Struggle of The Heart [new story]

    Would you like to know what’s going on in the Tournament 2017 Finals?
    Keep yourself updated by reading "The Corner"!

    • Post-credit Scene

      Kembali ke penghujung November…

      Hiruk pikuk para ksatria, pedagang, petani, atau sekedar petualang mengantri di gerbang server 5 yang baru saja dibuka. Para penjaga mengatur barisan sambil sesekali berteriak mengingatkan agar orang-orang menyiapkan dokumen mereka dan tertib mengantri. Beberapa penjaga yang lain sibuk mengarahkan mereka yang telah menerima stempel dari registrar untuk berjalan menuju lokasi tempat tinggal masing-masing.

      Baru saja melewati meja registrar, Felix bersama tim Rhesus melangkah menuju barat daya. Richy, Rasta, Freddy, Icad, Hi-Men, Voo, Hesfi, dan wajah-wajah lama lainnya terlihat di antara mereka. Ada juga beberapa wajah baru. Di antara wajah-wajah baru itu ada segelintir ksatria barat laut di server sebelumnya, termasuk Valkyrie.

      Valkyrie nampak santai bercanda dengan Icad, sesekali ditingkahi saling meninju bahu lawan bicaranya. Felix tak terusik sama sekali. Rhesus Mansion akan ia dirikan kembali di negeri baru ini, dan ia membuka lebar pintunya bagi kawan maupun lawan sebelumnya yang memang mau bekerja sama.

      Hanya Richy yang sesekali terantuk kakinya karena kurang konsentrasi melangkah. Beberapa kali ia menengok ke belakang, ke arah antrian di meja registrar yang kian lama kian samar karena telah jauh mereka tinggalkan, sehingga tak sadar ada batu atau akar pohon menghalangi langkahnya...

      Di depan meja registrar itu, Ruby dan keluarga kecilnya tengah mengantri. Perlahan merangsek mendekati meja registrar, hingga tersisa antrian beberapa orang di depan mereka. Tak hanya berlima, ada tambahan empat orang di belakang mereka, dan satu orang terakhir yang lambat-lambat berjalan sehingga agak berjarak dengan sembilan orang lainnya.

      Laras mendekat ke Ruby dan berbisik. “By, kau yakin mengajaknya?”
      Ruby mengangguk dengan mantap.
      “Bagaimana kalau dia sebenarnya terlibat dalam kekisruhan timur laut kemarin?” Wajah Laras nampak khawatir.

      “Laras,” ujar Ruby menenangkan, “Ruby hanya ajak Ken... tidak bersama adik-adiknya… apalagi Erlan.”
      Wajah Laras masih menampakkan protes.
      Ruby menepuk bahu Laras sambil tersenyum. “Bahkan seandainya pun benar dia turut terlibat…” Ruby kembali memberikan senyumnya, “everybody deserves a second chance nah?”
      Laras mengangkat bahunya. “Terserah kamu saja lah By,” sahutnya ketus.

      Ruby kembali tersenyum. Ia telah sampai di depan registrar.
      “Nama yang digunakan?” tanya registrar.
      “Kaya,” jawab Ruby mantap, tangannya erat menggenggam jurnal dengan bongkahan batu Ruby di sampul kulitnya. “Nama saya kaya,” ulangnya.

      “Suku?” tanya registrar kembali.
      “Galia,” sahut Ruby.
      “Kuadran?”
      Ruby menengok sekilas ke arah barat daya, rombongan Felix kini nampak hanya seperti titik-titik di tengah luasnya lahan barat daya.

      “Nona, kuadran mana?” registrar kembali bertanya, tak sabar.
      Ruby menghembuskan nafasnya perlahan. Tangan kirinya masih menggenggam jurnalnya, sementara tangan kanannya ia letakkan ke meja registrar, menunjuk satu lokasi di peta yang tergelar di sana...

      "The most blessed leader is one who loves the people, and -in return, they love him" (Mohammad PBUH)

      If ur depressed ur living in the past. If ur anxious ur living in the future. If ur at peace ur living in the present" (LaoTzu)
    • Rembang Bintang - sebuah pengantar

      Hai semua, sudah siap untuk buku kedua? Dan inilah bocoran pertama mengenai buku kedua nanti.
      Judul buku kedua dari seri Struggle of The Heart adalah...
      Rembang Bintang

      Apa itu rembang bintang? Rembang berarti titik di langit, (posisi) setinggi-tingginya, atau tepat benar (waktunya).

      rembang/rem·bang/ a 1 setinggi-tingginya (tentang matahari, bulan); titik di langit;
      2 kl tepat benar (waktunya): segala takwin kitab dibuka, -- lah saat dengan ketika;
      -- petang : menjelang sore
      (Kamus Besar Bahasa Indonesia)


      Dalam astronomi, istilah rembang digunakan sebagai titik acuan pengamatan bintang atau benda langit lainnya. Dikenal istilah rembang atas, rembang bawah, selain juga titik terbit dan terbenamnya. Rembang bintang merupakan interpretasi phi untuk ‘Verum Omnia Simul Astra’ yang tertulis di sampul jurnal yang Ruby pegang.

