lagi di sini menyadari ada rencana tim PB untuk membawa kembali nama ESA. Mereka keberatan dengan itu, makanya mereka usul ada nama baru. Mereka juga keberatan dengan nama Red karena Red itu identik Sulung banget, dan notabene sebagian anak Fikes adalah seteru lama Sulung. Tapi setelah duduk bareng bahas tag baru yang akhirnya tetap dengan nama Red, mereka bisa menerima juga pada akhirnya…”


    “Jadi seharusnya itu sudah tak jadi penghalang untuk bersinergi ke depannya dong…” komentar Ruby.


    “Seharusnya,” sahut Adam. “Hanya saja EA juga minta dimengerti. EA itu tipikal nya santai, jadi mereka merasa gaya mbak yang terlalu otoriter dan serius, ga masuk ke mereka…”


    “Heh?” protes Ruby. Adam nyengir.


    “Jangan salah, meski santai, mereka sebenarnya bertarget koq,” lanjut Adam lagi. “Kali ini mereka menargetkan seru-seruan di sentral.”


    “Ruby sadar itu koq,” sahut Ruby. Ia jelas memperhatikan settling anak-anak EA. “Ada rencana mengambil keajaiban dunia di sentral?”


    “Kemungkinan iya, Mbak,” jawab Adam mengambang. “Teman-teman minta pembagian tugasnya gimana Mbak. Kalau memang EA mau diarahkan di sentral, mereka siap, asalkan tim inti mereka jangan terlalu diobok-obok…”


    “Diobok-obok?” tukas Ruby.


    “Ngg…” Adam menggaruk-garuk kepalanya. “Mereka merasa dengan sitcek, pengaturan settling, dll itu mencampuri dan merugikan internal mereka…”


    “Adam, you know what?” Ruby menjajari Adam lalu membentangkan peta travian land di hadapannya. “Kalau memang EA mau fokus area sentral termasuk area Natar, itu bagus,” Ruby menunjuk area abu-abu di tengah peta dan melebar sedikit di timur laut. “Berarti nanti tinggal sisa RED diarahkan ke ww dan perifer.”


    “Hanya saja, Adam perlu ingat bahwa bicara tentang pengaturan sentral sebagai satu battle group, itu berarti juga melibatkan warga RED lain yang bukan EA yang ada di sentral. Ada Beast, Syaf, babe Didi, Dyah, dkk…” tambah Ruby. “Ini sangat butuh pengaturan agar semua potensi optimal demi kuadran. Itulah Dam, kenapa Ruby cerewet sekali soal rule settling/chiefing, dll. Kalau Ruby butuh sitcek, data, itu memang sepatutnya Dam, jangan ditafsirkan sebagai bentuk mengobok-obok…”


    Adam manggut-manggut. “Aku sih paham mbak,” ujarnya. “Aku coba komunikasikan dulu mbak. Membangun trust mereka ke mbak juga butuh waktu…”


    Ruby mengerutkan keningnya.


    “Iya,” terang Adam. “Di EA beredar isu bahwa Ruby adalah tangan tenggara, dan bermain untuk kepentingan mereka. Itu juga yang membuat anak-anak EA ga mau dengar Ruby…”


    Ruby membelalakkan matanya.


    “Jangan ke aku mbak, marahnya…” sergah Adam. “Eken dan Ron juga sudah meyakinkan mbak itu kayak gimana. Tapi EA belum kenal mbak, butuh waktu, mbak…”


    “Kamu sadar kan Dan, peran besarmu di awal untuk menyatukan PB dan Dealer seperti yang Ron bilang kan? Yang berarti sekarang untuk peleburan EA ke dalam RED sepenuhnya?” Ruby mengingatkan.


    “Sadar banget mbak,” tegas Adam. “Sejak awal aku dah bilang ke Ron, aku juga ESA koq, cuma dah telanjur janji duluan untuk bareng Gin dan tim. Aku bukannya ga berusaha mbak, untuk satukan, tapi karakter teman-teman di EA ga segampang itu didikte harus begini dan begitu. Ron berulang kali menuding EA sebagai aliansi di dalam aliansi, tak bisa diatur, dan itu salahku?” protes Adam. “Dan puncaknya Ron mengusirku dari ruang besar ESA. Aku harus bagaimana mbak? Kalau memang usahaku tak dianggap, dan EA akan pecah perang dengan RED, aku lebih baik jadi pertama yang evaporate. Tak sanggup aku berada di tengah perang kedua keluargaku…”


    Ruby menghela nafas. Adam mengingatkannya pada sosok Ken di server sebelumnya. Dan ia benar-benar khawatir, jika Gin si topi jerami, memiliki ego sebesar Erlan…


    •••



    "The most blessed leader is one who loves the people, and -in return, they love him" (Mohammad PBUH)


    If ur depressed ur living in the past. If ur anxious ur living in the future. If ur at peace ur living in the present" (LaoTzu)


    https://wbb.forum.travian.com/…p?user/45099-swann/#about

    The post was edited 2 times, last by swann ().

  • 1 jam lebih baca novel nya tante phi.. mantap :( byk kisah juga nih, semoga bisa segera mood menulis byk kisah di travian

    ❤ We are proud as a member a[L]s family ❤

    =====================================

    Alexis Garis Keras

    idts7-MADE.png

    -------------------------------------

    a[L]s - RED - Giants - SALS - NLs - RAPtors

    =====================================

    ✮✮✮✮✮✮✮✮

    a[L]s Win [s3 sesi1(2009) && s9 sesi1(2011) && ts3 sesi6(2014)]

    RED Fam Win ts8 sesi1(2012)

    Giants Fam Win ts3 sesi 6(2013)
    CNC Fam Win ts1 sesi 7(2015)

    NLS Fam Win ts20 sesi1(2016) EU x2
    RAP Fam Win [ts3 sesi8(2017) && ts3 sesi9(2018)]

    ✮✮✮✮✮✮✮✮