Struggle of The Heart [new story]

    • swann wrote:




      Saat tengah mencermati draft tersebut, terdengar teriakan memanggil namanya dari luar kastil. Ruby bergegas membereskan catatannya, menyimpannya ke dalam tasnya, lalu keluar. Seorang legati di atas kuda memegang gulungan surat di tangan kanannya.

      “Nona Ruby?” tanya legati tersebut.
      “Ya, saya sendiri,” sahut Ruby.
      “Ada surat untuk Nona Ruby di kastil Matah Ati,” sang legati menyodorkan suratnya, lalu pergi begitu Ruby menerima dan mengucapkan terima kasih.

      Ruby membukanya. Sebuah surat dari Valkyrie.
      ‘Salam Bu,
      Salam kenal, saya Valkyrie dari barat laut, salah satu penggemar tulisan-tulisan Ibu di buletin travian land. Semoga Ibu selalu sehat dan dapat menulis lebih banyak lagi…’

      Ruby tertegun. Ia tak mengenal pengirim surat tersebut. Ia pun memutuskan bertanya kepada Felix.

      “Lix,” tanya Ruby sesampainya di Rhesus Mansion. “Valkyrie itu siapa? Dari mana dia tahu bahwa aku yang tinggal di Kastil Matah padahal aku tak mengenalnya? Berarti dia bisa mengakses pengumuman yang aku buat untuk NE Fam. Atau, bahkan mungkin dari ruang diskusi ksatria kita...”
      “Teman Chesta itu sepertinya,” sahut Felix.

      “Lantas aku mesti jawab apa baiknya?”
      “Ya jawab salam kenal juga lah,” sahut Felix ringan. “Biasa aja, Ruby, stay cool. Biar mereka tahu, walaupun ada spy mereka di kita, kita tak panik, sudah menduga koq…”
      Ruby tak berkomentar lagi.

      “Oh ya By,” cetus Felix. “Nama RN akan diresmikan kapan? Biar bisa bareng Devil dan NE sama-sama mengganti benderanya.”
      “Malam ini ya, Lix. Paling lambat besok pagi,” sahut Ruby. Tinggal tunggu Ken konfirmasi lalu kita ganti bersama.”

      Malamnya, tak urung Ruby balas juga surat dari Valkyrie.
      ‘Salam Tuan Valkyrie,
      Senang mengetahui tulisan saya dibaca dan semoga bisa membawa manfaat buat banyak orang…’

      ---
      Sampe segituanya ya efek IGM ngajak kenalannya...padahal cuma surat dari seorang fans kepada pengarang favoritnya :love:

      The post was edited 1 time, last by el_payaso_ID: disuruh pengarang paporit buat edit T_T ().

    • el_payaso_ID wrote:

      Sampe segituanya ya efek IGM ngajak kenalannya...padahal cuma surat dari seorang fans kepada pengarang favoritnya :love:
      Hihihi emang tuh si Ruby parno bener...
      Btw, kalo quote jangan fulltext gitu, kasian yg baca bro... Edit gih...
      "The most blessed leader is one who loves the people, and -in return, they love him" (Mohammad PBUH)

      If ur depressed ur living in the past. If ur anxious ur living in the future. If ur at peace ur living in the present" (LaoTzu)
    • Chapter 4. Tick Tack.. (Boom)

      Part four. Ego


      Ruby kembali ke Rhesus mansion dan mengumpulkan para ksatria. Di hadapan mereka, Ruby berbicara dengan nada penekanan yang lebih yang belum pernah ia gunakan sebelumnya di hadapan mereka. Ia merunut mulai dari mimpi besar Devil dan NE Fam untuk timur laut, bagaimana Ken dan Felix memasrahkan tugas koordinasi padanya, serta plan global yang ia susun dengan pertimbangan dan persetujuan Ken, Felix, dan Laras. Ruby tegaskan betapa sejak awal plot AS adalah untuk Erlan, dan sejak awal pun Felix telah mengatakan ok untuk itu.

      “Kata-kata itu seharusnya bisa dipegang,” Ruby menandaskan. Ruby menambahkan lagi, ketika Felix merevisi plot untuk Rasta dari yang awalnya Joker spesial menjadi DSS, tim Devil pun menerima setelah dilakukan diskusi. Dan bahwa sebenarnya, penempatan arte semalam sangat menguntungkan timur laut, karena baik AS maupun DSS muncul di area sentral timur laut, yang seharusnya dua-duanya bisa diamankan. Karenanya Ruby sangat menyayangkan ketika di detik-detik terakhir, Felix tiba-tiba berubah dan menyelisihi plan yang telah disepakati, yang akhirnya membuat situasi menjadi berat lagi untuk menyatu dengan Devil.

      “Jadi pertanyaan saya sekarang, kita masih ingin bergerak sebagai timur laut sebagai satu entitas atau masing-masing family? Kalau mau bergerak sebagai timur laut sebagai satu entitas, tolong dengarkan dan ikuti saya. Itu berarti, kita harus kembali ke plan awal agar hubungan kedua family stabil lagi. Dan yang dituntut dari teman-teman Devil saat ini adalah komitmen AS untuk dipegang dulu oleh Erlan. Itu jika memang kita ingin ada endgame dan Wonder yang kuat di timur laut.”
      Ruby minta Rasta segera mengatur perpindahan AS dari Rasta ke Erlan, dan DSS dapat segera diambil dari Lady Arya.

      “Dan saya minta maaf sama Felix,” Ruby melanjutkan orasinya. Meski Felix tak ada saat itu, ia tahu kapan pun Felix muncul dan masuk ke ruangan itu, apa yang ia ucapkan terekam dan bisa Felix dengar. “Atas kejadian ini, saya tahu, bahwa Felix tidak bisa pegang manajemen. Saya tahu Felix pemain yang sangat baik, tapi kata-kata Felix tidak bisa dipegang, dan itu berbahaya untuk kesatuan timur laut. Kita akan tetap butuh Felix sebagai garda terdepan timur laut nantinya, sebagai personal, bukan sebagai manajemen…”

      “Bolehkah aku minta sehari saja untuk setidaknya membuat antrian pasukan dulu Mbak?” Rasta mencoba menawar.
      “Tidak, Rasta,” jawab Ruby tegas. “Pindahkan hari ini juga.”
      “Baik Mbak,” ujar Rasta akhirnya.

      ---

      “Ken, Rasta sudah siap untuk pemindahan arte,” Ruby segera mengabari Ken.
      “Baik Mbak, segera aku sampaikan ke Erlan untuk menjemput AS nya, dan Arya untuk menyiapkan DSS diambil Rasta,” sahut Ken.

      “Tiga hal yang harus kita kerjakan hari ini, Ken,” Ruby menegaskan. “Pertukaran AS dan DSS, satukan timur laut dalam satu bendera, dan tolong kondisikan teman-teman di Devil.”

      “Pertukaran arte ok,” sahut Ken. “Tapi untuk poin berikutnya, give me time, Mbak. Aku sendiri masih kesal dengan Felix dan butuh waktu untuk menenangkan diriku. Butuh waktu lebih lagi untuk bisa mengkondisikan anak-anak…”

      Ruby kembali menghela nafas.

      ---

      Di tabloid travian land, para ksatria Devil mulai menumpahkan kemarahan mereka. Makian, kekecewaan, dan titel pengkhianat mulai mereka sematkan kepada Felix dan kawan-kawan di profil mereka. Ruby melihat hal ini akan membuat kuadran lain menonton timur laut dengan rasa menang dan bertepuk tangan. Ia merasa perlu berbicara kepada Lady Arya.

      Jawaban dingin dan pendek-pendek begitu Ruby datang hampir membuat Ruby balik kanan. Tapi ia memaksakan diri menyampaikan isi kepalanya. Ia berusaha menyampaikan secara singkat pandangannya tentang timur laut, harapannya pada Devil dan NE Fam, alasan ia akhirnya terlibat dan mengapa memilih tinggal di Rhesus Mansion, serta alasan dan tujuan pengambilan artefak seperti yang ia rencanakan. Ia minta maaf jika ada kekurangan dalam ia memimpin sehingga ada kekacauan koordinasi semalam, dan berharap masing-masing merendahkan egonya dan menghentikan kemarahan untuk sama-sama mencari solusi yang terbaik untuk timur laut.

      ‘Kenapa minta maaf,’ ‘Memangnya situ salah apa,’ dan ‘Siapa yang marah? Kita tak marah koq…’ adalah jawaban pendek-pendek bernada sinis yang terlontar dari Lady Arya. Ruby menghela nafas lagi. Denial, pikirnya. Seorang yang marah dan secara terbuka menunjukkan kemarahan dan alasannya masih mungkin bisa diajak berpikir penyelesaian masalah. Namun pengingkaran semacam itu, berarti menutup diri dari diskusi.

      “Syukurlah kalau tak marah,” ujar Ruby akhirnya. “Berarti mari sama-sama rendahkan ego untuk terima solusi yang saya dan Ken rumuskan, agar timur laut tetap kuat. Kita pindahkan AS dan DSS hari ini,” lanjutnya. Ia hanya berharap, ia bisa menyambung pembicaraan itu lain waktu. Atau setidaknya, semoga Ken bisa mengkondisikan teman-temannya...

      ---

      Tengah hari, Felix baru menampakkan batang hidungnya. Mendapati jejak kemarahan Ruby di ruang pertemuan ksatria Rhesus, Felix terheran-heran. Ia tak merasa melakukan kesalahan apapun yang perlu disikapi dengan respons sehebat itu. Ia pun menyambangi Ruby di kastil Matah. Ruby tengah melatih beberapa knight.

      “Hai Ruby,” sapa Felix. “Kenapa sih hari ini semua orang marah-marah?” tanyanya dengan polos.
      Demi mendengar pertanyaan Felix, Ruby mengarahkan kudanya ke arah Felix dan mengacungkan pedang teutonic knightnya ke leher Felix. Merah padam muka Ruby.

      “Hey hey, wait,” seru Felix. Ia mengangkat kedua tangannya. “Kamu juga kenapa sih By?”
      “Menurutmu kenapa? Coba kau pikir,” sahut Ruby sengit, tanpa melepaskan pedangnya dari leher Felix.

      “Ok, aku arahkan pasukanku ke AS dan minta ksatria Rasta untuk mengambilnya, karena Rasta memberitahuku arte itu hanya berjarak tiga jam darinya. Aku hanya mengamankannya sebelum terambil kuadran lain, nantinya juga akan dioper ke Erlan. Kenapa harus seheboh itu tanggapannya?”

      “Kenapa harus seheboh itu tanggapannya?” Ruby membelalakkan matanya. “Sejak awal kita rencanakan AS untuk Erlan. Kau sendiri yang minta DSS untuk Rasta. Kenapa tiba-tiba berubah?”

      “Aku kan bukan berniat menguasai AS itu,” Felix membela diri. “Aku bilang amankan, untuk nanti dioper ke Erlan. Pagi tadi aku langsung bilang ke Rasta untuk bertukar. Rasta minta sehari untuk memanfaatkannya pun tak aku ijinkan…”

      “Pertanyaan berikutnya, ketika Rasta melaporkan ada AS berjarak tiga jam dari desanya, apa kau tak mengukur berapa jarak AS itu dari desa Erlan, yang mungkin juga hanya sekitar lima jam sehingga bisa ia amankan sendiri tanpa ada kekhawatiran terambil kuadran lain? Apa kau juga tak mengukur jarak DSS dari desa Rasta, yang sepertinya juga tak sampai delapan jam… Kita sangat bisa mengamankan AS dan DSS semalam dengan tetap mengacu pada plan awal.” Ruby meledak kemarahannya.

      “Rasta memang tidak tahu pembagian PIC bahwa AS itu tanggung jawab Erlan. Tapi kau kan tahu itu?! Dan yang jelas, kau sudah katakan sejak sore hari bahwa kau tak bisa berjaga, Richy dan Rasta sudah dipastikan paham tugasnya untuk mengamankan DSS atau rebut dari kuadran lain, kenapa tiba-tiba datang dan membuat keputusan berbeda pada detik terakhir? Jika tujuannya mengamankan, kenapa tak kau arahkan pasukanmu lalu persilakan Erlan mengarahkan ksatrianya untuk menjemput arte nya? Kenapa malah minta Rasta yang mengarahkan ksatrianya, dan menggunakan gudang ilmunya yang semestinya untuk DSS?”