      ‘Verum omnia simul astra’ adalah tulisan di atas bongkahan batu ruby yang tertera di sampul jurnal milik Ruby. Jurnal dengan gambaran seperti itu sebenarnya phi ambil dari Pirates of The Caribbean 5 (Salazar’s Revenge = Dead Men Tell No Tales). Dalam PoTC 5, jurnal tersebut digambarkan sebagai jurnal Galileo Galilei, yang beberapa kali berpindah tangan sepanjang sejarahnya. Kepemilikan jurnal tersebut berakhir di tangan Carina Smyth, seorang saintis perempuan, penggemar astronomi, horologi (ilmu tentang waktu), dan matematika. Satu hal tak lazim pada masa itu, sehingga acapkali kemampuannya disalahartikan oleh orang-orang yang lantas menuduhnya sebagai penyihir. Jurnal itu adalah pembimbing perjalanan Carina, proses pembuktian kemampuan dirinya sebagai ilmuwan. Juga proses pencarian jati dirinya, terutama pencarian akan sosok ayah yang meninggalkannya ketika bayi di sebuah panti asuhan dengan mewariskan buku tersebut padanya.

      ‘Verum omnia simul astra’ sendiri terjemahan bebasnya adalah ‘kebenaran yang muncul ketika semua bintang berada dalam posisi tertentu pada waktu yang bersamaan’. Inilah ‘map no man can read’, susunan rasi bintang tertentu yang menjadi peta penunjuk jalan ke Trisula Poseidon. Trisula yang di POTC 5 digambarkan dapat menghilangkan segala kutukan. Henry (Will Turner Jr) mencari trisula ini untuk membebaskan ayahnya (Will Turner) dari kutukan terikat selamanya di Flying Dutchman. Sementara Capitan Salazar, seorang mantan kapten Royal Navy Spanyol, memburu trisula ini untuk menghilangkan kutukan status imortalnya, agar bisa membalas dendam pada Jack Sparrow, pirate yang menjadi musuh besarnya. Jack pun harus mendapatkan trisula ini, sebelum Salazar berhasil menemukannya.

      •••

      Itulah mengapa Rembang Bintang penulis pilih sebagai judul buku kedua Struggle of The Heart. Satu titik, di mana bintang tersebut tepat benar menunjukkan arah yang dituju. Karena pergulatan hati Ruby masih berlanjut di buku dua ini, dengan alur sentral melibatkan jurnal yang digambarkan dipegang oleh Ruby di akhir buku satu. Pemilihan judul Rembang Bintang ini juga terinspirasi kata-kata om Dicky ketika memilih nama akunnya, Sunset. “Matahari terbit, dan akhirnya terbenam…” Phi telah memilih morning sebagai namanya di ts1, dan New Dawn sebagai kastilnya, maka waktunya om Dicky menutupnya dengan sunset. Karena rembang bintang, hanya bisa diamati setelah sunset menjelang...

      Di akhir novel Lil Happy Family, phi tulis bahwa sakit jiwa phi belum sembuh betul rupanya. Wahamnya bahwa ia adalah Keira Knigthley yang memerankan Elizabeth Swann di PoTC. Jadi ketika Keira mengatakan, "My time has definitely passed, I loved it, it was an amazing experience but I won't be going back," phi berhenti menjadikan lady pirate sebagai alter egonya. Dan begitu mengetahui bahwa Kaya Scodelario-lah yang menjadi female lead di PoTC 5, phi pun membatin, “kaya, itu nama saya selanjutnya…”

      Tapi ternyata Elizabeth Swann (atau Elizabeth Turner, tepatnya) muncul juga sebagai cameo di PoTC 5. Jadi kira-kira, di buku kedua Struggle of The Heart ini, Ruby akan berperan sebagai Mrs. Turner atau Carina Smyth ya… Atau malah dua-duanya, mungkin ga ya?

      Lalu Laras, apakah posisinya di buku dua nanti kembali menjadi Jack, atau mempertahankan naik pangkatnya di buku satu kemarin sebagai Mr. Turner? Yang jelas kutukannya berada di kuadran yang senantiasa terpecah dan kalah masih belum terpatahkan. Felix jelas akan muncul lagi di buku dua, dia yang memiliki kutukan bahwa tangannya lebih cepat dari apa yang bisa lidahnya komunikasikan, jadi mungkin lebih tepat dia menjadi Jack nantinya. Tapi ada figur Capitan Salazar, tidakkah kira-kira Felix layak menyandang predikat itu di buku dua nanti? Atau malah jangan-jangan Valkyrie? Dia yang telah mematahkan tanduknya, akankah tanduknya tumbuh kembali nanti?

