Negeri Tanah Liat

The forum will be offline for around 2 hours on Tuesday, December 17th starting from 12.30 GMT+1.
  • Kini, kita telah ada dari tiada. Lantas pernahkah kita bertanya untuk apa kita ada? Pahamkah kita bahwa setelah ada kita kita pun akan kembali tiada.


    Roman hanya termangu ketika seorang sahabatnya pergi. Ia begitu merasa kehilangan. Padahal, ia pernah menjalani hidup dengan baik sebelum kenal dg sahabatnya itu.


    Roman tak mengerti, mengapa sahabat yang satu ini terasa begitu berbeda. Berpisah dengan sahabat bukan hal yg pertama bagi Roman. Telah puluhan kali ia mengalami hal nan serupa, namun entah mengapa kali ini terasa begitu berbeda bagi Roman.


    Bersambung...

  • Pagi baru saja menyambangi bumi. Embun-embun juga masih betah bermain-main di ujung-ujung lancip rerumputan. Tapi, Roman melihat Tatiana sudah duduk termenung di tepian danau. Matanya memandang jauh ke tengah danau, seakan sedang mengharapkan sesuatu keluar dari dasar danau.


    Rasa ingin tahu membawa Roman melangkah mendekatinya. Tatiana hanya acuh. Bahkan saat Roman duduk di sampingnya pun ia tetap acuh. Padahal biasanya ia selalu antusias jika bersama Roman.

    Kepada Roman, Tatiana selalu bercerita tentang semua kisah yang pernah singgah padanya.


    Ya, begitulah biasanya. Tatiana tidak pernah ragu bercerita tentang apa pun pada Roman. Entah mengapa Tatiana begitu, apa mungkin karena ketika ia sedang bercerita Roman selalu mendengarkannya dengan sungguh-sungguh?


    Roman memang tidak pernah memperlihatkan rasa bosan saat Tatiana bercerita, walau terkadang ceritanya tidak begitu menarik bagi Roman.


    Suatu ketika ia menceritakan pengalamannya saat kecil dulu diajak ayahnya ke kota. Katanya, banyak keanehan yang ia lihat selama di kota waktu itu.


    “Contohnya apa?” tanya Roman memancing ingatan Tatiana.


    “Hmm, apa ya? O iya, di kota banyak anak-anak yang meminta-minta uang. Kata ayah, mereka itu pengemis dan tidak sekolah. Tapi mengapa mereka tidak sekolah ya Rom?” Tatiana mengakhiri kalimatnya dengan sebuah pertanyaan yang entah ditujukan pada siapa.


    “Itu mungkin karena orang tua mereka tidak mampu menyekolahkan mereka.” Roman menjawab seadanya.


    Sementara, fikiran Roman melayang jauh. Ia teringat dengan anak-anak jalanan yang makin lama makin menjamur di kota-kota. Dan keberadaan mereka seakan luput dari perhatian negara.


    Mungkin ada benarnya juga komentar iseng temannya di kampus dulu, bahwa di negara ini anak yatim dan anak-anak terlantar dipelihara di jalanan negara. Padahal, semestinya, mereka itu dibiayai dan menjadi tanggungan negara, bukan malah menjadi tunggangan tokoh-tokoh politik saat memperebutkan kursi pejabat negara.


    Bersambung...

  • ada inkonsistensi PoV. Di awal menggunakan diaan (sudut pandang orang ketiga, Roman) lalu berubah jadi sudut pandang orang pertama (aku)


    roman dan tatiana ini backgroundnya mana, itu kampus dan negara mana yg ujug2 dimunculkan sbg latar


    ditunggu lanjutannya...

    "The most blessed leader is one who loves the people, and -in return, they love him" (Mohammad PBUH)


    If ur depressed ur living in the past. If ur anxious ur living in the future. If ur at peace ur living in the present" (LaoTzu)


    about me - read my novels: Lil Happy Fam ; Dawning Day ; SoTH ; Scratches

  • ada inkonsistensi PoV. Di awal menggunakan diaan (sudut pandang orang ketiga, Roman) lalu berubah jadi sudut pandang orang pertama (aku)
    roman dan tatiana ini backgroundnya mana, itu kampus dan negara mana yg ujug2 dimunculkan sbg latar


    ditunggu lanjutannya...

    Tul bu dokter. Editing nya blm fokus tuh.. Efek sadur dari kisah lama jadi ada beberapa kalimat yg belum diedit.. Namun lumayan lah sebagai prolog yg memancing tanya pada pembaca. :D


    Latar nya ntar berlabuh dikuadran mana? Karena pada akhirnya tetap akan bercerita seputar kisah travian.. Dan pandangan mereka yg bukan travianer terhadap dunia travian.