      “Rasta kan ada dua gudang ilmu besar,” sanggah Felix.
      “Nah, kau tahu kan kenapa aku membuat PIC arte besar dan spesial itu? Karena gudang ilmu besar itu mahal dan jumlah gudang ilmu besar kita terbatas. Kenapa harus membuang sumber daya untuk dua gudang ilmu besar, milik Rasta dan Arya dengan sia-sia untuk pertukaran, yang semestinya tak perlu karena baik AS maupun DSS bisa kita amankan langsung… Belum lagi kerugian terpakainya gudang ilmu besar milik Arya yang seharusnya untuk telik besar atau spesial, dan tugas itu tak bisa dijalankan karena GI nya telanjur terpakai…”

      “Tapi yang jelas kan sekarang artenya sudah dalam proses pertukaran,” ujar Felix. “Sudah selesai dong masalahnya…”
      “No,” sergah Ruby. “Posisimu sebagai manajemen, dan yang kau lakukan semalam itu mencederai hubungan NE Fam dengan Devil. Kau harus tunjukkan itikad baik dengan minta maaf ke seluruh ksatria karena telah bertindak di luar prosedur yang kau sepakati sendiri.”

      “Kenapa harus minta maaf, aku tak merasa salah dengan yang aku lakukan,” Felix ngotot. “Niatku sama sekali tak perlu dipertanyakan, itu memang untuk kepentingan kuadran. Bukan untuk kepentinganku sendiri seperti yang dituduhkan...”

      “Terserah kau mau menilai dirimu bersalah atau tidak,” komentar Ruby. “Aku juga tak menyerang atau mempertanyakan niatmu. Tapi yang jelas di mataku, kau telah menyalahi sistem yang aku buat. Bahkan bukan hanya sistem yang aku buat, tapi sistem yang kita susun bersama. Kau bilang tak bisa hadir, tahu-tahu hadir untuk mengatur berbeda dari sistem yang telah kita sepakati. Tugasmu sendiri, untuk amankan sethono besar agar bisa dioper via chief urut berdasar populasi tertinggi, juga tak kau kerjakan.”

      “Menundukkan ego dan minta maaf karena telah bertindak tak sesuai sistem itu harus dilakukan sekarang untuk mempertahankan bangunan sistem yang sedang kita rintis untuk timur laut ini, Lix…” ujar Ruby akhirnya.

      “Aku tetap tak merasa ada kesalahan yang mengharuskanku minta maaf, By,” sanggah Felix. “Tapi jika minta maaf itu bisa melegakanmu dan membuat timur laut kembali stabil, baiklah akan kulakukan…”

      Ruby menggeram. Ia turunkan pedangnya dari leher Felix. Tapi sebenarnya, yang sangat ingin ia lakukan saat itu adalah mencekik leher Felix dengan tangannya sendiri…

      ---

      Malamnya, Felix meminta maaf di posko koordinasi artefak Royal Northeast atas tindakannya yang menyalahi sistem. Dia berharap dengan kembalinya AS dan DSS ke tangan yang memang akan menggunakannya untuk kepentingan kuadran, timur laut dapat menjadi kuat.

      Ken terperangah mendengarnya. Ia melihat wajah Felix yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Wajah seorang yang berwatak keras, tapi begitu bersungguh-sungguh memaksa diri dan menundukkan egonya kali ini untuk mengucapkan permohonan maaf itu.

      Di samping Ken, Lady Arya dan Panglima Erlan bergeming….
      "The most blessed leader is one who loves the people, and -in return, they love him" (Mohammad PBUH)

      If ur depressed ur living in the past. If ur anxious ur living in the future. If ur at peace ur living in the present" (LaoTzu)

      The post was edited 4 times, last by swann ().

    • New

      swann wrote:

      Chapter 1. Ruby

      Part one. Evaporate

      Sekitar 100 hari sebelumnya, di Travian Land…

      Perempuan itu duduk di beranda kastilnya, menikmati pemandangan matahari terbit seperti biasanya. Yang tak biasa adalah, di hadapannya kini, jauh di pusat kerajaan, berdiri dengan megah bangunan keajaiban dunia yang telah rampung sepenuhnya. Bangunan itu terlihat jelas dari kastilnya yang berada di punggung bukit. Bangunan keajaiban dunia berbentuk piramid yang menjulang tinggi, dengan taman yang indah dibangun di setiap tingkatannya, menjadi penanda supremasi kerajaan yang dipimpin oleh keponakannya, mengungguli kerajaan-kerajaan lain, termasuk Natar yang ditakuti seluruh pasukan di seluruh dunia.

      Tak terlihat lagi kesibukan para pekerja dalam membangun keajaiban dunia tersebut. Telah berhenti pula kesibukan bongkar muat berbagai sumber daya di pasar menuju gudang, atau kerepotan di dapur mengolah gandum menjadi roti yang memberi makan berjuta pekerja dan tentara yang mengamankan keajaiban dunia. Perempuan itu mengamati seisi kerajaan bergerak dalam kesunyian yang luar biasa. Para pedagang menutup kedainya, mengemasi barangnya ke kereta kuda yang siap mengantarkan mereka pindah ke negeri yang baru. Para tentara seolah membeku dalam diam, tak ada lagi yang bisa mereka kerjakan. Sebagian yang tersisa melakukan hal sama persis sepertinya, duduk mengagumi keindahan keajaiban dunia, mengabadikannya sebagai lukisan indah di ingatan masing-masing. Sebagian yang lain masih menikmati saling berkunjung ke tetangganya, mengucapkan selamat tinggal, permohonan maaf, dan harapan sekiranya mereka berjumpa kembali di negeri yang baru.

      Semua berkemas. Termasuk keponakannya. Merapikan arsip-arsip penting, dan bersiap meninggalkan kerajaan dan keajaiban dunia yang baru selesai dibangunnya. Menyelesaikan keajaiban dunia memang sebuah kebanggaan yang dikejar, namun juga berarti akhir dari kehidupan suatu negeri. Kutukan natar berlaku setiap kali satu keajaiban dunia rampung, sehingga ladang di seluruh negeri tak ada lagi yang menghasilkan, sumber daya tak bisa lagi digali dan dimanfaatkan, bangunan tak bisa lagi diperbaiki ataupun dipermegah, dan pasukan mendadak lumpuh di titik temu mereka. Antrian kereta kuda membawa sisa emas dan harta yang dimiliki mengular menuju gerbang perbatasan negeri. Sebagian bermigrasi ke negeri lain dan melanjutkan petualangan mereka, sebagian yang lain hanya ingin ‘pulang’.

      “Mak,” satu suara memecah keheningan. Seorang pemuda turun dari kudanya dan menghampiri perempuan itu.
      Perempuan itu menoleh. “Kenapa kamu masih di sini? Kamu tidak ingin bermigrasi seperti yang lainnya?”
      “Mak sendiri masih di sini? Mau menghabiskan dua minggu hingga langit tergulung dengan sendirinya dan tak menyisakan apapun selain ruang hampa?”
      Perempuan itu tersenyum. “Itu pun tak masalah buatku. Sudah tak ada lagi godaan bagiku untuk bermigrasi ke manapun. Semua yang kucapai di negeri ini sudah menuntaskan semua mimpiku. Aku hanya tinggal menunggu cakrawala menghilang, lalu aku ‘pulang’, ber-evaporate,” jawabnya.

      “Jangan ber-evaporate dulu, Mak,” tukas pemuda itu. “Aku masih harus belajar banyak dari Mak. Ajari aku, Mak, untuk jadi ksatria pembela luar biasa, yang memimpin pasukan luar biasa besar untuk mempertahankan negeri dan teman-teman…”
      “Nak,” panggil perempuan itu sambil tersenyum. “Tanpa aku pun kamu pasti bisa. Menjadi super atau mega defender itu mudah. Asalkan kau punya banyak desa, banyak sumber daya, dan tanpa henti melatih pasukanmu menjadi defender terbaik, kau pasti bisa…”

      “Rasanya tak sesederhana itu, Mak,” protes sang pemuda.
      “Percayalah, sesederhana itu,” jawab perempuan itu. “Kau tahu? Yang sulit sebenarnya bukanlah pada menyiapkan pasukannya, tapi justru pada bagaimana kau berdamai dengan hatimu ketika menjalani peran sebagai megadefender tersebut…”

      Pemuda itu memberikan tatapan tanda tak mengerti. Perempuan itu pun membisikkan beberapa kalimat ke telinga sang pemuda. Pemuda itu tercenung sesaat begitu mendengarnya. Tapi beberapa saat kemudian ia berkata, “Aku rasa aku siap untuk itu Mak…”
      “Bagus kalau begitu,” perempuan itu tersenyum.

      Pemuda itu pun berpamitan. Ia memacu kudanya meninggalkan bukit tempat kastil itu berada, lalu bergabung dalam antrian mereka yang meninggalkan gerbang negeri untuk bermigrasi. Sementara sang perempuan pecinta pagi itu, kembali mengamati seluruh negeri dan keajaiban dunia di hadapannya. Hingga ketika glitch demi glitch menyentakkan kesadarannya, langit negeri mulai tergulung dan menampakkan rangkaian kode di baliknya, dan berakhirlah realitas virtual yang dibangun atas rangkaian kode biner 0 dan 1 tersebut.

      ---

      Real World, awal Agustus

      Perempuan pecinta pagi itu membuka matanya. Ia dalam posisi setengah berbaring dengan goggle hologram menutupi matanya. Ia mengenakan piyama, bukan gaun tradisional Eropa abad pertengahan seperti yang dikenakannya di travian land. Dia menekan sebuah tombol di alat yang berada di dekat telinganya, dan goggle hologram yang menutupi matanya tersebut menghilang. Dia mengambil alat tersebut dan memasangkan kembali ke braceletnya. Dikliknya braceletnya, dan muncullah hologram di depannya, informasi tentang perjalanan ke dunia virtual yang baru saja dia selesaikan. Dia mengklik satu pilihan, sehingga kini tertera di depannya, “Server 1, umur 267 hari, Status: Dinonaktifkan.”

      Dia mengambil segelas susu coklat dingin dari lemari esnya. Beberapa keping biskuit menjadi teman kudapannya sembari duduk di sofanya. Sambil makan, ia memutar ulang semua pesan yang masuk ke kotak pesannya selama ia bertualang di travian land. Ada beberapa pesan masuk ke inboxnya. Dikliknya satu pesan yang paling menarik perhatiannya, dari Laras, temannya.

      “Hai Ruby,” sapa Laras, seorang laki-laki seusianya dengan t-shirt putih, dalam tampilan bayangan hologram. “Berminat perjalanan baru lagi? Server 7 telah dibuka. Kamu sudah selesai kan di server 1?”

      Ruby spontan tertawa mendengarnya. Dia teringat kalimat yang ia ucapkan menjelang dinonaktifkannya server 7 tadi. “Semua yang kucapai di negeri ini sudah menuntaskan semua mimpiku. Aku hanya tinggal menunggu cakrawala menghilang, lalu aku ‘pulang’, ber-evaporate...”

      Dan di sinilah dia sekarang. Pulang ke real world. Ber-evaporate alias menghilang dari travian land. Sama sekali belum ada keinginan untuk mencoba migrasi ke server lainnya untuk petualangan berikutnya. Ah, besok sajalah menjawab pesan Laras, pikirnya. Sekarang ia cukup lelah dan hanya ingin beristirahat.

      ---




      glossary
      .evaporate adalah sebuah fenomena unik sekaligus mengerikan yang kian hari kian marak di Jepang. Sementara sebagian masih mempertahankan tradisi bunuh diri ketika menghadapi kegagalan atau hal memalukan menimpa mereka, sebagian yang lain mulai menjadikan evaporate ini sebagai solusi. Menghilang dari tempat lama ia mengalami kegagalan atau hal memalukan, untuk pindah ke tempat baru, identitas baru, memulai hal baru. Terkesan saja dengan fenomena ini, dan di novel ini istilah evaporate akan digunakan untuk setiap fenomena 'menghilang’, apapun alasannya (tak selalu krn kegagalan atau hal memalukan), baik del id di 1 server untuk memulai server yang lain, atau pensiun sepenuhnya dari travian.