      Bagaimana peran dan evolusi karakter dari pemain lama di buku satu? Masihkah skenario jahat ala 'kumpeni' membayangi di buku dua ini? Kabarnya Ruby, Laras, Felix, dan Valkyrie akan kembali dipertemukan dan terlibat cerita dengan Light di buku dua ini...

      Apapun ceritanya, pertanyaan besarnya adalah apakah kutukan siapa pun itu, akhirnya berhasil terpatahkan? Karena di buku satu, ternyata kisah Ruby tak berakhir seperti cerita asli Rubiyah. Maka di buku dua nanti, akankan jurnal Ruby mengantarkan mereka ke rembang bintang, lalu sama seperti happy endingnya PoTC 5 bahwa akhirnya kutukan Will Turner berhasil dipatahkan? We’ll see…

      •••
      "The most blessed leader is one who loves the people, and -in return, they love him" (Mohammad PBUH)

      If ur depressed ur living in the past. If ur anxious ur living in the future. If ur at peace ur living in the present" (LaoTzu)

      The post was edited 3 times, last by swann ().

    • ibu swann yg saya hormati , tiket bioskop saya udah hampir expired , popcorn yg saya beli pun sudah keluar jamur , kopi sudah mulai bening warnanya , kapan film nya tayang :whistling: , diketik bu , jangan di tulis :/

      #AlokOraTombok :D
      Server 5 Addicted


      14th (Season 5) | EneMieS (Season 6) | Renaissance (Season 7) | Cheval Blanc (Season 8)


    • De Renaissance wrote:

      ibu swann yg saya hormati , tiket bioskop saya udah hampir expired , popcorn yg saya beli pun sudah keluar jamur , kopi sudah mulai bening warnanya , kapan film nya tayang :whistling: , diketik bu , jangan di tulis :/

      #AlokOraTombok :D
      wkwkwk...
      Emang itu emang diketik kok om CB, tapi ketiknya pake mesin tik yg tak tek tok itu bukan pake kompi hahaha, makanya belum sempet di publish hahahha
    • AABBCC wrote:

      De Renaissance wrote:

      ibu swann yg saya hormati , tiket bioskop saya udah hampir expired , popcorn yg saya beli pun sudah keluar jamur , kopi sudah mulai bening warnanya , kapan film nya tayang :whistling: , diketik bu , jangan di tulis :/

      #AlokOraTombok :D
      wkwkwk...Emang itu emang diketik kok om CB, tapi ketiknya pake mesin tik yg tak tek tok itu bukan pake kompi hahaha, makanya belum sempet di publish hahahha
      hahaha, dua orang penagih utang yg akan terus ganggu nyenyaknya tidur phi...

      @CB, biar ga #AlokOraTombok, situ punya tanggung jawab mijitin emak yang pegel abis ngetik
      @sunset, numpang 'tak tek tok cekrek tiiiingggg...' di tempatmu ya, biar ada yang ikutan ga nyenyak tidur karena kebrisikan :D

      ok ok, phi upload chapter pertama buku dua deh sekarang
      "The most blessed leader is one who loves the people, and -in return, they love him" (Mohammad PBUH)

      If ur depressed ur living in the past. If ur anxious ur living in the future. If ur at peace ur living in the present" (LaoTzu)
    • Buku Dua. Rembang Bintang

      Chapter 1. The Curse

      Ruby berdiri sejenak di depan gerbang Rhesus Mansion. Sekilas ia edarkan pandangannya ke sekeliling, tanah leluhurnya benar-benar seperti surga yang berlimpah berkah. Ya, barat daya kali ini memiliki banyak sekali ladang luas dengan oasis melimpah, hal yang patut membuat kuadran lain merasa iri. Mungkin ini sebuah pertanda awal, bahwa Kala telah mencabut kutukannya atas tanah leluhurnya ini.

      Perlahan ia raih bulatan besi yang tergantung di pintu gerbang tersebut, ia ketukkan tiga kali dengan keras.

      Pintu terbuka. Felix sendiri yang membuka gerbangnya. Felix menatap perempuan bergaun biru itu dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan penuh selidik. Tak ada senjata apapun tersandang di bahu Ruby.

      “Kau juga evaporate dan bermigrasi ke sini By?” tanya Felix demi melihat Ruby di hadapannya.

      Ruby memamerkan giginya.

      “Kurang ajar kamu By,” celetuk Felix. “Kau tahu bagaimana tatapan penuh cemooh diarahkan semua orang begitu aku evaporate? Semua gara-gara kamu…”

      “Maaf…” sahut Ruby lirih, masih dengan cengiran menghiasi wajahnya.

      “Padahal seumur-umur ga ada orang bisa nyuruh-nyuruh, maksa-maksa aku lakukan apapun…” gerutu Felix. “Kecuali Abah, cuma dia yang sepenuhnya aku dengar dan bisa buat aku lakukan apapun yang dia minta,” lanjut Felix.

