Scratches - Tribute to My Dear Panjul

  • Hi all,


    sesuai namanya, ini sekedar coretan saja. loncatan-loncatan pikiran yang bisa jadi berhubungan, bisa jadi tidak. ada yang tentang ts29 2018, ada yang benar-benar masa lalu, ada pula tentang ts3 ss11 yang baru usai.

    oh ya, pe-er utama phi tetap novel SoTH koq, janji yang itu akan phi selesaikan seluangnya phi.


    enjoy, krisan dan jempolnya ditunggu :)

    tenkyu...


    1. Ketika Dek Panjul Pergi
    2. Battle Angel
    3. Lub-Dub (The Travian Gallop)
    • Part one
    • Part two
    • Part three

    "The most blessed leader is one who loves the people, and -in return, they love him" (Mohammad PBUH)


    If ur depressed ur living in the past. If ur anxious ur living in the future. If ur at peace ur living in the present" (LaoTzu)


    about me - read my novels: Lil Happy Fam ; Dawning Day ; SoTH ; Scratches

    Post was edited 1 time, last by swann ().

  • Ketika Dek Panjul Pergi


    20 Agustus 2018

    Ruby tak mampu menahan gelak tawanya melihat anak-anak bermandi tepung di kepala, tangan, baju, dan seluruh tubuh mereka ketika berlomba estafet tepung. sebelumnya muka mereka belepotan margarin dan tepung setelah berlomba mengambil koin yang tertancap di buah pepaya yang telah dilumuri margarin dan tepung dengan mulut mereka. dia masih menantikan adegan berikutnya yang kata panitia akan melibatkan air dalam balon, pasti basah kuyup nantinya. permainan-permainan tak bermutu sebenarnya kalau kata logikanya, tapi bolehlah buat penyegar pikiran, kilahnya dalam hati.


    Ketika itu sebuah kedipan biru menyala di braceletnya, menandakan masuknya sebuah pesan. "Bu, saya mau bimbingan," pesan yang terbaca ketika ia mengklik pesan tersebut. Tanpa perkenalan diri, permisi atau maaf, ataupun maksud jelas mengenai bimbingan apa. Diabaikannya, karena kampus sedang libur, dan kalaupun benar itu mahasiswa yang butuh bimbingannya, buat apa ia susah-susah mengurusi mahasiswa tanpa etika seperti itu.


    Kedipan lain, kali ini warna hijau, kembali menyala di braceletnya. berarti pesan masuk untuk identitasnya yang lain lagi, yang hanya ia tampilkan di depan teman-temannya di travian land. "Pagi bu... siang bisa konsul" Dari id yang sama persis dengan yang baru saja menghubunginya di id yang ia bagi ke publik. Kening Ruby berkerut. Mahasiswa tidak mungkin menghubunginya di id ini. Sementara teman-temannya di travian land yang mengenalnya dengan id kedua ini tidak mungkin menghubunginya di id publiknya. Sebuah ide menyentakkan kesadarannya, membuatnya terloncat dari tempat duduknya. "Panjul!!!" serunya. Segera ia klik untuk menghubungi id tersebut.


    •••


    Telah lebih dari sebulan yang lalu, Panjul mendadak meninggalkan rumah. Tanpa kabar. Tanpa membawa braceletnya, sehingga Ruby pun tak bisa menghubunginya. Tak terbilang berapa kali Ruby marah-marah di kamar Panjul, membanting bracelet Panjul, atau memaki-maki adiknya yang pergi tanpa pamit dan terkesan tak menganggap sosok kakaknya sama sekali. Beberapa kali, itu berakhir dengan Ruby menghempaskan tubuhnya dengan keras ke tempat tidur adiknya, dengan gigi bergemeretak menahan marah, serta lelehan air mata dari sudut matanya. Mamanya biasanya menenangkan Ruby sambil tersenyum, "Mama yakin dia baik-baik saja, nanti kalau sudah waktunya, pasti dia sendiri akan hubungi Ruby..." Tapi itu tak pernah menenangkan hati Ruby.