      Akun forum saya sblmnya nth knp tdk bisa di pake. Mungkin g ikut instrksi pas ada maintennis waktu itu (hehehe). Nice story Mak. Lanjutkan...
    • New

      OV saja wrote:

      Akun forum saya sblmnya nth knp tdk bisa di pake. Mungkin g ikut instrksi pas ada maintennis waktu itu (hehehe). Nice story Mak. Lanjutkan...
      Bertambah lagi satu orang yang perlu diomeli karena abuse fasilitas quote || kepanjangan itu, nak, ngutipnya... :D
      tapi bener ov, itu chapter 1 emang dialog ov ama emak morning setelah ww animal kelar di ts1. msh inget toh?

      untuk part selanjutnya yang bentar lagi phi upload... maaf kalau lama, butuh check n recheck lebih lagi untuk memastikan tidak ada fakta yang salah. tapi kalau masih ada yang perlu dikoreksi, silakan tulis di komen juga.

      maaf juga kalau part selanjutnya ini terlalu deskriptif, karena phi ga berani ngurangi terlalu banyak dan langsung pada kesan emosi yang phi atau pemain lain rasakan begitu saja. jadi apa yang ditulis sesuai dialog dan data aslinya, semoga emosi yang bisa dirasakan para pelaku saat itu bisa disimpulkan dari situ...
      "The most blessed leader is one who loves the people, and -in return, they love him" (Mohammad PBUH)

      If ur depressed ur living in the past. If ur anxious ur living in the future. If ur at peace ur living in the present" (LaoTzu)
    • New

      Chapter 4. Tick Tack.. (Boom)

      Part five. Phantom

      18 November

      Ruby bangun dengan perasaan ringan. Artefak telah kembali ke rumusan awal, AS dipegang Erlan, DSS untuk Rasta. Ken sendiri nyatakan ke Ruby ia secara personal sudah menganggap masalah selesai, tapi sebagian ksatria Devil masih panas. Mereka menilai Felix memiliki masalah pada karakter dan komitmen dan belum bisa menerima, karena masih berpotensi terulang kembali masalah seperti artefak ini. Mereka juga menyangsikan apakah AS akan dikembalikan seandainya DSS tidak NE dapatkan.

      “Untuk kasus seperti itu, aku selalu bertanya, Ken,” sahut Ruby. “kita tidak percaya terhadap siapa… orang, atau sistem? Kalau kita tak percaya orang, maka percayalah sistemnya. Karena sistem itu bisa mencegah orang dengan karakter buruk untuk melakukan atau mengulang kesalahan. Sistem juga bisa menghukum ketika orang dengan karakter buruk melakukan pelanggaran...”

      Ken membenarkan. Ia akui ia takjub dengan permintaan maaf Felix di ruang koordinasi yang ‘nggak Felix banget’. Permintaan maaf yang Felix sampaikan karena Ruby paksa untuk kembali taat pada sistem yang disepakati.

      Ruby juga yakin sistem yang ia buat bisa memastikan AS akan Rasta kembalikan karena karakter desa-desa Rasta paling tepat untuk DSS dan ia sudah sangat siap untuk merebut DSS dari kuadran lain.

      Karenanya, Ruby menegaskan kembali ke Ken pentingnya satukan bendera dan aturan bersama untuk mengikat kembali hati yang tercera-berai saat itu. Di benak Ruby, mereka telah ketinggalan sehari dalam koordinasi karena ribut sendiri di dalam kuadran, waktu yang seharusnya bisa lebih dioptimalkan untuk koordinasi arte yang tersisa. Belum lagi pe-er untuk segera memikirkan serangan ke kuadran lain dan mulai memikirkan persiapan untuk keajaiban dunia di 100/100 yang ia tahu pasti Ken dan teman-teman Devil tuju.

      Ketiga mansion di NE Fam harus mengganti benderanya menjadi RN-Rh, RN-Wars, dan RN-Syn. Sementara di Devil Fam, Devil dan Devil-GR (wing defens Devil) harus mengubah benderanya menjadi RN-Devil dan RN-GR. Tidak boleh ada satupun ksatria yang benar-benar berjuang untuk timur laut berada di luar kelima mansion tersebut.Pengumuman mengenai perubahan nama akan segera Ruby siapkan. Itu tegas Ruby.

      Tapi Ken masih sibuk dengan beberapa kali mengarahkan pasukannya untuk mengambil artefak dan membaginya ke anggotanya. Slipih kecil yang telah ia amankan ia oper ke Boxer, lalu ia mengatur pembagian artefak lainnya. Semua ia lakukan agar anggotanya tetap mendapatkan artefak dan tak lagi pundung.

      Sementara Ruby, sesuai yang ia katakan, ia menarik Felix dari manajemen. Untuk koordinasi pengambilan arte selanjutnya, ia minta tolong Laras langsung berkoordinasi dengan Richy dan Rasta. Hari itu, satu telik besar Felix amankan untuknya, dan satu anta besar Icad amankan di desa Proklamator. Ada satu sethono besar yang masih mampu laksana untuk diamankan, namun kurang gudang ilmu besar. Push sumber daya pun dilakukan ke desa Greatwall untuk mempercepat dibangunnya gudang ilmu besar.

      Terindra satu masalah di tim Rhesus, yang kemarin belum sempat diprioritaskan karena teralihkan dengan penyelesaian pertukaran arte. Kemarin mereka mendapati anta kecil tercuri oleh barat laut secara misterius dengan waktu tepat sedetik setelah cleaner Rasta mendarat. Ketika Rasta menginformasikan jam kedatangan pasukannya di ruang ksatria Rhesus, Hi Men segera mengirimkan ksatrianya untuk menjemput arte, namun berjarak dua detik setelah Rasta. Karenanya, dengan tercurinya arte tepat sedetik setelah Rasta, mereka yakin masih ada spy barat laut di Rhesus Mansion. Richy pun segera membatasi siapa saja yang bisa masuk ke ruang pertemuan ksatria inti Rhesus. Ruby pu tak berani mengumumkan ke semua ksatria permintaan sda untuk gudang ilmu besar di Greatwall, maka ia hanya meminta satu per satu ke para ksatria pilihan Richy.

      Rasta mengusulkan ke Ruby untuk segera membuat battle plan ke barat, yang dapat sekaligus digunakan untuk menyaring spy. Ruby menyetujuinya, dan mempercayakan Rasta untuk memimpin. Data pasukan tim Rhesus Ruby bagi ke Rasta untuk penyusunan rencana. Felix dan teman-teman di Rhesus Mansion memang sudah sangat siap untuk perang dan merebut artefak dari barat, mengingat hujan serangan fake yang telah mereka terima dari barat laut dan barat daya sejak sebelum artefak muncul.

      Malamnya, wave dari desa-desa Valkyrie, Sarivan, dan beberapa orang dari barat laut mulai berdatangan ke Felix dan Icad. Rasta juga mendapatkan wave dari NW, satu pemain yang memang dalam sejarahnya selalu berseteru dengan Rasta. Mereka sadar peran mereka sebagai garda terdepan timur laut. Defens pun segera mereka menej. Anta besar di Icad harus diamankan agar tak terebut barat laut. Akhirnya diputuskan, gudang ilmu besar yang sedang dalam proses penyelesaian di Greatwall untuk menampung anta besar tersebut. Felix dan para ksatrianya berjaga malam itu. Menjaga desa-desa Felix, Rasta, dan menyiapkan pemindahan artefak Icad. Sampai di situ, semua masih terkendali.

      ---

      19 November pagi

      Richy terkejut ketika bangun mendapati desa-desanya mendapatkan serangan dari Ballutha. Seingatnya, Ballutha adalah anggota Devil, sekutu mereka. Dan tak ada keributan apa pun dengan Ballutha sebelumnya. Lebih terkejut lagi ketika beberapa menit kemudian Ballutha keluar dari Devil Mansion dan bergabung dengan Erlan di Mansion Hantu. Besar dugaannya itu serangan real. Ruby minta Richy segera memenej defens, sambil menjaga kepala tetap dingin untuk menghindari Felix emosi dan menyerang balik sebelum semua terklarifikasi.

      Mendengar laporan Richy, Ruby bergegas mencari Ken, meminta penjelasan. Ken terkejut dan bergegas mencari Ballutha.

      “Ada yang ga beres tuh By,” komentar Laras mengetahui pindahnya Ballutha dari Devil ke Hantu.
      “Iya. Ken sudah mulai kehilangan kendali ke anak buahnya,” komentar Ruby. “Sementara aku di Devil masih dianggap outsider, jadi tak bisa menegur mereka langsung,” keluhnya.

      “Memangnyai tim asli Ken siapa saja By? Koq sepertinya Ken juga sudah tak dianggap oleh Erlan?”
      “Semua di Devil kecuali dirimu dan Yuwi itu tim Devil asli. Anthony dan Jack itu mulai 1 tim sejak server 1 lalu yang aku jadi lawan mereka. Kalau yang lain sudah lebih lama, tiga tahunan sepertinya.”
      Laras mengenal Yuwi, yang ternyata pernah berada di satu tim dengannya sebelumnya.

      “Permasalahanya adalah Erlan terlalu mengekslusifkan diri sehingga tidak bisa dipegang,” keluh Laras.
      “Erlan memang sejak awal Ken akui tipe solo player. Keukeuh harus dapat antaspec, dan Ken berhasil janjikan itu buat dia. Begitu ada insiden Felix, Erlan sepenuhnya lepas dari kontrol Ken. Arya juga sama keras kepalanya.”

      “Sebenarnya Felix juga tak salah menurutku, hanya saja Felix tak komunikasikan,” komentar Laras lagi. “Tapi kan yang penting Erlan tetap dapat apa yang apa yang dia mau. Sekarang kalau cara mainnya seperti itu patut dipertanyakan, sebenarnya orientasi Erlan main buat kuadran atau kejar kepentingan pribadi dia?”

      “Menurutmu bagaimana kuadran ini ke depannya?” Ruby balik bertanya
      “Ada di tangan Ken,” sahut Laras.
      “Iya. Ken bilang ayo nyatu, nyatu. Ken bingung menghandel anggotanya, maka dipastikan pecah. Dan kalau pecah, dah ga mungkin NE menang endgame,” timpal Ruby.

      ---

      Ken bergabung bersama Laras dan Ruby, masih belum berhasil mendapatkan jawaban dari Ballutha.
      “Ok, sambil menunggu Ken berhasil hubungi Ballutha, kita lanjut bahasan,” ujar Ruby. “Sekarang kunci Timur laut boleh dibilang benar-benar tergantung Ken. Apapun yang Ken bilang dan bisa lakukan, itu yang akan menentukan masa depan Timur laut…”
      Ken menggumam. “Maksudnya?”

      “Pada intinya nasib timur laut di tangan Ken,” ujar Laras. “Apa mau dibawa perang internal kuadran atau mau disatukan?”
      “Tergantung Ken, seberapa mampu Ken mengikat tim Ken dalam mimpi bersama bermain buat kuadran…” Ruby menanggapi.
      “Fuhhhh,” keluh Ken. Di awal server aku berani bilang, aku bilang apa pun mereka bakal jalan. Jujur, sekarang aku agak dijauhi.. Mereka kecewa dengan banyaknya kejadian akhir-akhir ini. Hilang wibawa dan muka aku… Setelah kejadian arte.. Pagi itu kan aku sampaikan, aku mulai kehilangan kontrol anak-anak. Itu sebenarnya ruang diskusi makin sepi. Aku mencoba perbaiki. Makanya anak-anak aku arahkan ke arte lain yang tak bertuan… Dab aku sendiri bela-belain jalan jauh buat ambilkan slipih. Berharap mereka bisa kuatur lagi…”

      ”Iya, kita juga berusaha perbaiki kondisi dengan antaspec kembali ke Erlan,” Ruby menanggapi. “Lalu sekarang evaluasi Ken bagaimana tentang mereka? Msh jauh hatinya buat dirangkul?”
      “Beberapa masih panas. Ada yang bisa aku tahan, tipikal pribadi yang lebih cool. Tapi beberapa yang agak keras itu yang berat…”

      “Nah kalau menurut kalian, kira-kira mana yang lebih baik dikerjakan sekarang,” tanya Ruby. “Langsung 1 bendera sambil Ken kembali merangkul mereka yang sempat jalan sendiri-sendiri, atau kita tunggu dulu Ken bisa rangkul mereka lagi baru 1 tag. Opsi 1 risikonya kalau ternyata mereka makin menjauh, dan pecah, lebih sakit. Opsi 2, makin ga jelas situasi, risiko pecah perang kuadran makin besar.”
      “Aku sudah hubungi mereka pagi ini satu per satu, tapi belum ada respons kecuali dari adikku,” sahut Ken.
      “Itu maksudnya belum bisa 1 tag dulu hari ini?” Ruby berusaha memastikan lagi.
      Ken tak mampu menjawab.