  • Tatiana tidak pernah ragu bercerita tentang apa pun pada Roman. Entah mengapa Tatiana begitu, apa mungkin karena ketika ia sedang bercerita Roman selalu mendengarkannya dengan sungguh-sungguh?


    Begitulah biasanya. Tapi pagi ini sikap Tatiana sangat lain. Ia duduk bermenung di tepi danau. Sesuatu, yang Roman tahu, tidak pernah dilakukannya. Malah ia yang sering menegur saat Roman sedang larut dalam lamunan.


    Tatiana sangat dekat dengan Roman. Seolah ia telah menganggap Roman sebagai saudara kandungnya sendiri. Padahal Roman hanyalah salah seorang pekerja ayahnya.


    Sebulan yang lalu Roman sengaja datang ke daerah danau itu untuk melakukan penelitian. Saat kehabisan biaya, maka Roman melamar kerja pada juragan Khaidir, ayah Tatiana. Sejak saat itulah Roman menjadi salah seorang pekerja juragan Khaidir yang bertugas memberi makan ikan karamba.


    Tiap hari Roman harus mendayung biduk untuk sampai ke karamba. Awalnya Roman agak takut, karena ia tidak pandai berenang. Jika biduk terbalik tentu bisa tamatlah riwayatnya.


    Diwaktu senggang, setelah memberi makan ikan, Tatiana lah yang sering menemani Roman. Kadang ia sengaja datang ke pondok karamba hanya untuk bercerita. Tapi pagi ini Tatiana terlihat begitu aneh.


    “Sejak kapan Tatiana suka bermenung, ” gumam Roman.


    Kehadiran Roman kali ini bahkan tidak berarti apa-apa bagi Tatiana. Agaknya ada masalah yang sangat membebani fikiran gadis itu. Sekian waktu Roman bergelut dengan fikirannya dan mengira-ngira masalah yang sedang membebani Tatiana. Tapi Roman benar-benar tidak bisa memperkirakannya. Sehingga ia memutuskan untuk bertanya langsung pada Tatiana.


    Roman menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Tatiana. Tapi ketika ia hendak bertanya, Roman terkejut. Suaranya tidak keluar sedikit pun.


    Ditariknya nafas dalam-dalam dan diulangi usahanya untuk bertanya. Tapi tetap saja Roman tidak bisa bersuara. Dicobanya teriak, suaraku tercekat saat sampai di tenggorokan.


    Roman benar-benar bingung. Sejenak dihentikannya upaya untuk bisa bersuara. Tangannya hendak digerakkan ke pundak Tatiana agar dia menoleh ke Roman. Belum sampai tangan Roman menyentuh pundaknya, tiba-tiba Tatiana mengeluarkan sehelai kertas dari kantong bajunya.


    Roman terkejut, hampir terlonjak dari duduknya. Gerak tangan Roman yang akan menyentuh pundak Tatiana menjadi tertahan. Roman kenal betul dengan kertas yang ada di tangan Tatiana itu.


    Tatiana seperti masih belum menyadari keberadaan Roman disampingnya. Ia acuh saja, dibukanya lipatan kertas itu dan membaca kalimat-kalimat nan tertulis dikertas itu dengan pelan.


    “Lelaki itu terbujur di pagi hitam
    Sekujur tubuhnya robek penuh luka
    Tapi, ia masih mampu bernafas, walau pelan


    Lelaki itu terhempas dalam derita
    Anak-anak terbaiknya sembunyi entah dimana
    Sehingga yang tersisa hanyalah anak-anak terliciknya


    Lelaki itu memuntahkan darah
    Ia telah menjadi tumbal anak-anaknya yang serakah
    Dan, jiwanya pun kembali terjajah


    Lelaki itu terbujur di pagi hitam
    Ia Ksatria tak bernama
    Yang terlahir dari rahim Travian Land
    (September, 2018)


    Bersambung...