      “Sekarang jadi dua dong,” ledek Ruby. “Apa yang Ruby katakan tak bisa kamu sangkal kebenarannya kan, makanya akhirnya kamu bisa ikuti kata-kata Ruby…”

      “Huh, no” Felix mendengus. “Cukup sekali kemarin itu aku ikuti pikiran dan maumu By. Ga bakal lagi kamu bisa bikin aku nurut atau kamu suruh lakukan apa pun,” pungkas Felix.

      “Oh, begitu ya?” tanya Ruby sambil tersenyum.

      “Yup,” sahut Felix. “Kejadian di server sebelah justru membuat kita dapat tim baru yang benar-benar loyal, bahkan sebagian musuh yang simpati dengan kita pun sekarang jadi bagian kita. Sekarang Rhesus sudah benar-benar solid. Pokoknya kali ini ga ada cerita nego-nego untuk penyatuan kuadran seperti kebiasaanmu…”

      “Felix,” potong Ruby, tapi tak dihiraukan Felix.

      “Pokoknya nanti kita langsung hajar aja yang memang di luar Rhesus, daripada nanti kita ditikam lagi dari belakang seperti timur laut kemarin. Sementara buat luar kuadran, nanti kita…”

      “Lix, stop,” tukas Ruby, kali ini lebih keras. “Stop,” ulang Ruby. Felix menghentikan kalimatnya dengan heran. “Ruby ga mau dengar rencanamu ke depan untuk kuadran maupun luar kuadran. Felix jalankan saja, jangan kasih tau Ruby. Ruby ga mau dengar, karena Ruby ga tinggal di barat daya, Lix…”

      “Heh?” Felix menautkan alisnya.

      “Ruby di timur laut Lix,” ujar Ruby akhirnya.

      “Kurang ajaaaarrrr…” teriak Felix.

      “Hey,” tukas Ruby. “Felix bilang ga mau dengar Ruby kan? Keinginan Felix terpenuhi, Felix sama sekali tak perlu dengarkan Ruby karena kita beda kuadran sekarang.”

      “Hahaha…” Felix tergelak. “Kupikir kamu memilih tanah leluhurmu By…”

      Ruby mengangkat bahu. “Dua kali Lix… Ruby, Laras, dan Felix bertemu di kuadran yang sama. Dan selalu berantakan. We are all pirate Lix. And it's such a bad luck to have us all on the same ship,” papar Ruby. “Jadi kalau sudah jelas berada di kapal yang berbeda sejak awal, Ruby kan jadi bisa menilai sebenarnya siapa pirate pengundang kutukan itu yang membuat kuadran kita berantakan tiap kali kita bersama: kamu atau Laras…”

      “Okay,” sahut Felix cepat. “Mari kita buktikan. Malah senang aku, By,” tantang Felix.

      Ruby tersenyum.

      “Good luck di timur laut deh By,” lontar Felix dengan nada sindiran. “Setauku di sana ada CNC, ESA, Fikes, itu semua fam besar loh. Belum lagi yang fam baru yang mungkin belum dikenal. Selamat mencoba menyatukan semuanya deh, hahaha…”

      “Okay,” timpal Ruby. “Good luck juga buatmu dan anak-anak…”

      Ruby pun berpamitan. Belum jauh dari Rhesus mansion, ia berpapasan dengan Richy yang baru pulang dari berburu.

      •••

      “Bu, ikut kami ke barat daya juga?” tanya Richy.

      Ruby menggeleng lemah. “Ruby di timur laut, Richy…”

      “Lho, kenapa di timur laut Bu?” nada kecewa terdengar dalam pertanyaannya.

      “Random spawn, Rich…” Ruby tak sampai hati menyampaikan keputusannya sengaja mengambil kuadran yang berbeda dengan Felix. Ia pikir biar Felix sendiri yang sampaikan pada teman-temannya mengenai kutukan mereka.

      “Desa duanya kan masih bisa pindah ke barat daya Bu…” protes Richy. “Atau siapa tahu bisa jadi sekutuan nanti Bu…”

      Ruby tersenyum. “Berikan yang terbaik buat kuadran masing-masing ya Richy,” ditepuknya bahu Richy. “Ruby yakin teman-teman di bawah kepemimpinan Felix pasti bisa koq. Diplomasi kita ikut saja bagaimana diplomat aliansi menentukan nantinya...”

      Berlama-lama di depan Richy semakin menyesakkan hati Ruby. Tapi ia harus memantapkan pilihan yang sudah dibuatnya. Demi kebaikan hatinya sendiri. Dirabanya jurnal yang ia simpan di kantung samping gaunnya. Bersama Felix ia tak akan pernah tahu apakah yang tertulis di buku itu utopis atau tidak karena tak akan ada kesempatan baginya untuk bereksperimen. Dan bersama Felix, ia tak akan pernah tahu kutukan siapa yang paling besar antara Laras dan Felix. Ruby berpamitan. Ia tinggalkan Richy yang lama memandangi punggungnya dari kejauhan, hingga akhirnya bayangan Ruby lenyap di antara pepohonan hutan.