      “Lalu untuk serangan dari Ballutha, RNI siapkan defens atau bagaimana baiknya Ken?” tanya Ruby lagi.1
      “Ini dia aku bingung,” keluh Ken. “Lima wave… Kalo real, gawat. Benar-benar sial, kejutan akhir pekan yang menyenangkan sekali. Eta bsk pagi.. fuhhhh. Kalo dia fake.. buat apa fake Richy… Kalo di deff, rugi di troops attack n deff.. Alhasil NE melemah. Kalo tak di deff dan real.. Gila hilang sepuluh bangunan,” Ken kehabisan ide.
      “Kalau pertimbanganku, kita tetap siapkan def, tapi begitu bisa Ken pegang dia dan bisa jalan lagi buat tim, akan kita lepas def, dg komitmen tolong bantu gold dan sda utk instabuild. Waktu bangun masih bisa diakali, tapi waktu melatih pasukan ga bisa diakali,” Ruby memberi masukan.
      “Hm.... Iya itu mungkin pilihan terbaik.. Aku coba pendekatan dulu,” sahut Ken.

      Ruby segera menginformasikan ke Richy, untuk full defens dulu. Kalau bisa pegang komitmen Ballutha untuk kuadran, baru dilepas defens, dengan komitmen akan disupport full gold n sda utk insta build.

      Semakin siang, wave dengan eta yang sama dengan wave Ballutha ke Richy meluncur dari NW dan SW ke Felix. Eta besok, Minggu 20 November pagi pukul 04.

      ---

      Ken kembali tanpa ada perkembangan berarti dari teman-teman Devil. Tak juga ada ketegasan dari Ken mengenai penyatuan tag, atau komitmen support gold dan sda jika defens dilepas. Ruby kembali menegaskan logika yang mesti Ken bawa ke teman-temannya, bahwa perpecahan hanya akan melemahkan kuadran.
      “Kalau alasannya adalah kecewa, sebenarnya bisa ditanya lagi ke masing-masing, kecewanya sama orang atau sistemnya. Kalo sama orang, tolong trust sistemnya karena hanya dengan sistem yang baik kita bisa beri sanksi dan mencegahnya terulang, jangan malah pergi. Kalau kecewa sama sistemnya, beri masukan bagaimana seharusnya,” Ruby menegaskan itu lagi.

      “I’m trying,” jawab Ken.
      “Yang terbaik sekarang yang memang masih dipegang segera dalam 1 tag, yang ga ya biar di luar dulu. Kita kuatkan yang di dalam. Mereka yang memang siap bermain bareng apapun latar belakangnya, berusaha melepas egonya untuk kuadran, itu dulu yang sekarang kita kuatkan,” Ruby menandaskan.
      “Iya setuju. Aku sedang berusaha rangkul. Yang bisa tetap kupegang akan kutahan dulu. Sembari tetap berusaha menarik yang di luar,” sahut Ken.
      “Ok, jadi ganti tag dan buat pengumuman hari ini ya,” pesan Ruby.
      Ken diam lagi.

      “Wah, sudah pada mulai pindah ke Hantu.. Not a good sign,” keluh Ken.
      “Jack pindah ke Hantu ya,” komentar Laras. “Kalau melihat gelagat seperti ini sih udah ga bagus. Ditambah sans nom dpt wave dari NW…”
      “Any suggestion? Kayaknya bakal dipaksa harakiri aku,” keluh Ken.
      Mendadak Ruby enggan melanjutkan berkomentar. Rasanya begitu gregetan, ia lebih suka Ken segera pergi dan berdialog dengan para ksatrianya.

      ---

      “By, dah ga bener ini,” komentar Laras setelah Ken pergi. “Sepertinya memang ada diplomasi di bawah tangan antara Devil dan NW. Aneh saja Rhesus dapat wave dari NW tapi Devil tak ada sama sekali…”
      “Seperti yang diindra Felix,” ujar Ruby. “Anak-anak NW memang dekat dengan Devil sejak awal, makanya Felix sejak awal curiga Devil bakal meta dengan mereka. Tapi Ken yakinkan aku kalau Devil juga murni buat NE. Ken juga bilang sejak awal NW sudah ajak Devil sekutuan tapi Ken tak respons. That's why I trust Ken dan minta Laras masuk ke Devil saja…”

      “Sementara Felix, isu miringnya yang didengar Ken adalah akan meta dengan SE,” Ruby melanjutkan. “Tapi kan sebenarnya bisa kita pahami logika Felix, dia cuma mau manfaatkan def SE untuk bantu musnahkan hammer NW. Sama sekali tak ada plan attack NW bareng…” Apalagi plan untuk bersama SE menyerang Devil yang statusnya sama-sama di NE dan sekutu, sama sekali tak terpikirkan oleh teman-teman, batin Ruby. “Dari ruang ksatria Devil sih memang aku sering dengar mereka mau pake data apapun aspek ga percaya Felix nya cukup gede. Makanya aku pernah sampaikan juga ke Ken, koq di sana aku merasa ga diterima, tapi Ken selalu merespons, kalau begitu sampaikan saja melalui Ken kalau butuh apa-apa ke anak-anak Devil…”

      “Ras,” panggil Ruby. “Tapi menurutmu Ken itu beneran terlalu polos dan baik hati atau juga berpolitik? Aku pribadi masih anggap yang pertama.”
      “Aku tak bisa baca By karena baru kenal Ken,” sahut Laras. “Tapi memang ada kemungkinan besar yang pertama…”

      “Wah yang ke caps Rasta 14 wave, info dari NW,” cetus Laras tiba-tiba. “Yang ke Felix juga bakal real target chief desa hammernya. Dan ternyata tadi ada axeman kena gerebek di desa Greatwall,” Laras memperlihatkan secarik laporan. Anta besar dari desa Proklamator telah dipindahkan ke Greatwall, dan langsung mendapat wave dari pemain NW yang bertempat di area sentral. Pretorian dan axeman yang parkir di sana menjadi penyelamat anta besar tersebut. Satu kekhawatiran segera menyusup di benak Ruby bahwa para ksatria pilihan Richy pun masih belum bebas dari spy.

      Ruby melirik stempel yang tertera di secarik laporan yang Laras terima tersebut. “Scout? Siapa dia Ras?”
      “Teman di travian land server sebelumnya. Katanya sih dia sekarang membantu Sarivan…”
      Ruby tercenung.

      ---

      Hingga sore itu, berarti yang telah mendapatkan serangan real dari NW adalah anta besar di desa Proklamator dan juga kembali mendapat wave setelah dipindahkan ke Greatwall. Serangan dari NW masih meluncur ke Felix dan Rasta. Serangan dari Hantu ke tim Rhesus semakin berdatangan. Saat itu, boleh dikatakan seluruh tim attacker Devil telah berpindah ke Hantu. Di Devil hanya tersisa Ken, adik Ken, Lady Arya, dan pemain-pemain rekrutan baru di server itu (termasuk Laras dan Yuwi).

      Ke Richy, selain dari Ballutha yang telah nampak sejak pagi, ada tambahan dari Boxer yang baru saja aktif slipihnya, sehingga hanya butuh 6 jam ke desa Richy. Dan itu adalah slipih yang Ken ambil lalu segera ia berikan pada Boxer. Ruby menggeram.

      Jack yang pindah ke Hantu sejak siang pun melancarkan serangan ke Rasta. Ditambah serangan dari Cowboy yang sudah sejak lama tinggal di Hantu Mansion bersama Erlan, membuat Rasta menghadapi serangan dari NW dan 2 teman sekuadran sekaligus.

      Hi Men juga mendapatkan serangan dari ksatria Devil lainnya yang telah berpindah ke Hantu. Dan yang muncul terakhir paling malam, karena jaraknya sangat dekat, adalah serangan Erlan ke Ronron.

      Semua dengan ETA yang sama. Minggu pagi pukul 4...

      Ruby pamit setelah memasrahkan menej defens dan snip pada Felix, Richy, Laras. Dan kembali lagi menitipkan pesan ke Ken untuk segera memutuskan penyelesaian masalah timur laut.

      “Lix, Ruby pamit dulu, tolong temen2 di manajemen dikendalikan baik-baik ya..”
      “Oke By,” sahut Felix. “Salut ini sebenarnya sama tim NE. Sabar semua.”
      “Justru benar-benar saat ini kita buktikan siapa yang main pakai ego, siapa yang pakai rasio,”
      Komentar Ruby.
      “Iyaaaa,” jawab Felix sambil tertawa. Getir.

      ---
      "The most blessed leader is one who loves the people, and -in return, they love him" (Mohammad PBUH)

      If ur depressed ur living in the past. If ur anxious ur living in the future. If ur at peace ur living in the present" (LaoTzu)

      The post was edited 2 times, last by swann ().

    • New

      Ibrahim Risyad_ID wrote:

      cerita nya detail amat yaa
      malam2 gini jadi sedih liatnya
      Pukpukpuk...

      el_payaso_ID wrote:

      Wiw ternyata ada yang bocorin target BP dari NW yah....biar seimbang mungkin maksudnya...
      Wiw ada yg lgs ambil kesimpulan. Msh ada chapter berikutnya bro...
      "The most blessed leader is one who loves the people, and -in return, they love him" (Mohammad PBUH)

      If ur depressed ur living in the past. If ur anxious ur living in the future. If ur at peace ur living in the present" (LaoTzu)
    • New

      Raja Colie_ID wrote:

      wah mantaff nih...ternyata kisahnya menarik jg ya...maklum kuper saat itu, jarang maen2 keluar halsman istana...paling jauh cm muterin kebun raya itupun cm hari minggu pagi saat carfree day...jd penasaran nunggu kisah lanjutanya...lanjut bu...sancai sancai
      ga percaya kalau kuper ah... kalau terkaget-kaget baca detilnya, mungkin iya si... tapi kalau sampai ga tau karena cuma muterin halaman istana n kebun raya, yakin ga deh, hahaha. tuan gubernur gitu lohhhh... hehehe

      maaf ya, tadi pagi mendadak dipanggil bu camat (ecieh alasannya) :D jadi baru pegang lappy skrg pas break maksi.

      plz enjoy... likes, comments, edit/critics dengan senang hati phi terima...
      "The most blessed leader is one who loves the people, and -in return, they love him" (Mohammad PBUH)

      If ur depressed ur living in the past. If ur anxious ur living in the future. If ur at peace ur living in the present" (LaoTzu)
    • Sandaran yang Patah

      New

      Chapter 5. Tough Heart

      Part 1. Sandaran yang Patah

      20 November pagi

      Begitu serangan dari barat dan Hantu mendarat, Ruby dan Laras mengabari Ken.

      You're really too cute Ken,” keluh Ruby. “Yang dari Hantu real semua…”
      How are the damages?” tanya Ken. “Felix? Rasta? Richy? Ron?”
      “Rasta, Richy, Ron hancur. Felix chiefed…”

      “Evaporate dah,” ujar Ken dengan putus asa.
      It’s okay to evaporate Ken,” sahut Ruby ketus. “And let me call you my 2nd cute Stephen Elop* forever…
      Ken menghela nafas. “Gagal menyatukan NE,” keluhnya. “Maaf ya Mbak, om Laras…”
      Ruby mengunci mulutnya.