    Dia yakin benar id yang ia hubungi sekarang ini adalah Panjul. Tapi panggilan itu pun tak dijawab. Marah kembali menghinggapi dada Ruby. Bahkan masih Ruby rasa, ketika id tersebut menghubunginya lagi. Masih tanpa perkenalan dari orang tersebut. Juga tanpa tanggapan emosi apapun ketika tanpa peduli siapa orang tersebut, Ruby meluapkan ekspresi kemarahannya pada Panjul. Ruby semakin marah akan betapa tidak pekanya orang tersebut. 'Panjul, dasar Panjul,' maki Ruby dalam hati. Bahkan jika memang dia bukan Panjul-adiknya, berarti dia lebih panjul daripada Panjul. Karena dia sangat paham Ruby dan perasaan Ruby, tapi menggunakannya untuk mengolok-olok Ruby. 'Sekalian saja, gunakan informasi itu untuk menyerang Ruby dan teman-teman di travian land,' teriaknya lagi. Toh orang itu paham benar betapa rentan Ruby dan teman-temannya tanpa kehadiran Panjul hari-hari itu.


    Ruby lantas menyimpan braceletnya, bersama dengan bracelet Panjul. Ia benar-benar tak peduli lagi. Tak peduli akan Panjul, orang itu yang lebih panjul dari Panjul, atau juga teman-temannya di travian land yang pernah Panjul perjuangkan. Ia rebahkan tubuhnya ke tempat tidur Panjul lagi, kali ini ia menutup matanya, ia hanya ingin tidur, dan berharap begitu bangun adiknya telah kembali ke ruangan tersebut sambil berujar, 'Aku pulang mbak...'


    •••




    "The most blessed leader is one who loves the people, and -in return, they love him" (Mohammad PBUH)


    If ur depressed ur living in the past. If ur anxious ur living in the future. If ur at peace ur living in the present" (LaoTzu)


    about me - read my novels: Lil Happy Fam ; Dawning Day ; SoTH ; Scratches

  • Panjul dengan pelan membuka pintu kamar. Berusaha keras agar pintu itu tak berderit sehingga kedatangannya tidak diketahui seisi rumah.


    Dia sengaja memanjat pagar dan masuk melalui pintu belakang. Sepi, tak ada tanda-tanda ada orang di rumah.


    Dengan hati-hati dia bergegas menuju kamarnya. Kamar yang penuh kenangan dan telah lama dia tinggalkan. Terlebih-lebih kenangan tentang betapa cerewetnya kakaknya. Mengenang itu Panjul tersenyum sendiri.


    Pintu kamar berhasil ia buka tanpa derit. Namun begitu memasuki kamar Panjul terkejut, ada seseorang sedang terbaring di kasurnya. Ia tertegun sejenak, lantas perlahan mendekati sosok itu dan memandanginya penuh rindu.


    "Aku pulang mbak," ucap Panjul lirih.

  • Dengan hati-hati dia bergegas menuju kamarnya. Kamar yang penuh kenangan dan telah lama dia tinggalkan. Terlebih-lebih kenangan tentang betapa cerewetnya kakaknya. Mengenang itu Panjul tersenyum sendiri.


    Pintu kamar berhasil ia buka tanpa derit. Namun begitu memasuki kamar Panjul terkejut, ada seseorang sedang terbaring di kasurnya. Ia tertegun sejenak, lantas perlahan mendekati sosok itu dan memandanginya penuh rindu.


    "Aku pulang mbak," ucap Panjul lirih.

    Waa... makasiih... Terharuu, koq ada yg ujug2 bikin lanjutan corat-coretnya... paragraf terakhir cukup menggelitik perut, hehehe...


    Ah, kalau saja ceritanya semanis itu, segampang itu dek Panjul kembali. Sayangnya masih harus nahan sakit hati lebih lama lagi...

    "The most blessed leader is one who loves the people, and -in return, they love him" (Mohammad PBUH)


    If ur depressed ur living in the past. If ur anxious ur living in the future. If ur at peace ur living in the present" (LaoTzu)


    about me - read my novels: Lil Happy Fam ; Dawning Day ; SoTH ; Scratches

  • Ruby masih tertidur pulas. Sementara Panjul bergegas mencari sesuatu dalam dalam lemari nya.