      •••

      Mulai memasuki tanah timur laut, Ruby merasakan suasana yang lebih gersang. Timur laut memang tak sesubur barat daya. Ladang dan oasis tak sebanyak di sana. Menambah masygul hatinya, ketika dilihatnya banyak mansion di kuadrannya. Setidaknya ada enam bendera warna-warni berkibar di banyak mansion tersebut. Terbetik ragu sesaat, apakah tepat keputusan yang ia ambil. Belum apa-apa ia sudah merasa bahwa kutukan Laras lebih besar daripada kutukan Felix…


      "The most blessed leader is one who loves the people, and -in return, they love him" (Mohammad PBUH)

      If ur depressed ur living in the past. If ur anxious ur living in the future. If ur at peace ur living in the present" (LaoTzu)
    • New

      makasih ya buat jempol-jempol lentiknya.
      makasih juga untuk bersabar dan ga terlalu galak jadi debt collector nagih chapter lanjutannya. tapi kayaknya kalau ga ditagih2 mulu, saianya jadi terlalu nyante ya... jadi kelamaan dianggurinnya :D

      ok, inilah chapter 2, selamat berkenalan dg para penghuni Happy Ever After. sepuluh orang2 biasa aja, yang luar biasa di hati Ruby :)
      "The most blessed leader is one who loves the people, and -in return, they love him" (Mohammad PBUH)

      If ur depressed ur living in the past. If ur anxious ur living in the future. If ur at peace ur living in the present" (LaoTzu)
    • Happy Ever After

      New

      Chapter 2. Happy Ever After


      Bangunan sederhana itu berdiri di tengah padang rumput di timur laut. Tak sebesar mansion-mansion lain, rumah tempat keluarga kecil Ruby tinggal itu hanya berupa sebuah pondok memanjang, yang pas menampung mereka bersepuluh. Tak ada bendera berkibar di halaman rumah mereka. Hanya sebuah gerbang melengkung dihiasi tanaman merambat dan bunga dengan plakat kayu tergantung bertuliskan “Happy Ever After” di gerbang masuk halaman mereka.

      Ruby melalui gerbang melengkung tersebut. Ia menyapa Kaiju yang tengah menyiangi gulma di tengah tanaman sayuran di kebun mereka. Kaiju adalah bagian dari Lil Happy Family Ruby, bagian dari mereka yang masih berdiri dengan payah di sisa-sisa kehancuran barat daya waktu itu. Di tahun selanjutnya, mereka berpisah karena Ruby mengatakan tak akan kembali ke travian land. Tapi ternyata Ruby kembali ketika ketiga anak durhakanya berusaha menebus dosa dengan mengajaknya kembali bertualang di server 1, dan berakhir dengan peran Ruby sebagai ibu suri di kerajaan Animal hingga kemenangan mereka.

      Ada satu perih yang tak bisa Ruby jelaskan kala itu, setiap kali mendengar laporan peperangan kerajaan Animal menumpas para pembelot di internal kuadran. Para pemberontak itu terus melawan dipimpin salah satu panglimanya bernama Denzel. Mereka bahkan akhirnya bergabung dengan koalisi utara bersama Devil, mengusung bendera Alpha. Pemberontakan itu pun terus berlanjut sampai akhirnya Animal berhasil menyelesaikan keajaiban dunianya.

      Lalu menjelang langit server 1 tergulung, Ruby berkeliling negeri dan berjumpa dengan mereka yang berbaris menuju gerbang untuk bermigrasi. Ia mengenali sepasukan pembawa bendera Alpha di barat daya siap meninggalkan negeri. Hanya ada satu mansion pembawa bendera Alpha di barat daya: para pemberontak, yang itu berarti pemimpinnya adalah Panglima Denzel. Ruby mendekati mereka, menyapa pimpinannya, berusaha menyampaikan kalimat perpisahan yang baik agar tak ada permusuhan tersisa. Betapa terkejutnya ketika untuk pertama kalinya ia melihat langsung wajah sang pimpinan pemberontak tersebut.

      “Kaiju?” Ruby terperanjat.
      Kaiju alias Denzel itu pun tersenyum. “Iya Bu, saya di sini,” ujarnya tenang. “Maaf ya Bu, jadi pembuat onar di kerajaan ini. Saya baru kemarin tahu kalau Ibu ada di balik tembok istana itu. Sir Kendrick dari Devil, pemimpin seluruh koalisi Alpha yang memberi tahu saya.” Kembali ia tersenyum.