      ---

      Selain kesal dengan Ken, Ruby juga kesal dengan Felix. Bukannya berjaga di desanya ketika serangan mendarat, Felix justru menghilang. Freddy titip ke Felix untuk ganti berjaga, tapi Felix ketiduran alasannya.

      Laras apalagi, lebih kesal. “Ga bener ini yang jaga Sans Nom,” gerutunya. Setelah secara tak sengaja mendapatkan info dari temannya di NW akan kemungkinan serangan ke Felix itu real, Laras langsung memberi tahu Felix dan membantu mengecek desanya. Ada celah yang cukup lebar sebelum wave terakhir yang bisa digunakan untuk menaikkan loyalitas agar desanya gagal kena chief, dan Laras sangat wanti-wanti ke Felix untuk persiapkan itu.

      “Gimana lagi, namanya juga ketiduran,” dengan ringan Felix berkilah. Ruby dan Laras geram mendengarnya.

      “Jadi bagaimana solusinya By, untuk NE?” tanya Laras melihat beban kerusakan yang teman-teman tanggung.
      “Bingung Ras, bukan untuk ini aku migrasi ke sini,” keluh Ruby. “Menurutmu?”

      “Kondisi di luar prediksi, butuh langkah di luar kebiasaan,” komentar Laras. “Aku sedang korek-korek info dari anak NW.”

      Ruby ingat teman Laras yang kemarin memberi info kemungkinan wave real ke Felix. Biasanya Ruby tak terlalu menganggap jika ada info dari musuh tentang kemungkinan wave real atau fake. Ia lebih percaya dengan bacaan sendiri atas wave yang datang. Tapi mengetahui yang Laras sampaikan ternyata benar, tak urung ia penasaran.

      “Temanmu di NW itu tahu kamu main di NE Ras?” selidik Ruby.
      “Scout itu temanku di server lalu,” papar Laras. “Sebelum server ini mulai dia sebenarnya sempat mengajakku main di barat laut, tapi aku bilang sudah evaporate. Nah ketika aku tergoda untuk bermigrasi kembali dan memilih timur laut, aku sengaja tak memberitahunya. Kau tahu kan, kita selalu fokus untuk kuadran kita saja, jadi aku tak mau pertemanan server lalu mengganggu kita untuk bermain demi kuadran masing-masing…”

      Ruby mengiyakan, itu prinsip mereka berdua untuk bisa ‘new server new story’.
      “Nah, kejadian Hantu yang membelot ini membuatku penasaran sebenarnya bagaimana hubungan NW dengan tim Devil secara keseluruhan. Aku coba menyapanya, ternyata ia masih ingat aku,” Laras bercerita. “Dan mengetahui aku di House Enuresis, dia langsung menertawakanku. Katanya salahku ga bilang-bilang main di NE jadi kena serang deh… Aku tertawa saja mendengarnya.”

      “Hmm,” gumam Ruby. Berarti memang Chesta tangan NW, dan serangan Chesta ke Laras waktu itu memang didesain NW untuk memecah Devil dan NE Fam, pikir Ruby.

      “Nah, intinya yang kudapat begini,” lanjut Laras.
      “Awal server anak SE sudah ajak main anak NW dan dia sesumbar SE bakal menang…”
      “Ok, kita sudah baca itu,” sahut Ruby. Belum ada informasi baru. “Terus?”

      “Jadi NW itu statusnya sudah declare war dengan SE, bahkan sejak sebelum travian land ini dibuka,” lanjut Laras. “Lalu ada anak SE yang katanya kenal Felix, bahkan pernah bertemu Felix di real world, Light kalau tak salah namanya. Light ini teman si pencetus war SE dan NW. Karena Felix dekat dengannya inilah, NW tak suka…”

      “Sampai situ aku masih bisa ikuti,” timpal Ruby.
      “Yang aku tak tahu nih, apakah Erlan dan teman-teman dekat dengan NW sehingga termakan isu ini lalu menyerang Felix, atau memang sudah diplot dari awal untuk melemahkan NE,” Laras mencoba membaca situasi.

      “Sejak awal Ken memang mengaku kenal NW, dan mereka juga baik ke Devil. Ken juga bilang NW ajak Devil sekutu bawah tangan sejak dulu tapi tak Ken respons,” Ruby menimpali. “Ini menepis dugaan Felix yang di awal mengira Devil pro NW. Makanya aku juga sadar sesadar-sesadarnya ini bom waktu. Cuma waktu itu aku masih percaya diri untuk satukan NE karena Ken bilang mereka ikut Ken. Dengan plot, kita bisa manfaatkan perseteruan NW vs SE ini untuk kepentingan NE.”

      Ruby dan Laras mengambil kesimpulan saat itu, NW lah yang mengangkat isu kedekatan Felix dengan SE ke Devil dengan harapan tim Devil dapat menjadi tangan NW untuk melawan Felix tanpa harus mengotori tangan mereka sendiri. Ruby ingat dulu Ken masih bersikap hati-hati ketika menerima isu itu. Erlan yang lebih emosional jauh lebih mudah termakan isu itu. Ditambah dengan kejadian arte, tentu itu lebih mudah membakar emosi Erlan.

      Ah, cerdiknya, pikir Ruby. Felix yang begitu idealis dengan ide bermain untuk kuadran masing-masing, begitu sembrono bertemu dengan banyak orang dari berbagai kuadran di real world dengan dalih sama sekali tak membahas travian land, tanpa memikirkan persepsi orang yang melihat sekilas dari kejauhan. Belum lagi dia secara bawaan bayi termasuk tipe nomor dua, siapa sih yang mudah percaya begitu saja terhadapnya…

      Komentar Scout ke Laras tentang kalau tahu itu Laras tentunya tak akan diserang, juga begitu ringannya Scout berbagi info serangan ke Felix di satu sisi juga membuat Ruby meyakini begitu dekatnya hubungan NW dengan Devil. Kedekatan masa lalu dan posisi Laras yang bergabung di Devil secara otomatis membuat Scout menganggap Laras pro Devil, yang berarti juga pro NW, sehingga info serangan itu ia bagi tanpa beban apa-apa. Satu hal yang membuat Ruby tertawa dalam hati, sandaran hatinya satu ini ternyata memang tak pernah hilang identitas pirate-nya. Scout pun dia scout :D

      “Ah, andai saja kita menyatu lebih awal, mimpi terkomunikasikan dengan baik, dan Ken punya wibawa lebih besar di mata anak2 Devil, maka kita bisa buat hammer2 di Devil utuh, Felix dan teman-teman jadi bemper vs nw dengan bantuan def SE, dan di akhir kita punya cukup banyak defens untuk WW serta hidden hammer untuk hit WW lawan…” keluh Ruby.
      Laras tak terlalu yakin dengan itu.

      ---

      “Ken, selama ini seberapa intens mengkomunikasikan konsep main buat kuadran ke temen2 Devil?” cetus Ruby. “Kita kemarin salah karena berasumsi mereka akan sama isi kepalanya dengan kita tentang bermain dengan target buat NE. Atau mungkin aku yang salah, karena berasumsi Ken mengkomunikasikan sama baiknya konsep ini ke teman-teman…”

      Ken menggumam. “Seharusnya mereka mengerti. Karena aku saja sudah didesak maju ke stronghold WW di NE di 100/100…”
      “Iya, itu poin penting sebenarnya,” komentar Ruby. “Sekarang komunikasi Ken dengan anak-anak di Hantu bagaimana? Terutama mereka yang Ken kasih arte cuma-cuma, lalu mereka pakai buat ancurin NE. Seperti Boxer, koq rasanya sakit banget...”
      “Cuma Jack yang masih bisa aku ajak ngobrol,” sahut Ken. “Yg lain belum terlalu…”

      Ruby menghela nafas. Ia merasa berhadapan dengan Stephen Elop sekali lagi.

      ---

      Ruby berkoordinasi dengan Rasta, Richy, dan Ron untuk evaluasi total kerugian di desa-desa mereka. Tidak ada artefak tercuri, tapi desa-desa hancur. Ruby juga kembali mengevaluasi opsi untuk kembali menyatukan Hantu ke Devil untuk bersama-sama membangun timur laut. Dodge serangan dari Hantu oleh teman-teman Rhesus seharusnya menjadi indikasi betapa teman-teman di Rhesus bersedia merendahkan egonya untuk kesatuan kuadran. Jika teman-teman di Hantu mau juga merendahkan egonya, bersama membantu rebuild dengan sumber daya maupun gold, tentu akan kembali menguatkan NE.

      Namun yang didapat hari itu, Richy kembali mendapat serangan dari Cowboy yang begitu dekat dengan desa Richy. Begitu dekat hingga hampir tiga kali sehari serangan dilancarkan ke Richy. Cukup sekali dodge, pikir Richy, serangan berikutnya pun ia defens dan memakan korban catapult Cowboy cukup banyak. Ronron juga tak hanya sekali mendapat serangan dari Erlan.

      Ruby tak pernah bisa membayangkan Laras dengan seragam navy. Ia merasa jiwa pirate Laras kembali mendominasinya. Maka ia undang Laras ke lingkaran manajemen RN (Royal Northeast) agar dapat lebih mudah memenej defens teman-teman.

      Ruby tahu yang terberat dari kondisi ini. Bukan pada bagaimana menej def dan membangun ulang desa, tapi justru pada menjaga semangat anak-anak ketika melihat desanya hancur. Ronron masih bersemangat menjaga artefaknya, kucing-kucingan dan menej snip cata Erlan. Tapi simming dan membangun ulang desanya yang hancur ketika sudah midgame itu membuatnya down. Maka ia minta tim Rhesus yang lain membantu mengcover tugas-tugas mandor untuk membangun ulang desa Ronron dan desa-desa lainnya. Hesfi bersedia untuk tugas itu.

      Berat pula untuk memulihkan trauma seorang Irfan, leader salah satu wing NE Fam yang sedang semangat-semangatnya belajar menej desa, membangun pasukan, dan berbagai seni kemiliteran travian land. Ia tunjuk Rasta menjadi mentor langsung Irfan dan langsung belajar dari desa-desa Rasta. Ia masih semangat ketika Rasta menghadapi wave dari NW, tapi mendadak menguap semangatnya melihat desa-desa Rasta hancur dalam sekejap oleh serangan Hantu. Dengan kebencian ia mengatakan tak ada yang penting satupun dari seni kemiliteran di travian, karena jauh lebih mudah menang dengan backstabbing teman sendiri. Ruby sedih, Irfan telah belajar hal yang keliru.

      “By,” ujar Felix malam harinya. “Serangan balasan start ya? Ke Hantu...”
      Ruby tak punya alasan untuk mengatakan tidak.

      “By,” ujar Felix lagi. “Kamu yakin Ken tak menipu kita? Kalau Hantu membelot darinya? Atau ia dalang juga?” Felix pribadi meyakini Ken hanya berpura-pura baik dan tetap berada di RN untuk memantau mereka.
      Ruby memang tak bisa yakin. Tapi menurutnya, mereka perlu memegang kata-kata Ken bahwa dia pun berorientasi main buat NE. Never put all your trust to anyone, tapi juga jangan paranoid, itu prinsipnya.

      Felix masih mengomel betapa gilanya tim Hantu yang tak memikirkan kuadran sendiri. Ia tak ingin Ruby condong ke mereka.
      “Aku jelas sudah hilang respek ke Hantu, Lix. Tapi Ken dan Devil, phi timbang semoga masih bisa menguatkan NE,” Ruby menanggapi.

      Felix kembali meracau. Kalau mau main busuk, ia juga bukannya tak suka. Ia melihat SW sudah jelas berada di ketiak NW. Sementara NE telah kehilangan 50% kekuatannya dengan membelotnya Hantu. RN tak akan sanggup jika harus sendirian melawan NW dan Hantu. Maka pikirnya lebih baik membuat semua kuadran berantakan sekarang jika memang sudah tak ada harapan untuk NE. Bla bla bla dan bla bla bla yang tak sepenuhnya Ruby dengar. Satu kekurangan plan Felix yang Ruby simpulkan adalah tak menyentuh NW sama sekali. Atau mungkin maksud Felix membiarkan semua kuadran berantakan dan NW tersisa berhadapan dengan Hantu dan biarkan kita melihat mereka berperang sendiri? Entahlah. Yang jelas, Ruby tak mau berpikir tentang politik luar kuadran saat itu.