    "Kenapa tak ada disini lagi ya?"


    "Atau jangan jangan sudah dipindahkan mbak Ruby?" gumam Panjul.


    Ia termanggu sejenak. Memutar memorinya, mengingat-ingat kejadian saat ia memutuskan akan meninggalkan rumah dulu. Semuanya berkelebat dalam fikiran Panjul.


    Hening...


    Tiba-tiba Panjul tersenyum simpul. "Aih, dasar Panjul," gumamnya sambil menepuk jidat.


    Ia ingat dulu, sebelum meninggalkan rumah, masih sempat memindahkan brangkas pribadinya ke tempat penyimpanan rahasia yg tidak diketahui siapa pun, termasuk kakaknya.


    Panjul berdiri didepan cermin berukuran sedang yg ada dikamarnya. Cermin tersebut dipasang sedemikian rupa seakan-akan menyatu dengan dinding kamar. Ia melirik sebentar pada Ruby. Setelah yakin aman ia tempelkan telapak tangannya ke pojok atas cermin.


    "Sepuluh detik," gumamnya sambil mulai menghitung dalam hati.


    Tiba-tiba terdengar desiran halus dan cermin bergerak turun. Dengan sigap Panjul mengeluarkan brangkas dan memasukkan kode angka.


    "Klik..." brangkas terbuka.


    Panjul melirik sejenak pada Ruby. Khawatir kalau-kalau kakaknya terbangun mendengar suara brangkas. Biasanya telinga Ruby sangat sensitif dengan suara-suara yg ada disekitarnya. Namun ternyata Ruby tak bereaksi, ia masih pulas dengan dengkuran halusnya.


    Panjul menghela nafas lega. Dipindahkannya barang dalam brangkas ke ranselnya.


    "Clear..." gumamnya.


    Setelah memastikan keadaan kamar sudah kembali seperti sebelum ia masuk maka Panjul pun bergegas pergi. Sebelum menutup pintu kamar ia kembali tolehkan pandang menatapi kakaknya yg masih pulas dikasurnya. Ia yakin, begitu terbangun Ruby tak akan menyadari kalau adiknya sempat pulang walau sebentar.

  • Battle Angel


    Masih 20 Agustus 2018

    Ruby memang bodoh. Berulang kali menyatakan evaporate, tapi berulang kali juga spawn kembali. Dengan alasan yang bodoh lagi dan lagi. Wajar Panjul melabelinya sebagai ‘Lady Donkey’ karenanya.


    Pun di server yang ini. Yang ia begitu terpukul dengan menghilangnya adiknya sejak lebih dari sebulan yang lalu itu. Seharusnya ia sudah harus benar-benar berhenti. Tapi ada saja bisikan setan yang membuatnya kembali turun.


    Karena Panjul? Bukan. Ruby ingat betul ia hanya tertawa-tawa ketika Panjul mengabarkan server dengan perang besar yang akan dibuka sekitar empat bulan lalu itu. Pun ketika Eken meminta bantuannya, karena ancaman adanya kekuatan besar di tiga kuadran yang akan melawan timnya. Ruby hanya menggeleng waktu itu. Ruby juga ingat ketika beberapa orang yang Eken ceritakan sebagai lawan di tiga kuadran, satu per satu menghubungi Ruby. Ruby mengenal baik mereka semua, dan respek dengan mereka. Sebagian adalah anak-anaknya, ada pula yang pernah menjadi lawan yang lantas menjadi kawan baik di server berikutnya, ada pula kenalan yang saling respek. Ruby berulang kali tersenyum, “I have good friends in all quadrants,” tolaknya dengan halus.


    Hingga suatu ketika di awal Mei 2018.

    "Aku ketemu Battle Angel di server ini mbak," Panjul menceritakan server barunya. "Dia ternyata dualnya ELE di TM."