      Kini Ruby baru menyadari alasan rasa perih yang tak bisa ia jelaskan sebelumnya itu. Keluarga yang pernah bersamanya, justru terjebak dalam peperangan sepanjang usia server, padahal mereka sekuadran, hanya karena ketidaktahuan masing-masing. Tapi itulah travian land, di mana di tiap portal dibuka, pilihan untuk cerita baru terbentang seluas-luasnya. Ia pun tersenyum. Ia lepas Denzel bermigrasi ke server lain, sementara ia sendiri putuskan untuk ber-evaporate sepenuhnya...

      Hanya saja ternyata Laras sang pirate kemudian memaksanya mengaktifkan kembali goggle-nya. Lalu setelah peristiwa pahit di server 7 kemarin, dan kembalinya Dicky serta Syaf menemani mereka, Ruby berpikir untuk mengajak Kaiju pula ke server 5 kali ini. Kaiju pun menyambut ajakannya.

      •••
      “Kaiju,” sapa Ruby.
      Kaiju menghentikan aktivitas berkebunnya dan menjawab sapaan Ruby. “Panggil saya Denzel saja Bu,” ujarnya. “Keluar dari portal sini, nama Kaiju saya pakai di server sebelah,” terangnya.
      “Baiklah, Denzel,” sahut Ruby sambil tersenyum.

      Ruby ingat, ketika Denzel menyambut ajakannya, ia sebenarnya masih sibuk bersiap membangun keajaiban dunia bersama timnya di server lain. Hanya karena kerinduan bermain kembali bersama Dicky dan Syaf membuat ia menerima ajakan itu. Ruby juga sadar, kendala waktu dan juga sumber daya emas yang sudah lebih besar ia curahkan untuk persiapan keajaiban dunia di tempat lain itu membuat Denzel mencukupkan diri dengan berkebun di sini.

      Ruby membawa beberapa buah tomat dan sayuran segar dari kebun tersebut ke dapur. Dicky yang tengah membelah-belah kayu bakar menghentikan aktivitasnya dan meletakkan kapaknya.

      “Sini saya saja Bu,” ujarnya lalu mengambil keranjang sayuran dan tomat yang Ruby pegang. “Ibu pasti lelah habis perjalanan ke barat daya. Gimana Bu, ketemu Felix tadi?”

      “Makasih Pak,” sahut Ruby seraya menyerahkan keranjangnya. “Tentang Felix… hehehe, ya gitu deh,” Ruby memamerkan giginya. Sekilas ia ceritakan pertemuannya dengan Felix tadi.

      “Iya lah Bu, lebih baik begitu,” timpal Dicky seraya berjalan menuju dapur. “Kita kan sudah putuskan bahwa kita akan main dengan orientasi endgame. Itu berarti stabilitas dan manajemen kekuatan kuadran nomor satu. Satu manajemen dan satu koordinasi dalam aliansi, ajak mereka yang bisa merendahkan egonya, menempatkan diri kapan memimpin atau jadi yang dipimpin, itu juga sangat penting. Kalau ada satu ego besar lagi yang juga mau mengaturnya seperti Felix, jadi dua kepala, nanti malah berantakan…”

      Ruby mengiyakan sembari mengeluarkan sayuran dan tomat dari keranjang, lantas mencucinya. Dicky membantunya memotong-motong sayuran tersebut dan menyiapkan bumbu dapur.

      Seorang pemuda seumuran Panjul masuk dari pintu belakang. Seekor ayam yang baru saja ia potong telah ia bersihkan dan kini siap diolah. Tanpa bersuara, dia mengambil pisau dan turut menyiapkan masakan.

      Pemuda itu teman baik adiknya. Panjul mengajaknya karena menilainya pekerja keras dan tak macam-macam kemauannya. Pemuda itu terbiasa fokus dan menyibukkan diri dengan target yang harus ia capai. Awalnya Ruby tak pernah mendengar pemuda itu bersuara, sampai-sampai Ruby mengira dia seperti Mr. Cotton yang tak mampu bicara karena dipotong lidahnya. Namun ketika suatu malam di ruang tengah Happy Ever After mereka semua berkumpul, lalu terdengarlah kalimat pertama pemuda itu, “Salam kenal semuanya, nama saya Dede, teman Panjul,” tahulah Ruby bahwa pemuda itu tak membutuhkan kakatua Mr Cotton untuk membantu mengungkapkan isi kepalanya. Meski selanjutnya, kembali Dede membisu seolah sedang mengulum berlian di mulutnya.

      Melihat Dede membuat Ruby teringat Panjul dan bertanya-tanya di mana gerangan dan sedang apa anak itu. Maka setelah bahan-bahan masakan siap dan air telah dijerang di atas tungku, Ruby menitipkan pada Dicky dan Dede untuk melanjutkan. Ruby sendiri berjalan ke arah perpustakaan rumah mereka, mencari Panjul.