  • mantap om.. ditunggu lanjutan nya


    Proud to be Family Member of:


    RK | DiV | AKR | KlimaX | AKL | =MH= | RvN


    The lion and the calf shall lie down together, but the calf won't get much sleep

  • wah, keren-keran ulasannya.

    padahal banyak cerita & inspirasi lho dari tiap server yang berjalan,

    dari pola permaian, emosi hingga kopdar oleh beberapa pemain.

    semua ada harga yang harus dibayar khususnya waktu,


    menurut gw hoby itu mahal, untuk mendapatkan kepuasan

    kita harus berani mengganti dgn yg kita miliki or tidak dimiliki.


    walau ada hoby yang dibayar, tetapi tetap saja ada perjuangan

    dan perjuangan itu sendiri termasuk pengi\orbanan


    dalam dunia permainan ini melibatkan banyak pihak,

    mulai dari karakter para pemain, kasta & sosial.

    gw gk pandai merangkai kata, juga gak pandai menulis cerita,


    namun banyak juga sisi positif dari permainan ini,

    kita belajar bersosial, menjalin hubungan bertahan & konsisten tentunya

    semua itu akan membentuk kebijakan kita dalam menentukan goal,

    memperjelas, menjalankan misi & meraih visi terbaik.


    yang notabene bisa diterapakan dalam dunia real,

    karna para pemain juga termasuk real human,

    jadi tidak ada bedanya ketemu or hanya via online.


    "semoga real life tidak mengganggu aktifitas travian kita" wkwk

    Ada Domain Gratis

  • Derap kaki kuda masih terdengar sayup. Namun hal itu sudah cukup membuat penjaga menara kastil tergopoh menuruni tangga. Ia bergegas menuju ruang pertemuan para Jenderal Perang.


    "Lapor jenderal, ada suara derap kaki kuda terdengar dikejauhan. Sepertinya sedang menuju ke wilayah kita," ujarnya dengan nafas yg masih tersengal.


    Semua yg ada diruangan itu pun spontan menoleh serentak ke penjaga menara. Hening sesaat, lalu mereka saling pandang tanpa kata. Hanya sorot mata dan kerut dari mereka memberikan makna.


    "Kamu yakin kalau itu suara derap kaki kuda?, " suara Roman memecahkan sepi ruangan itu.


    Ia lantas berjalan mendekati prajurit penjaga menara yg datang melapor.


    Bersambung...

  • nyoba baca..;)

    Playing without cheating is a testament of true skill.

    Serviens in Lumine Veritatis

    JANGAN TANYA KERJAKU TAPI LIHATLAH HASILNYA NANTI

    KECIL TUBUHKU,BESAR KARYAKU,MENJULANG TINGGI MENGGAPAI CAKRAWALA

    UNMUS MERAUKE

  • Dejavu Juveda Vujeda


    Ksatria aneh itu menarik tangan Tatiana dengan agak kasar. Membawanya keluar dari kastil menuju gerbang Barat Laut. Disana sudah menunggu seekor kuda jantan berbulu hitam dengan empat kakinya belang putih.


    Tatiana sebenarnya bisa berontak jika memang ingin melepaskan diri. Toh Si Ksatria berpakaian aneh tersebut hanya terlihat seperti membimbing tangan Tatiana walaupun awalnya menarik dengan agak kasar.


    ***


    Kejadiannya berlangsung cepat dan diluar dugaan Roman. Entah darimana datangnya, tiba-tiba saja Ksatria berpakaian aneh tersebut telah berada dalam kastil Jingga milik Roman. Belum lepas kejut Roman, Ksatria itu langsung saja membawa Tatiana yang ketika itu sedang berdiri dekat jendela sambil melepas pandang ke kejauhan.


    Pakaian yang dikenakan Ksatria itu memang tak biasa. Stelan baju kaos lengan panjang dengan kupluk di kepalanya plus celana jeans, tak satu pun penduduk Negeri Tanah Liat pernah menggunakannya. Baik saat bertani apalagi saat berburu dan berperang. Andai dibahunya tak ada Busur Theutates mungkin tak seorang pun yang menyangka ia seorang Ksatria Travian Land.


    Seakan kena hipnotis, Roman hanya ternganga mematung melihat kejadian itu.


    "Roman..!!!" suara Tatiana terdengar dari luar kastil.


    Roman tersentak. Sadar akan apa yang terjadi. Ia langsung menyambar Pedang Imperian warisan leluhurnya dan berlari cepat menuju halaman kastil. Namun ia hanya sempat melihat kelebatan Kuda belang kaki sesaat sebelum melewati gerbang Barat Laut.


    Roman lunglai, tertunduk. Jika tangannya tak bertopang pada Pedang Imperian mungkin lututnya sudah jatuh menyentuh tanah..


    "Tatianaaaa...!!" teriakan Roman mengaung sesaat, lantas hilang diredam debu-debu yang berterbangan oleh terjangan Kuda Hitam belang kaki yang melesat dengan cepat..

    ***

    Bersambung...


    Apakah yang akan dilakukan Roman? Nantikan kisah selanjutnya.