    Ruby tahu ELE, leader TM, ally pemenang server dengan peta Eropa kuno di domain internasional. Ruby terkesan dengan rapinya cara bermain mereka, mulai dari persiapan premade team-nya, manajemen selama server berlangsung, hingga kemenangan mereka. Karakter ally pemenang yang bermain sebagai tim secara profesional di domain internasional.


    "Dual ELE anak Indo?" tanya Ruby yang dijawab anggukan Panjul. "Wow, cool…" seru Ruby.


    "Dia bikin inactive finder dan defense tools sendiri, yang dipake TM di ROA lho mbak," sambung Panjul. "Dia tipe no klon, kali ini dia main pakai Hun untuk cetak pemanah jitu sebanyak-banyaknya."


    "Pemanah jitu?" tanya Ruby, yang dijawab dengan ocehan Panjul seputar kelebihan pasukan di suku hun itu, suku baru yang sebelumnya hanya ada di RoA atau server berbasis peta Eropa kuno. Berlanjut dengan diskusi keduanya seputar kelebihan dan kekurangan suku itu dibanding galia yang selama ini selalu membuat Ruby jatuh cinta terutama karena TT nya.


    "Dah stop bahas," tukas Ruby sampai suatu titik. "Jangan racuni lagi," ia pun tergelak yang disambung tawa Panjul juga.


    "Battle Angel ini bagian data, mbak," Panjul melanjutkan ceritanya seputar BA. "Dia dah siapkan form-form untuk data troops, laporan wave serangan masuk, dll dll. Untuk persiapan lawan 3 kuadran yang nampaknya bakal seru."


    "Keren," komentar Ruby atas celoteh Panjul.


    "I bet you'll get along very well with him mbak," sambung Panjul. "Selama bertahun-tahun di travianland, ini orang yang paling ingin kujadiin temen, hahaha. Mr Data itu sangat dibutuhkan. Jago cetak hammer/anvil/kirim-kirim ada banyak, mudah dicari. Tapi yang mau urus data... syusyeeeh nyarinya wakakkaa," Panjul kembali tergelak.


    "Hmm… Nampaknya worth it buat ditemenin…" gumam Ruby. "Eh… Him? I thought Battle Angel is a she…"


    "Kayaknya sih cowo ya," sahut Panjul.


    Ruby tercenung sesaat. Nama Battle Angel mendadak menjadi magnet yang begitu kuat menariknya. Nampaknya akan menjadi petualangan baru baginya, merasakan leadership seorang Ming-Ming, di bawah sosok Mrs. Alfa seorang mami Tia, manajemen seorang Battle Angel, serta menikmati hidup ngumpet ala Panjul.


    Ruby menggenggam tangan Panjul, ketika mereka berdua bersama mengaktifkan goggle mereka. To the first ever land of five tribes in WW setting.


    •••


    Kembali ke 20 Agustus.

    Ruby terduduk di tepi ranjang Panjul. Ia menghela nafas perlahan. Bukan karena Panjul ia turun. Battle Angel adalah motivasinya. Maka ditariknya kembali laci penyimpanan braceletnya, kembali mengaktifkan gogglenya ke 'the land of five tribes'.


    Disapanya Battle Angel. Mereka sudah terlalu lama termanjakan oleh Panjul yang menghandel lebih dari 90 persen tugas defense coordinator (DC). Padahal DC itu seharusnya sebuah tim. Mereka tak boleh terlalu lama terpuruk sepeninggal Panjul, pikir Ruby. Dibukanya defense tools Battle Angel yang selama ini hanya Panjul yang mencermatinya. Diajaknya sang Angel dan sang mami turut menghandelnya.


    "Call me donkey, Jul," teriak Ruby dalam hati. "You are no smarter either. You are too stupid. You came out of your hiding and let these all DC things consume you," makinya pada Panjul yang kini entah berada di mana.


    •••


    "The most blessed leader is one who loves the people, and -in return, they love him" (Mohammad PBUH)


    If ur depressed ur living in the past. If ur anxious ur living in the future. If ur at peace ur living in the present" (LaoTzu)


    about me - read my novels: Lil Happy Fam ; Dawning Day ; SoTH ; Scratches

    Post was edited 2 times, last by swann ().