      “Terserah lah Lix,” ujar Ruby. Asal ia bisa paham logikanya, ia tak mau tahu detilnya, pikirnya.
      Ruby juga tak ingin Felix menekan Ken terlalu keras saat itu untuk segera turut memerangi Hantu saat itu. Ia khawatir itu malah membuat Ken dan seluruh yang tersisa di Devil bergabung ke Hantu semua.

      ---

      21 November pagi

      “Arya bergabung ke Hantu, Ken,” ujar Ruby.
      “Serius?” Ken kaget. “Bentar lagi benar-benar dipaksa evaporate aku ni…”
      Owh, so that’s it?” sahut Ruby sinis.

      “Satu-satunya kunci bisa menarik Hantu kembali ada di Arya sebenarnya,” keluh Ken. “Semalam aku coba ubah arah mereka, respons negatif. Aku hanya bisa minta desa-desa Devil tak disentuh, juga mbak akan jauh dari ancaman…”

      “Apa kata mereka Ken?” tanya Ruby.
      “Haha, problemnya sebenarnya cuma di Felix,” sahut Ken. “Sesuai perkiraanku.”

      “Menurutku lebih dari itu,” sahut Ruby. Dan mereka mundur lagi ke argumen beberapa hari lalu. “Kalau cuma Felix, bukankah Felix sudah minta maaf dan kembali ke skema awal plan yang kita bangun? Anak-anak memang sudah sangat siap jadi bemper. Biar mereka hancur digebukin NW, plus SW sekalipun, asal tim Devil tetap punya kekuatan di akhir untuk jadi hitter NE ke kuadran lain. Makanya phi buat plan arte seperti itu… Tapi digebuk NE sendiri? Jadi sebenernya yang ga ikut sistem ini siapa si?”
      “Kalau maaf buat aku sih sudah ok, plus arte juga sudah balik,” sahut Ken. “Problemnya kan tidak semua orang punya pendapat seperti itu. Aku berusaha berpikir seperti Erlan yang meledak-ledak…”

      You supposed to try harder to control your team ego Ken…,” Ruby menghela nafas. “Kupikir mereka lebih segan dan mendengarmu… Ah Ken, kamu terlalu altruist, itu rasanya yg membuat mereka jadikan Ken ketua mereka. Seorang altruist yg dlm pandangan mereka akan kasih apapun demi mereka, tapi sebaliknya mereka ga mau denger pandangan kamu…”

      Ken tertawa getir. “Try harder? Caranya? Kalo kamu ngga denger, aku keluarkan dari Mansion dan dijarah satu mansion semua..? Kalau dengan personil baru yaa bisa digituin. Di sini yang bisa dipakai itu ngomong hati ke hati, dan logic… Kalo beneran ada ide bagus, ajarin aku deh…”
      “Ga ada ide Ken, you know them better,” keluh Ruby. Ruby hanya merasa Ken masih kurang kuat menyampaikan logic nya ke teman-temannya di Hantu.

      “Memang teman Erlan di NW siapa sih?” Laras nimbrung bertanya. “Sampai segitunya mengorbankan NE? Atau memang tim Ken sudah diplot sejak awal untuk melemahkan NE, bukan untuk berjuang demi NE?”

      “Ah, praduga... “ keluh Ken. “Itulah yang membuat orang jalan sendiri-sendiri. Praduga yang dikemukakan seperti yang aku pernah sampaikan ke mbak. Ada hembusan ‘Ternyata Felix sudah bawah tangan lho sama SE. Apaan nih.. katanya 1 lawan semua, bla bla bla…’ Kalau aku mah kaga makan umpannya. Aku beberapa malam berusaha berpikir di posisi Erlan dan teman-teman. Info itu plus anta spec langsung diambil. Plus no wonder awal-awal dia rebut 15c aku, yang ternyata deket border biar deff dari SE gampang. Sudah kubilang.. kasus ini aku beneran clueless.. Kalau dibilang dari awal plotnya adalah lemahkan NE… kenapa tak dari awal saja kita hajar? Kenapa harus nunggu sampe Felix desanya bejibun gitu?”



      Ruby ingat ketika Ken menanyakan info itu. Makin terang sekarang memang provokasi NW lah yang memicu Erlan bersikap seperti itu. Yang Ruby sesalkan kenapa Ken justru terkesan mengamini argumen Erlan dan kawan-kawan, bukannya malah intens menyampaikan visi ‘NW or SE, and we choose NE’... Ah, mungkin memang Ruby yang kurang intens juga menyampaikan ke Ken, sesalnya. Atau mungkin sosok Ken yang ia kenal apolitis itu memang terlalu bebal untuk memahami bahwa kuadran dominan dan berambisi seperti yang terbaca di tabloid pasti akan menggunakan langkah politik untuk menguasai kuadran lainnya. Sosok apolitis Ken yang tak bisa mengindra apa yang terjadi di SW yang juga terindikasi kerjaan NW, dan kini mereka berupaya menjadikan NE seperti itu…

      “Tengah malam aku dapat kabar Felix dan Richy wave ke Boxer,” Ken memecah keheningan perenungan Ruby. “Gawat,” cetusnya.
      “Kenapa gawat?” tukas Laras sengit. “Mereka sendiri kan yang mulai? Sekarang di wave balik mereka hubungi Ken, padahal sudah Ken coba rangkul. Sorry, sudah ga respek sama orang-orang di Hantu...”
      “Aku sudah tak mungkin nahan tangan anak-anak untuk tak serang balik,” Ruby menimpali. “Karena dalam pandanganku, Hantu juga yang mulai ga strict to the plan..”

      “No worries om,” Ken mengomentari Laras. “Aku juga tak maksa… Gawat itu complicated maksudku...”
      “Complicated kan karena mereka yang mulai,” lagi-lagi Laras menjawab dengan sengit.

      Dan dimulailah lagi adu mulut dengan argumen berputar-putar lagi. Tentang kesalahan awal siapa ini bermula. Nada Laras dan Ken sama-sama meninggi.
      “Berpikir itu indah kalau mikir dari 2 sisi,” ujar Ken. “Aku tak sepenuhnya salahkan Hantu. Meski aku percaya ada jalan yg lebih bagus sebenarnya daripada titik temu…”
      “Aku juga bilang pas awal masalah anta spec, aku juga sangat kecewa dengan Felix, dan sangat bisa bayangkan perasaan Ken, Erlan, dan teman-teman Devil,” komentar Ruby menengahi. “Kan sudah diberi opsi tentang full support rebuild dan back to the plan. Tapi bukannya mereka dengar Ken, mereka pakai cara titik temu lagi juga kan… Richy Ron Rasta Felix itu tak hanya sekali loh dapat serangan. Satu kali yang bareng NW dan SW, itu masih kita coba cari solusi untuk kembali, kita masih anggap mungkin karena emosi sesaat Erlan dan kawan-kawan. Tapi wave berikutnya Hantu jalan sendiri, bahkan tanpa NW turun…”

      “Sepertinya kesalahan Felix cuma masalah koordinasi arte dan itu cuma masalah komunikasi dan sudah terbayar,” lanjut Laras. “Selanjutnya kesalahan Hantu-lah yang fatal dengan mulai menghancurkan kekuatan NE…”
      “Makanya kalau mau cerita mulai, jangan langsung dijudge mulai dari Hantu,” balas Ken. “Anak-anak bisa kutahan. Sampai dengan arte, itu aku asli kelabakan, aku sendirian yang wajib menahan anak-anak. Felix menghilang, Mbak lama tak muncul…”

      Ruby menghela nafas. Kemarahannya ke registrar kembali meruak. Andai registrar tak salah memasang countdown, dan tahu sejak awal arte aka spawn malam hari, setidaknya ia bisa memiliki 120 jam untuk mempersiapkan koordinasi arte untuk bisa berjalan tanpa kehadirannya. Bukan hanya dalam 5 jam. Benar-benar seperti sudah diatur untuk keuntungan pihak tertentu.

      “Pertanyaanku mungkin tak akan terjawab deh,” ujar Ken lagi. “Andaikan cuma anta spec yang spawn di NE, apakah Felix akan balikin?”
      Ah, argumen usang itu, yang kembali Ruby jawab seputar kecewa terhadap orang atau sistem... dan berujung pada apakah sistem yang ia buat itu sudah terkomunikasikan dengan baik.

      “Ingat ketika aku sampaikan kekhawatiranku langsung ke Ken di koordinasi arte awal ke Devil, bilang koq aku rasa tak diterima di Devil, dan berharap Ken bisa lebih cairkan?” tanya Ruby. “Tapi ketika tak bisa juga, aku pasrahkan sepenuhnya ke Ken untuk sampaikan detil plan dan sebenarnya termasuk harapan jangka panjang ke mereka. Maaf ya Ken, kalau aku bebankan dan minta terlalu banyak dari Ken,” ujar Ruby akhirnya.
      “Aku yang minta maaf, karena tidak bisa memenuhi ekspekstasi itu…" sesal Ken. Padahal kalau tetap 1 tim, Devil biasanya bisa have fun dan guncang-guncang kuadran lain…”

      “Ayo kalau memang Devil awalnya bukan diplot untuk melemahkan NE, coba Hantu dirangkul lagi dan buktikan Hantu bukan mau melemahkan NE,” Laras menyimpulkan.
      “It’s impossible,” said pride.

      “It’s risky,” said experience.
      “It’s pointless,” said reason.
      “Give it a try,” whispered the heart.



      Ruby memang keras hati. Ia tak mau menyerah pada kesimpulan bahwa kedua sandaran hatinya telah patah. Sekali lagi ia memaksa untuk mengubah kelima bendera wing Devil dan NE Fam menjadi RN, yang kali ini Ken langsung jalankan.

      Ia pun minta segera dikirimkan pengumuman yang ia buat ke RN-Rh, RN-Wars, RN-Syn, RN-Devil, dan juga RN-GR…


      dear all,


      midgame telah kita masuki, dan hari-hari awal midgame ini sungguh luar biasa bagi kita. berbekal semangat untuk persatuan dan kesatuan kuadran NE, DEVIL fam dan NE fam lebur dalam Royal Northeast. dengan visi bahwa siapapun di dalamnya: newbie, pro, maupun lansia tak bergigi, teman lama, seteru lama, maupun yang baru dipertemukan di kuadran ini, bisa berjuang demi mimpi yang sama.

      lepas dari adanya sedikit miskomunikasi, kekurangsempurnaan plan di sana sini, juga beberapa keinginan yang tak semuanya dapat terakomodasi, hasil pengambilan artefak kuadran timur laut yang dikoordinir matahati dan kdrick sebenarnya cukup menggembirakan. kita berhasil mengamankan sebagian arte penting yang dapat digunakan untuk kekuatan kita.

      saat itulah, kita menghadapi serangan real dari kuadran lain, yang pedang merahnya telah menghiasi sejak H-1 arte. serangan terkoordinir dari kuadran NW dan SW sekaligus menjadi ujian kekompakan kita dalam defend, dan terima kasih atas respons cepat teman-teman semua dalam menghadapinya. mereka memang cukup berhasil melukai kita, namun kita tunjukkan bahwa semangat kita tak terpatahkan.

      yang justru paling melukai kita adalah, ketika sesama saudara kita di timur laut ikut dalam koordinasi bersama 2 kuadran lain menyerang kita. sebagian teman-teman di tim DEVIL berpindah ke aliansi HANTU dan menyerang kita dengan eta yang sama dengan kuadran NW dan SW. kita berusaha berbaik sangka ini hanya luapan kekecewaan sesaat akan proses dan hasil pengambilan arte yang sebenarnya telah diperbaiki miskomunikasinya.

      namun begitu serangan tersebut dilanjutkan dengan serangan berikutnya keesokan harinya, kita pun jadi tahu siapa yang bersedia merendahkan egonya dan bermain dengan dikendalikan mimpi bersama kita, serta siapa yang lebih besar dikendalikan egonya hingga memilih menyakiti saudara sekuadran.

      karenanya, kini saya memanggil teman-teman semua, yang memang bersedia merendahkan egonya utk bermain bersama sbg keluarga Royal Northeast, untuk kembali menata dan menguatkan barisan.