      Dari dapur menuju perpustakaan, ia melalui kamar Laras dan kamar Syaf. Keduanya tak terlihat, pasti tengah berburu di jam-jam seperti itu. Ditemani Helmy dan Toni, keempat teuton itu hampir tak pernah berada di rumah, tabiat bawaan yang menentukan kelangsungan hidup siapapun yang berdarah teuton. Helmy adalah teman Ruby dan Panjul di RoA land, yang lantas mereka ajak bersama membangun wisma Happy Ever After. Sementara Toni adalah bagian dari tim Badik Syaf bertahun-tahun sebelumnya dan juga Lil Happy Family tahun lalu. Tak sulit bagi Ruby untuk mengajaknya lagi, karena begitu nama Syaf disebutkan, ia pun dengan ringan menyambut panggilan tersebut.

      Ruby sempat menyapukan tangannya ke pintu satu kamar terakhir sebelum ke perpustakaan. Hawa sunyi dan dingin dari kamar itu terasa di telapak tangan Ruby. Pemiliknya jarang bisa berkumpul bersama, kalaupun datang hanya untuk menjalankan tugas-tugasnya lalu bergegas meninggalkan negeri itu lagi. Ruby sangat bisa memahami alasan penghuni kamar tersebut: selain kesibukan di real world, Ken pun tengah fokus melanjutkan server 7 sepeninggal evaporate-nya Ruby, Felix, dan yang lain.

      Begitu memasuki perpustakaan, dilihatnya seorang pemuda tengah asyik menekuri gulungan data dan manuskrip lainnya. Benar dugaannya, Panjul banyak menghabiskan waktunya untuk membaca. Dari semua orang yang Ruby kenal, hanya Panjul yang betah menghabiskan waktu berjam-jam demi membaca arsip server yang telah berlalu demi menggali dan menganalisis karakter orang yang ada di sana. Atau mengaduk-aduk gulungan berisi panduan teknik kemiliteran demi menemukan jawaban pasti untuk suatu pertanyaan, dan menyibukkan diri membacanya untuk menyusun strategi bermain se-textbook mungkin. Ruby lihat di samping gulungan yang sedang Panjul baca, ada kertas berisikan coretan-coretan Panjul. Ruby menghampiri meja Panjul, dan menarik bangku yang berhadapan dengannya.

      “Jul,” ujar Ruby memecah keheningan begitu pantatnya mendarat di bangku di hadapan Panjul.
      “Yup,” Panjul mengangkat mukanya dan menatap sang kakak.
      “Apa yang kamu dapat Jul?”

      “Kita masih tetap pada misi awal mematahkan kutukan temanmu satu itu dan kuadrannya kan Mbak?” Panjul balik bertanya dan tak mengindahkan pertanyaan Ruby.
      Kinda,” sahut Ruby seraya mengangkat bahunya.

      “Berarti orientasinya adalah kuadran yang rapi manajemennya, pengaturan settling cropper dan pemetaan kekuatannya, klastering yang kuat untuk support keajaiban dunia dan artefak spesial yang nantinya akan dirotasi melalui chiefing?”
      “Yup.”

      “Masih pegang mimpi berada di aliansi yang semua pemainnya bersedia menundukkan ego demi tim, yang tak semata mengejar pride personal yang bisa merusak seluruh tim?”
      “Yup.”

      Ruby mengiyakan karena Panjul hanya menegaskan ulang diskusi mereka berlima sepulang dari menyaksikan pagelaran ‘Matah Ati’ waktu itu. Keprihatinan terbesar mereka menyaksikan betapa ego menguasai dan begitu mudahnya memecah kesatuan hanya karena kepemilikan artefak. Padahal artefak apapun akan bermanfaat bagi pemegangnya dan seluruh aliansi ketika dimenej kepemilikan dan rotasinya dengan baik. Betapa tinggi kultur ego dan pride atas kepemilikan artefak, dan bukan berfokus pada bagaimana mengoptimalkannya untuk kepentingan bersama. Mereka juga memimpikan suatu mekanisme pergiliran dan pengoptimalan pemanfaatan anta spesial yang sebenarnya sangat masuk akal, efektif, dan lazim diterapkan di luar namun terdengar hampir mustahil diterapkan di negeri ini.

      “Kita hanya bersepuluh Mbak,” lanjut Panjul. “Tak akan muluk-muluk target bangun keajaiban dunia sendiri, cukup lebur dengan aliansi besar yang sudah mapan, dan siapkan klaster kita untuk support mereka. Begitu kan?”
      Ruby menganggukkan kepalanya dan tersenyum.

      Panjul menyodorkan corat-coret yang dibuatnya ke hadapan Ruby. “Setidaknya ada tiga bendera besar di timur laut ini Mbak: Unity, Dealer, dan PB,” papar Panjul. “Bendera lainnya cukup banyak dan berwarna-warni, tapi nampaknya kecil untuk mempengaruhi arah kuadran secara umum.”