  • Mantap, kok bisa mengalir begitu ya saat menulis cerita.. Ajarin donk suhu..

    dipakai nulis aja dulu say, nanti juga ngalir sendiri :saint:

    Wah ada cerita pendek neh, ikutin ah. Penasaran juga panjul pergi kemana wkwkwkwkwk

    yang di novel satunya blom komen ^^


    oke, lanjut ya ke coretan selanjutnya...

    "The most blessed leader is one who loves the people, and -in return, they love him" (Mohammad PBUH)


    If ur depressed ur living in the past. If ur anxious ur living in the future. If ur at peace ur living in the present" (LaoTzu)


    about me - read my novels: Lil Happy Fam ; Dawning Day ; SoTH ; Scratches

  • Lub dub - The Travian Gallop

    Part one

    Pertengahan tahun 2011

    Ruby memastikan jumlah form pemeriksaan fisik yang akan ia bagikan ke mahasiswa dan lembar absen mereka. Disambarnya stetoskop yang tergeletak di samping laptopnya, lalu bergegas menuju skill lab untuk skill tutorial teknik pemeriksaan jantung.


    Ruby ingat ketika sebulan sebelumnya selepas rapat yudisium semester genap kelas internasional, Prof BBS memintanya, “Dok, bisa tolong bantu di modul kardiovaskular kelas reguler juga ya…”

    Dan Ruby girang luar biasa. Terang saja, menjelang berakhirnya kurikulum lama, keterlibatannya dalam kurikulum baru ini adalah angin segar buatnya. Terlebih, menghandel anak-anak kelas reguler jelas lebih positif dalam menjaga kewarasannya dibanding mengurusi kurikulum lama di kelas internasional. Anak-anak kelas reguler jauh lebih manis sikapnya, setidaknya itu kesan positif yang ia tangkap di modul ENT sebelumnya. Dan kini diminta terlibat di modul kardiovaskular (KV), jelas membuatnya semakin berbunga-bunga. Jantung masih selalu menjadi organ ajaib yang menakjubkan baginya.


    Senyum masih mengembang di bibirnya ketika ia masuk lab dan menyapa para mahasiswa bimbingannya. Setelah menyampaikan pengantar teori sekilas, tibalah saatnya praktek pemeriksaan fisik dilakukan.


    "Siapa yang jadi volunteer?" tawar Ruby. "Yang paling jelas kelihatan pianonya lebih baik," tambah Ruby sambil tersenyum. Piano yang ia maksud adalah tulang iga yang nanti akan dijadikan acuan dalam pemeriksaan.


    "Uyok, dok…," mahasiswa kompak menyebut satu nama sambil menunjuk mahasiswa yang dimaksud. Ruby lirik daftar absen mahasiswa, tidak ada nama itu. Rupanya dia salah satu dari sebagian kecil mahasiswa yang nama panggilannya tak berasal sedikitpun dari nama lengkapnya. Mahasiswa berperawakan kecil itu nampak pasrah ditunjuk teman-temannya. Ia pun merebahkan badannya ke bed pemeriksaan, membuka bajunya, memamerkan piano yang mengambang di dadanya. Ruby tersenyum melihatnya.


    Jari Ruby menari dalam irama ketukan di beberapa tempat di permukaan dada si mahasiswa, mengajarkan mereka cara penentuan batas jantung berdasar perbedaan suara yang dihasilkan. Usai itu, dua jarinya kembali menari di sela-sela iga mahasiswa itu sambil menghitungnya, Ruby tunjukkan di mana saja mereka harus menempatkan stetoskop untuk mendengarkan bunyi terkuat dari masing-masing katup jantung. Bergantian ia bimbing mereka untuk bisa mengenali dan membedakan intensitas kedua bunyi jantung di lokasi katup yang berbeda. Lub-dub, itu bunyi jantung normal yang harus mereka kenali.