      Saya minta respons mm ini dengan menyampaikan data pasukan teman-teman secara personal ke matahati agar memudahkan mengkoordinir def dan menyusun bg.

      dan bagi yang mendapatkan wave serangan, harap melaporkan juga wave yg diterimanya ke matahati. tks.

      be strong n honorable all,
      -Ruby (matahati)⁠⁠⁠⁠


      glossary
      .Stephen Elop - CEO Nokia sebelum diakuisisi Microsoft
      Yang paling bertanggung jawab atas kehancuran Nokia adlh Stephen Elop, sang CEO. Elop adlh CEO Nokia pertama yg bukan warga negara Finlandia. Banyak spekulasi bahwa Elop adlh kuda troya, yg misinya memang mempersiapkan Nokia utk diakuisisi Microsoft kemudian. Banyak kebijakannya terbukti melemahkan perusahaan tersebut. Elop jelas membantah spekulasi tersebut. "The obvious answer is, no. But however, I am very sensitive to the perception and awkwardness of that situation,” begitu ia membela diri.
      Pengistilahan Stephen Elop ini pertama phi pakai di novel ts3 ss7 untuk menggambarkan Fajar, sang anak 'durhaka' phi, di SW yang berperan dalam kehancuran SW untuk kemenangan Raven di SE. Seperti halnya jawaban apakah Elop memang hanya sosok leader yang tak kompeten sehingga membawa Nokia pada kehancuran, atau memang sosok yang ditanam Microsoft untuk kepentingan mereka yang tak akan terjawab kecuali oleh Elop dan Microsoft sendiri... begitupun sosok Fajar di SW ts3 ss7 tersebut.
      Dan di novel ini, panggilan Elop phi berikan lagi, yang kedua ini untuk Ken di NE :)
      more, plz read:
      Stephen Elop - Wikipedia
      Nokia CEO ended his speech saying this “we didn’t do anything wrong, but somehow, we lost”.
      | LinkedIn
      "The most blessed leader is one who loves the people, and -in return, they love him" (Mohammad PBUH)

      If ur depressed ur living in the past. If ur anxious ur living in the future. If ur at peace ur living in the present" (LaoTzu)

      The post was edited 4 times, last by swann: deskripsi tambahan mengenai siapa itu Stephen Elop dan kenapa panggilan itu diberikan Ruby ke Ken. ().

    • New

      el_payaso_ID wrote:

      Dasar pengkhianat kau Fajarrrrrrrr
      hahaha ada yang gagal fokus...

      siapkan air putih yang banyak, atau teh biar rileks, atur nafas, baca dengan tenang ya...
      ditunggu komennya :)
      "The most blessed leader is one who loves the people, and -in return, they love him" (Mohammad PBUH)

      If ur depressed ur living in the past. If ur anxious ur living in the future. If ur at peace ur living in the present" (LaoTzu)
    • Artefak: Antara Hati yang Terserak

      New

      Chapter 5. Tough Heart

      Part two. Artefak: Antara Hati yang Terserak

      Setelah mengirimkan pengumuman ke seluruh ksatria RN, Ruby kembali ke pondoknya. Dilihatnya adiknya berdiri menunggunya di tangga untuk naik ke pondok. Salah satu salinan gulungan pengumuman yang ia buat ada di tangan adiknya.

      Ah, that mischievous smile,’ keluh Ruby melihat senyum yang menghiasi wajah adiknya. (Mischievous itu kalau di terjemahan artinya nakal atau iseng, tapi sebenarnya lebih spesifik lagi, ada ekspresi menggoda, kepuasan ketika berhasil melakukan suatu hal yang buruk atau mengungkap suatu hal tersembunyi, tapi sebenarnya tanpa maksud merugikan)

      “Jadi ini rupanya penyebab Mbak tak nampak terlalu senang di pagi hari persis setelah arte itu?” olok Panjul sambil menyerahkan gulungan pengumuman itu ke Ruby. “Juga tak banyak bicara soal kondisi di timur laut belakangan ini?”
      Ruby hanya diam. Ia pasrah apapun yang akan adiknya sampaikan.

      “Kalau koordinator arte tak muncul pada jam-j arte, bubar aja dah aliansinya,” ujar Panjul, masih dengan ‘that mischievous smile’ terkulum.
      “Ya kan Mama ga bisa ditinggal Jul,” sahut Ruby. “Kalau tahu sejak 120 jam sebelumnya arte akan keluar malam juga aku pasti akan punya waktu cukup untuk siapkan pengambilan arte di bawah koordinasi orang lain…”

      “Arte keluar berapa kali si Mbak? Cuma sekali dalam 10 bulan, masa ga bisa alokasikan waktu khusus…” olok Panjul lagi. “Bilanglah sama Mama, mau jadi komandan dulu sebentar… Siapin dulu minumnya, makannya, obatnya, minta ijin pergi dulu lah bentar untuk urus arte, hahaha…”
      “Ih, durhaka kamu Jul… Mama mana bisa digituin...”

      “Ya lagian, masih belagak jadi komandan,” cibir Panjul.
      “Iya deh Jul, salahku ini,” ujar Ruby. “Pusing ni aku sekarang…”

      “Met pusing-pusing ya, saia mau cari asyik sendiri aja ah,” ujar Panjul. “Nyesel saia ikut lady pirate satu ini. Dah bela-belain wreak havoc lalu evaporate dari RoA land demi ke sini, eh si lady malah ampuni tu si orang India tengil. Sebel lagi sampai sini ternyata juga berantakan gegara si lady ga muncul di waktu arte spawn…”
      “Serah kau deh, Jul,” Ruby nyengir.

      “Kayaknya bukan lady pirate mah ini pantesnya namanya,” ujar Panjul. “Lady donkey aja deh…”
      Ruby tertawa. Ah, dasar Panjul. Benar-benar tepat ia memilih panggilan Panjul untuk adiknya. Karakter panjul itu biasa ceplas-ceplos tanpa menutupi apapun ketika berbicara, yang biasanya mudah memicu kemarahan yang dikata-katai jika tak meluaskan hatinya karena sebenarnya kritiknya selalu benar.

      “Bye, lady donkey…” Panjul meninggalkan pondok Matah sambil tertawa. Ruby mencibir sambil melempar gulungan pengumumannya ke punggung adiknya yang masih tertawa-tawa.

      ---

      22 November pagi

      “Rasanya aku berhasil yakinkan Boxer dan Arya,” Ken menyampaikan dengan sumringah.
      “Syukurlah,” sahut Ruby sambil tersenyum, “pengumuman kemarin sebenarnya juga buat ajak lagi yang sudah di Hantu untuk lowering ego lagi…”
      Ken tertawa sambil menepuk jidatnya.
      “Eh, belum Ken umumkan di Devil dan GR ya?” tanya Ruby.
      “Lupaaaaaaa…” sahut Ken. “Ok aku umumkan pagi ini.” Ken pun kembali ke Devil Mansion untuk mengirimkan pengumuman.

      “Oh ya, aku butuh setono,” cetus Ken sambil menghentikan langkahnya, “setono kecil di mana lagi ya…”
      Ruby sebenarnya memiliki setono kecil, tapi ia tak mendengar pertanyaan Ken karena sudah agak jauh dan ia sedang sibuk beberes.

      ---

      Seperti biasa, Ruby berkeliling kembali mengecek kondisi para ksatria yang babak belur dihajar Hantu. Memastikan semangat mereka tetap terjaga, mengecek kebutuhan sumber daya jika diperlukan tambahan dari teman-teman satu mansion, sekaligus menandai sisa pasukan di desa-desa penyerang. Pagi itu ia mengunjungi Rasta.

      Rasta menyambut Ruby, tetap bersemangat. Tapi kantung mata dan lingkaran kehitaman di kelopak matanya tak bisa disembunyikan. Anak ini terlalu lelah, pikir Ruby.

      “Kau perlu tidur, Rasta,” saran Ruby. “Sini aku bantu berjaga.” Ruby tahu masih belum bisa mengandalkan Irfan, ia masih menghilang setelah begitu terpukul kemarin.
      “Sebentar lagi Mbak, ini sambil menunggu pasukanku tiba,” sahut Rasta. “Semoga sukses mengambil artefak NW.”

      “Wah, ke mana Rasta?” tanya Ruby.
      “Tunggu saja sebentar lagi Mbak,” sahut Rasta sambil tersenyum.
      Tak berapa lama, seorang penyampai pesan datang dari medan pertempuran. “Tuan Rasta, pasukan yang berangkat ke desa Tsunzu berhasil merebut artefak lawan…”
      Rasta tersenyum lebar.

      Ruby turut menyimak gulungan laporan yang diantarkan penyampai pesan tersebut kepada Rasta. Ia pun turut tersenyum lebar. Dewi sri kecil lawan berhasil mereka ambil. Dengan bonus membunuh hammer yang sedang menginap di desa lawan tersebut. Ruby benar-benar bangga dengan Rasta.

      “Aku masih mau rebut lagi, Mbak, dari Hantu,” ujar Rasta. “Kita ada hammer teman-teman dekat Erlan atau arte Hantu lainnya?”
      Ruby menyerahkan data pasukan teman-teman di RN ke Rasta.

      “Eh, tapi Ken gapapa kan Hantu kena hajar?” tanya Rasta lagi.
      Ruby mengangguk. “Ken dan yang berada di Devil saja yang kita tahan tangan kita dari mereka. Oh ya, dan kata Ken, Arya dan Boxer yang sedang dalam proses kembali ke RN…”

      “Sebenarnya gimana si Hantu itu? Apa mereka beneran main buat NW atau jangan-jangan ini cuma kerjaan musuh bebuyutanku di NW yang terbukti kemarin dia saja yang dari NW yang menyerang kita sisanya dari Hantu bla bla bla… bla bla bla...”
      “Rasta,” tegur Ruby. Ia pusing mendengar Rasta mengigau tanpa titik dan koma. “Kau benar-benar perlu tidur…”
      “Iya Mbak, aku istirahat dulu,” ujar Rasta.

      ---

      dear all Royal Northeast,

      Satu arte penting di NW berhasil kita curi hari ini, lengkap dengan bonus razia hammer lawan *veryhappy*
      Ayo kirimkan defens terbaik ke desa Rasta sembari menunggu diskonan gandum kurang dari 24jam lagi di sana.
      Jangan lupa pula untuk mengirim sumberdaya untuk recovery ibukota Rasta sebanyak2nya
      Semangat all!!!

      Strength n Honor,
      RN management team

      Pengumuman itu segera Ruby sebarkan, untuk tetap menyemangati para ksatria di RN. Ken pun ia kabari, karena Ruby ingin membuka mata Ken, timur laut sebenarnya masih sangat bergigi untuk menghadapi NW, dan ribut sendiri di dalam kuadran itu kesia-siaan.

      ---

      Sementara itu di Devil Mansion, seorang ksatria membaca pengumuman yang Ken sampaikan di Devil berkaitan dengan situasi di timur laut, penegasan posisi RN dan Hantu. Ini adalah gulungan pengumuman pertama yang ia terima dari ketuanya setelah seratus hari lebih bergabung di Mansion Devil.

      Ksatria itu memang selama ini merasa nyaman dengan kacamata kuda yang ia pakai. Mengembangkan desa dan pasukannya, bergabung dengan Devil karena undangan Ken yang melihat potensinya, dan kembali menyibukkan diri dengan desanya, tanpa peduli hiruk pikuk apapun yang terjadi di luar. Ia mengenal Rasta yang pernah bermain bersama sebelumnya, tapi juga tak terlalu banyak berinteraksi dengannya. Satu-satunya yang kadang ia ajak bicara adalah Laras, karena persamaan mereka berdua di Mansion Devil sebagai anggota baru yang ada maupun tiadanya sama saja. Ya, dia Yuwi, sama seperti Laras, mereka baru bergabung dengan Devil tahun ini, dan sama sekali tak terlibat dengan apapun yang para ksatria Devil lainnya bicarakan atau lakukan.