      Ruby mencermatinya. Server baru berjalan beberapa hari, namun tiga bendera ini sudah nampak amat mencolok. Bukan hanya di timur laut, tapi bahkan seantero negeri. Unity adalah bendera yang dikibarkan mansion terbesar di seluruh negeri. Dealer juga cukup besar. Sementara PB, meski agak lebih kecil dibanding keduanya, tapi di hitungan server masih begitu dini, telah ada dua mansion berukuran layak yang mengibarkan bendera yang sama.

      Terngiang di telinga Ruby ucapan Felix, “Good luck di timur laut deh By… Setauku di sana ada CNC, ESA, Fikes, itu semua fam besar loh. Belum lagi yang fam baru yang mungkin belum dikenal. Selamat mencoba menyatukan semuanya deh, hahaha…”

      Ruby tercenung. Jika ketiga bendera besar itu benar mewakili tiga nama keluarga yang Felix sebutkan, berarti mereka berhadapan dengan tiga pre-formed alliances. Yang berat ketika menghadapi pre-formed alliance adalah bahwa masing-masing mereka telah memiliki struktur dan pola manajemen tersendiri. Sekedar mengikatnya dalam persekutuan atau NAP tanpa penyatuan manajemen akan rawan menimbulkan gesekan di kemudian hari. Ketika ada sedikit perbedaan, masing-masing akan kembali ke garis manajemen tim kecil mereka, dan kehilangan orang akan berarti kehilangan seluruh tim kecil, yang itu berarti sepertiga atau separuh kuadran. Jika masing-masing preformed alliance tersebut bersedia melebur dalam satu manajemen, maka membentuknya menjadi kuadran yang rapi seperti yang tadi Panjul sebutkan jelas akan lebih mudah. Tapi jika tidak, berarti harus ada upaya ekstra untuk ‘memaksa’ preformed alliance tersebut melebur ke dalam manajemen besar yang lebih awal terbentuk. ‘Memaksa’ melebur, baik dengan meraih hati mereka, maupun dengan pedang.

      Ruby dan Panjul mendiskusikan ketiga aliansi tersebut. Adanya dua mansion yang telah mengibarkan bendera yang sama di waktu begitu dini lebih menjadi indikasi kuat bahwa itu adalah preformed alliance, dan bisa jadi mereka lebih terstruktur. Mereka mencermati nama-nama yang ada di daftar anggota aliansi tersebut, dan Ruby mengenali dua nama yang ada di kedua aliansi PB tersebut. Keduanya ia kenali sebagai alias yang biasa Yuwi pakai.

      Panjul dan Ruby berpandangan. Sepertinya mereka telah menemukan satu pihak yang bisa mereka kontak untuk memulai upaya penyatuan manajemen timur laut: Yuwi...

      •••
      "The most blessed leader is one who loves the people, and -in return, they love him" (Mohammad PBUH)

      If ur depressed ur living in the past. If ur anxious ur living in the future. If ur at peace ur living in the present" (LaoTzu)
    • New

      Hmmm... Ngenye bener misi awal cuma mematahkan kutukan??? Huft... Ga ada yg lbh bagus kah dari itu? Tujuan awal main bareng ngajak yg lain kan cuma ingin merasakan bermain sbg tim yg rapih.

      Sekarang sudah terjawab siapa pembawa kutukannya kan? Hahaha.... Dimana ada felix disitu nasib sial akan selalu membayangi. Buat Richy segera tobat sebaiknya cari partner tim yg baru, frlix mau dibuang aja biar ga sial wkwkwk...

      Tp emang Ts5 ini merupakan sesi yg tdk macem2 politiknya.


      Mari berforum dengan santun dan berperang layaknya kesatria sejati
      I'll be waiting behind enemies line!!
    • New

      littlecatinspace_ID wrote:

      Hmmm... Ngenye bener misi awal cuma mematahkan kutukan??? Huft... Ga ada yg lbh bagus kah dari itu? Tujuan awal main bareng ngajak yg lain kan cuma ingin merasakan bermain sbg tim yg rapih.

      Sekarang sudah terjawab siapa pembawa kutukannya kan? Hahaha.... Dimana ada felix disitu nasib sial akan selalu membayangi. Buat Richy segera tobat sebaiknya cari partner tim yg baru, frlix mau dibuang aja biar ga sial wkwkwk...

      Tp emang Ts5 ini merupakan sesi yg tdk macem2 politiknya.
      Hahaha ada yang tersungging dikatain misi tim adalah mematahkan kutukannya. Udah lah Ras, terima aja... Kan pingin main sbg tim yg rapih juga demi patahkan kutukan itu, hehehe...

      Lagian emangnya beneran terbukti gitu, kalau Felix yang jadi pembawa kutukannya? Pede amat ih...

      No spoiler ya Ras :D
      "The most blessed leader is one who loves the people, and -in return, they love him" (Mohammad PBUH)

      If ur depressed ur living in the past. If ur anxious ur living in the future. If ur at peace ur living in the present" (LaoTzu)