    Selesai berlatih, mereka berpindah ke ruang audio di sebelah. Ruby putarkan beberapa bunyi jantung abnormal, baik bising abnormal maupun bunyi jantung tambahan hingga gallop yang menyerupai derap kuda.


    "Kompetensi kalian saat ini memang bukan pada mendiagnosis penyakit, tapi minimal kalian bisa mengidentifikasi bunyi abnormal. Dan berdasar fisiologi jantung serta lokasi bunyi abnormal yang kalian dengar, minimal kalian bisa membayangkan apa dan di mana kelainannya," ujar Ruby.


    Usai diskusi dan menuntaskan pengajarannya, Ruby kembali ke meja kerjanya. Dibukanya laptopnya dan berkelanalah ia ke dunia yang benar-benar berbeda dengan kesehariannya. Travianland, tempat ia menyimpan stetoskopnya dan menggantikannya dengan busur kilat theutates yang tersandang di bahunya. Tempat di mana ia dan Laras berpartner dengan satu nama yang menantang, "tryme".


    •••


    "The most blessed leader is one who loves the people, and -in return, they love him" (Mohammad PBUH)


    If ur depressed ur living in the past. If ur anxious ur living in the future. If ur at peace ur living in the present" (LaoTzu)


    about me - read my novels: Lil Happy Fam ; Dawning Day ; SoTH ; Scratches

  • Mantapp ni sekalian nambah ilmu.

    Ya walaupun ilmu nya gak kepakai paling tidak bisa jadi bahan sok tau besok wkwk

    Ditunggu kelanjutannya mbak

  • Mantapp ni sekalian nambah ilmu.

    Ya walaupun ilmu nya gak kepakai paling tidak bisa jadi bahan sok tau besok wkwk

    Ditunggu kelanjutannya mbak

    hahaha...

    Panjul mana panjul..?! :D

    bagi para fans Panjul, harap sabar, di bagian ini sosoknya absen dulu. tapi tenang aja, semua coretan di sini masih tribute to panjul koq. apa hubungannya? nantikan di lanjutannya, hehehe...

    "The most blessed leader is one who loves the people, and -in return, they love him" (Mohammad PBUH)


    If ur depressed ur living in the past. If ur anxious ur living in the future. If ur at peace ur living in the present" (LaoTzu)


    about me - read my novels: Lil Happy Fam ; Dawning Day ; SoTH ; Scratches

  • Lub Dub - The Travian Gallop

    Part two.


    Penghujung Desember 2017

    Valkyrie mungkin akan selalu menjadi malaikat bertanduk buat Ruby. Betapa tidak, setelah Ruby berhasil berdamai dengan cerita masa lalu mereka (baca SoTH buku satu), yang lantas Ruby putuskan membantu Valkyrie di final turnamen internasional Travianland, tapi ternyata Valkyrie malah kemudian menghilang. Valkyrie menghilang, meninggalkan anak-anak sealiansi kehilangan kepala, meninggalkan Ruby terjebak dalam kerepotan manajemen dan diplomasi aliansi, serta meninggalkan Al sang partner Valkyrie dalam kerepotan mengurus desa-desa yang ditinggalkan.


    "Al, Ruby lagi jalan-jalan di Jogja lho," pesan Ruby ke Al suatu hari. Sejak Valkyrie menghilang, Ruby beberapa kali berinteraksi dengan sang dual. Dari obrolan sekilas di luar game, yang Ruby tahu tentang Al hanyalah bahwa Al seorang dokter, dan berdomisili di Jogja. Jadi ketika Ruby ada kesempatan jalan-jalan ke Jogja di libur akhir tahunnya itu, ia kabari Al. Sekedar basa-basi, siapa tahu saja bisa bertemu.


    "Al lagi jaga mbak," sahut Al.


    "Owh, dinas di mana Al?" Lagi-lagi pertanyaan basa-basi Ruby lontarkan. Selain jadwal jalan-jalannya tak terlalu longgar, sebenarnya juga jumlah kawan di travianland yang pernah Ruby jumpai di real world bisa dihitung dengan jari.


    "Di RSUD P, Mbak," jawab Al.