      Yuwi membaca nama penulis pengumuman itu. Dia tak terlalu kaget melihat bahwa bukan ketuanya yang menulis pengumuman itu. Yuwi menilai Ruby sebagai sosok yang gemar merepotkan diri sendiri untuk membuka kacamata kuda yang dikenakannya. Pertama, menjelang arte, Ruby memasukkannya ke dalam ruang koordinasi arte, yang membuatnya mengenal siapa-siapa saja ksatria yang tinggal bersamanya di Mansion Devil dan tetangganya di Mansion Rhesus. Tak berhenti sampai situ, Ruby mengumpulkannya bersama Rasta dan Ken, karena mereka bertiga berdekatan desa-desanya, sehingga Ruby harap mereka bisa bekerja sama baik menyerang bersama atau memenej defens.

      Sebenarnya alasan Yuwi sengaja mengenakan kacamata kuda cukup sederhana. Sebagai pemain lama yang mengenal dan dikenal banyak pemain lain ia tak mau terbebani cerita masa lalunya mengganggu keasyikannya bertani saat ini. Ia tak suka mendadak mendapat serangan hanya karena dendam masa lalu terhadapnya, atau sebaliknya: mendapat pesan beramah tamah yang bisa menimbulkan perasaan tak enak jika harus menyerang kenalan di kuadran lain. Ia melihat kuadran tempat ia tinggal saat ini sangat potensial, bahkan ia prediksi akan menghadapi tiga kuadran lain sebagai lawan, sehingga ia memilih memasang kacamata kuda dan asyik berkebun untuk kekuatan kuadrannya di akhir nanti.

      Tapi pengumuman yang diterimanya pagi ini sekali lagi membuka kacamata kudanya, karena ternyata bukan ketiga kuadran lain yang dihadapi, justru kuadran sendirilah yang kini memerangi mereka.

      Belum hilang kekagetannya membaca pengumuman Ruby tentang posisi RN dan Hantu, seorang legati mengetuk pintunya dan menyampaikan surat lain. Dari Hercules. Di Mansion Hantu. Hercules minta setono besar yang Yuwi pegang dioper ke Hercules setelah selesai penggunaannya. Ia bingung, bukankah baru saja ia mendapat pengumuman bahwa Hantu adalah musuh bagi keutuhan kuadran.

      Ia pun mendatangi Laras, dan minta pendapatnya.
      “Jadi posisi Hantu saat ini benar-benar musuh?” tanyanya.
      Laras hanya mengarahkan sesuai yang tertulis di pengumuman, sambil menegaskan betapa ia mengenal baik sejak lama dan mempercayai Ruby yang menulis pengumuman itu.

      Yuwi pun mengambil sikap, kalau Hantu benar menyerang kuadran sendiri, ia juga tak akan mau mengoper setono besarnya. Ia tak mau arte yang ia ambil dengan tenaganya sendiri dari natar di tenggara -sesuai pembagian PIC arte yang Ruby susun, menjadi arte gratisan bagi Hantu. Yuwi pun mendiamkan tanpa menjawab pesan Hercules.

      ---

      Lain lagi Richy. “Bu, mau pegang slipih kecil ga?” Ia tertekan karena desa-desanya terus mendapat serangan dari Hantu.
      Ruby pikir tak berguna slipih kecil di Matah. “Kalau ada yg mau jalan menyerang, kasih slipih nya ke dia. Kalo ga ada, kasih Sans Nom.” Ruby pikir, setidaknya ada telik besar di Felix yang bisa lebih melindungi artefak tersebut. “Kalo ga ada alternatif lain, baru ke Matah.”
      “Ya sudah ke Felix saja,” ujar Richy akhirnya.

      “Masih banyak wave ke Richy?” tanya Ruby.
      “Kunjungan rutin Bu. Tiga kali sehari, dah kayak minum obat aja,” Richy tertawa getir.
      “Masih dari Cowboy?”
      “Cowboy, Boxer, rutin Bu. Kadang Erlan ikut…”
      Ruby menepuk bahu Richy, menguatkan pejuang kuadran yang taat sistem itu.

      ---

      Malam harinya, ketika Ken kembali berkunjung ke Pondok Matah, Laras minta izin untuk mengirim pesan ke Erlan.

      Malam bro Erlan...

      Menyikapi situasi terkini di north east yang sedang bergejolak perang internal kuadran, maka berikut permintaan saya dan sikap kami (mewakili ken) ke bro Erlan secara khusus dan Hantu pada umumnya :
      1. RN-Devil tidak akan ikut terlibat perang internal NE yang artinya RN-Devil tidak akan menyerang RN-Rh beserta sekutunya dan tidak akan menyerang Hantu.
      2. Harap kiranya Hantu tidak menyerang RN-Devil ataupun menyeret-nyeret meanggota RN-Devil untuk ikut terlibat langsung perang internal NE.
      3. RN-Devil diperuntukkan tetap menjaga dan menyimpan kekuatan NE baik secara attack ataupun secara deff demi mewujudkan kepentingan NE jangka panjang.

      Maksud dan tujuan igm ini semata krn saya pribadi mempunyai mimpi yang sama dgn Ken untuk memenangkan NE. Mengingat hubungan bro Erlan dan ken yg memang sudah satu tim dan melewati suka duka sebelumnya, saya pribadi bisa merasakan "kegalauan" ken dan berada di posisi ken yang serba sulit untuk bisa terlibat langsung konflik ini. Sebagai penekanan saja kalau saya dan ken lebih memilih tidak terlibat konflik ini bukan karena cari aman atau ken tidak setia atas hubungan yang telah terjalin sebelumnya dengan bro Erlan dan teman-teman di Hantu tapi sikap dan permintaan ini bertujuan untuk mengamankan dan menyimpan kekuatan NE pasca konflik.

      Besar harapan saya konflik ini segera berakhir dan terselesaikan dengan baik agar NE bs kembali pada jalur untuk merencanakan kemenangan.

      Terima kasih atas perhatiannya.

      Salam
      Ngompol aka laras


      Ken mengacungi jempol naskah surat tersebut, maka Laras segera mengirimkannya. Ruby pun sangat memahami posisi Ken, karena ia pun pernah berada di tengah perseteruan kedua kubu teman dalam kuadran dan tak ingin menyakiti kedua pihak.

      Apalagi siang tadi Rasta telah memastikan rencana untuk menyerang Hantu, yang ia tahu perang di midgame pasti akan menghabiskan sumber daya kuadran. Dengan kondisi NW masih utuh kekuatannya, ini sangat merugikan timur laut. Jadi perlu ada upaya damage control agar tak semua kekuatan timur laut habis saat ini, pikirnya.

      “Kalau dari pengamatan Ken sendiri, Erlan arahnya ke mana si Ken?” tanya Ruby. “Dan dari hasil diskusi dengan tim Hantu, kira-kira akan sampai seperti apa target yg mereka harap dari perang internal ini?”

      Belum sempat Ken menjawab, seorang penyampai pesan mengantarkan sepucuk laporan kepada Ruby. Ruby menautkan alisnya begitu membacanya.

      “Arya sudah mulai intai kastil Matah,” cetus Ruby.
      “Masa? Seharusnya Arya tadi pagi sudah aman. Juga Boxer. Apa ada orang lain yang memimpin pasukannya ya...” gumam Ken. “Kapan mbak?”
      “Baru saja beberapa menit lalu,” jawab Ruby.
      Ken menghela nafas. “Aku tak bisa lihat laporan pergerakan pasukan.. beda mansion semua, buta aku…” keluhnya.

      “Panjang umur, baru kemarin aku bilang jumlah scout yang menjaga setono kecilmu perlu diperbanyak By,” komentar Laras melihat laporan tersebut. Terputus komentarnya oleh kedatangan penyampai pesan Laras membawa balasan surat dari Erlan.

      'Wa hanya akan musnahkan parasit NE dan timnya.
      Yang Devil wa ga akan sentuh.

      Salam
      Hantu Berok'

      “Ckck, Erlan sekali…” komentar Ken. Ruby enggan berkomentar

      “Oh ya, Yuwi sudah hampir selesai tono besarnya ya…” Ken membuka topik baru. “Rasta bakal lanjut pakai?”
      “Rasta dah ada arte gede,” komentar Ruby.

      “Kalau saranku sih arte yang di Devil hanya akan di rolling internal Devil, jangan sampai gara-gara rolling arte nanti menimbulkan gesekan baru,” saran Laras. “Soalnya yuwi bilang Hercules minta setono besarnya. Kalau dari RN-Devil dirolling ke RN-Rh nanti Hantu bisa makin panas. Kalau sudah kondusif baru kita oper ke RN lainnya.”
      Ruby dan Ken mendengarkan.

      “Jadi habis ini setono besar dipakai Anthony atau Ken dulu…” lanjut Laras.
      “Aku ada arte besar, Anthony boleh juga deh,” sahut Ken.
      Anthony adalah tetangga terdekat kedua Matah setelah Arya. Dan Anthony termasuk yang tersisa di Devil menemani Try dan Ken meski yang lain pindah ke Hantu. Melihat populasi Anthony berada di deretan atas seluruh pemain timur laut, Ruby pikir ia kandidat yang tepat untuk memegang setono besar untuk nanti dioper melalui sistem chief.

      “Hmmm ya sudah… kalau memang mau, aku minta Anthony siapkan satu desa buat itu,” Ken mengiyakan. “Saat ini gudang ilmunya sedang menuju level 14…”

      Laras merasa cukup dengan pembahasan malam itu. Ia beranjak ke dapur menyiapkan minuman panas lagi.

      Ruby menarik Ken dan memposisikan mereka duduk berhadapan. “Hate you Ken,” ujar Ruby. “I do hate you…”
      Ken tertawa getir. “Thank you Mbak, I guess…”
      Ruby kembali mengomeli Ken yang menurutnya terlalu lemah, tak visioner, kurang ngotot, dan menyebalkan. Ruby menyalahkan dirinya yang percaya dan berasumsi Ken pintar mengkomunikasikan mimpi. Gaya kepemimpinan Ken yang Ruby nilai gampang dimanfaatkan orang. Yang ketika ada yang tak beres, memilih bertindak sendiri langsung (mengambil arte lain keinginan anggotanya) karena tak mau ribet, bukannya memilih mengalokasikan waktu yang lebih banyak untuk membuat sistem jalan lagi…

      “Yang lama di dapurnya ya Ras,” teriak Ruby ke Laras. “Aku sedang omeli Ken…” serunya lagi, lalu kembali menghadap Ken.

      “Hhahaha style kepemimpinan orang beda-beda Mbak,” komentar Ken.
      Just my 2 cents Ken,” ujar Ruby akhirnya. “Bukan berarti juga aku bisa lebih baik…” keluh Ruby.

      ---

      23 November pagi,

      Felix menyambangi kastil Ruby sambil mencak-mencak bak kebakaran jenggot.

      “By, lihat ini,” seru Felix menyodorkan salinan surat. “Puas? Ditipu mentah-mentah sama Ken?”
      “Eh, apa sih?” Ruby tergopoh-gopoh menerima salinan surat tersebut.

      ‘Habis kamu, setono besarnya oper ke aku ya.
      Ken sudah acc.’

      Itu yang terbaca di surat itu. Tertulis pengirimnya Hercules. Ini tentu surat untuk Yuwi.

      Kalimat terakhirnya aneh. Bukankah semalam sudah Ken putuskan bersama Laras juga bahwa setono Yuwi akan dioper ke Anthony, pikir Ruby.

      “Tuh, sekarang tahu kan By, orang yang kamu percaya, bela mati-matian, emang dasarnya busuk di sananya,” Felix makin mencak-mencak.

      “Sebentar Lix,” Ruby berusaha mendinginkan. “Ini surat kamu dapat dari mana? Dan ini surat kapan? Pagi ini? Atau kemarin?”

      Felix mendengus.

      ---
      "The most blessed leader is one who loves the people, and -in return, they love him" (Mohammad PBUH)

      If ur depressed ur living in the past. If ur anxious ur living in the future. If ur at peace ur living in the present" (LaoTzu)