    Ruby tersentak kaget. "Eh, Ruby juga dari P, Al," cetusnya.


    "Serius mbak?" tanya Al dengan nada tak percaya. Sebelum Ruby mengiyakan, Al sudah menjawab sendiri, "Wah iya, tuh display picture nya mbak di alun-alun kota…"


    Ruby tertawa. Al seperti Ruby dan kebanyakan orang yang tak mau repot menjelaskan kota kecilnya yang berbatasan dengan Jogjakarta ke teman-teman di server internasional rupanya, sehingga lebih simpel mengaku Jogja sebagai hometown mereka. Toh bagi dunia, Borobudur itu juga termasuk Jogja tanpa repot menyebut tepatnya di distrik mana berada. Sama halnya kebanyakan orang Depok, Tangerang, atau Bekasi yang menggampangkan menyebut Jakarta sebagai domisili mereka.


    "Al dulu SMA mana Al?" tanya Ruby. Kali ini tak lagi basa-basi.


    "Al dari Ganesha mbak," sahut Al.


    Mendadak naluri stalking Ruby bangkit. Dengan beberapa kata kunci yang Ruby ketahui dan beberapa kali menebak-nebak, sampailah ia di profil Facebook seseorang bernama depan Al,seorang dokter, dengan nama tengah yang nampaknya nama panggilan, yang berbeda jauh dari nama depan dan belakangnya. Dari riwayat pendidikannya, ia junior Ruby di Ganesha berselang tahun yang cukup jauh. Dan makin mengagetkan buat Ruby, karena ternyata Al juniornya pula di kampusnya.


    "Ruby coba profiling ya Al," cetus Ruby setelah menjelajah banyak sumber. "Al, seorang MD, alumni Ganesha 2010 dari kelas akselerasi, dari alias yang dipakai nampaknya penyuka kimia, bermain travian sejak masih SMA…"


    "Wow," pekik Al takjub.


    "Dan dari mutual friend kita nampaknya Al pernah bermain bersama ultimate," Ruby tak henti mencerocos. "Kemungkinan besar bukan di s3 ss3 2011 karena Ruby tak melihat Al di antara teman-teman ultimate yang bersama Ruby, jadi mungkin Al bersama mereka di s1 2010. Dan dari mutual friend kita juga, nampaknya Al pecinta forensik…"


    "Waaa… stop mbak, stop!!!” potong Al.


    Ruby tergelak. Sesaat setelah tawanya mereda, terbetik satu hal di pikirannya. 2011 hingga 2012 adalah masa ketika ia banyak terlibat dalam skill tutorial dan PBL modul-modul di kelas reguler. "Mungkin ga Al ada di kelompok yang Ruby pernah jadi tutornya?" cetus Ruby.


    "Nampaknya sih iya mbak," gumam Al. "Your name sounds familiar…"


    "Pernah jadi pasien simulasi Al?" selidik Ruby.


    "Sering, mbak," Al tergelak. "Hampir selalu. Soalnya Al paling kecil badannya, paling gampang diperiksa hahaha…"


    "Coz you have the best piano on your chest?" tanya Ruby lagi. Keduanya tergelak, menyadari bahwa bisa jadi memang jari Ruby yang pernah menari di sela iga Al, mengajarkan mereka cara menentukan batas jantung dan mencari nada lub-dub yang harus mereka dengar.


    Ruby meringis. Andai saja bukan lub-dub yang ia dengar, dan denyut jantung para travianer bisa terdeteksi seperti derap kaki kuda imperatoris atau caecaris, mungkin saat itu Ruby bisa langsung bertanya, "Di mana dan untuk siapa kau bermain, wahai prajurit?"


    •••


    "The most blessed leader is one who loves the people, and -in return, they love him" (Mohammad PBUH)


    If ur depressed ur living in the past. If ur anxious ur living in the future. If ur at peace ur living in the present" (LaoTzu)


    about me - read my novels: Lil Happy Fam ; Dawning Day ; SoTH ; Scratches

tg_TL-DQ4_970x250_181126.jpg