Struggle of The Heart [new story]

    This site uses cookies. By continuing to browse this site, you are agreeing to our Cookie Policy.

    Would you like to know what’s going on in the Tournament 2017 Finals?
    Keep yourself updated by reading "The Corner"!

    • Struggle of The Heart [new story]

      Pagi, semua :)

      Forum baru, semangat baru untuk menulis lagi (yang sudah ditagih sejak akhir tahun lalu, hehehe, maappp...)

      Struggle of The Heart adalah lanjutan dari Li'l Happy Family: A Deja Vu dan Dawning Day: A Tale of The Dreamers. Cerita ini akan terdiri dari dua buku yang berkisah tentang server yang berbeda, namun saling berkaitan. Latar waktu Struggle of The Heart berada dalam rentang Agustus 2016 hingga Juli 2017. Namun, seperti yang sebelumnya, alur waktu cerita tak selalu linear. Phi berusaha mengubah gaya penceritaan pula, semoga lebih enak untuk dibaca. Latar belakang real life para pelaku di sini cenderung phi kesampingkan, dan kalau pun ada tertulis di cerita (hubungan keluarga, kerja, cinta :D dll), jangan terlalu dianggap serius, itu hanya untuk mendukung cerita saja. Cerita di dunia travian berusaha phi tampilkan seobjektif mungkin. Pada beberapa bagian yang tak berhasil sepenuhnya terkonfirmasi, akan phi tulis sebagai kesan atau pandangan subjektif pelaku cerita.


      “It’s impossible,” said pride.
      “It’s risky,” said experience.
      “It’s pointless,” said reason.
      “Give it a try,” whispered the heart."
      -Unknown
      Book One. Matah Ati

      Prolog

      1. Ruby
      2. Sandaran Hati Matah
      3. Buitenzorg

      4. Tick Tack.. (Boom)
      5. Tough Heart
      6. M(P)atah Ati
      7. All About Family
      8. Sang Malaikat Penulis Cerita
      9. Elegi untuk Barat Daya

      10. Scattered
      11. Final Words
      "The most blessed leader is one who loves the people, and -in return, they love him" (Mohammad PBUH)

      If ur depressed ur living in the past. If ur anxious ur living in the future. If ur at peace ur living in the present" (LaoTzu)

      The post was edited 13 times, last by Xaviera: edit bantu mba swann ().

    • Book One. Matah Ati

      Prolog

      Pencahayaan panggung meredup, menandakan pergantian adegan. Dua puluh enam penari wanita dengan kain dan selendang yang didominasi warna merah memasuki panggung. Ditingkahi gending yang dimainkan para niyaga, mereka melakukan gerakan ‘srisig’ dengan gemulai, berputar mengelilingi panggung, lalu menata diri dalam formasi lingkaran. Dari belakang panggung seorang penari dengan kostum berwarna merah yang lebih mencolok masuk, dan menempatkan diri di tengah formasi lingkaran para penari lainnya. Lampu sorot kini menerangi seluruh penari di atas panggung. Gamelan menghentak, lalu secara bersamaan para penari merentang busur panah di tangan mereka. Penonton terkesima. Seorang perempuan di deretan belakang bangku penonton menatap lekat ke arah penari yang dikelilingi penari lainnya tersebut. Terlintas deja vu, seolah ia melihat dirinya sendiri dalam ingatan samar ratusan tahun sebelumnya. Bibirnya pelan bergumam, “Itu aku…”

      Adegan demi adegan terus berlanjut. Penonton larut dalam gerakan gemulai para penari dan gending gamelan yang dimainkan. Lakon pagelaran tari bertajuk Matah Ati tersebut mengalirkan kisah tentang Rubiah, seorang gadis dari dusun Matah, sebuah desa tandus di bukit Nglaroh, Surakarta. Cinta dan pengabdian diberikannya selama mendampingi Raden Mas Said (Pangeran Sambernyawa) dalam perjuangan menghadapi penjajah Belanda dengan politik adu dombanya. Perjuangan belasan tahun di pertengahan abad 18 itu berakhir dengan berdirinya Mangkunegaran dan bertahtanya RM Said sebagai Mangkunegara I. BRAy Matah Ati adalah gelar yang diberikan RM Said kepada Rubiah, atas kesetiaan dan keteguhan selama mendampingi perjuangannya.


      Matah artinya melayani. Matah ati artinya melayani hati. Secara luas, matah ati adalah simbol pelayanan yang diberikan oleh seorang perempuan untuk orang dan tanah yang dicintainya...


      Dan ketika para pendukung pagelaran kembali tampil di atas panggung yang didesain memiliki kemiringan lima belas derajat tersebut, desain yang menyerupai bukit setting peristiwa aslinya, penonton memberikan standing ovation. Seorang penonton di deretan belakang tak ikut berdiri, masih terpaku di tempat duduknya tanpa mampu bersuara. Bahkan ketika sebagian penonton mulai meninggalkan ruang teater tempat pagelaran diadakan, perempuan itu masih tak beranjak. Tatapannya masih lekat ke arah penari yang memerankan Matah Ati dan RM Said yang kini tengah berfoto di panggung dengan sebagian penonton.

      “Itu aku,” batinnya

      ---



      glossary

      .niyaga: penabuh gamelan Jawa
      .srisig: gerakan dalam tari, berpindah tempat ke kanan, kiri, maju, mundur, atau berputar, dengan berlari kecil dan kaki jinjit, serta lutut agak ditekuk sehingga tubuh agak merendah, umumnya sambil tangan merentang selendang ke samping kiri seperti sayap.
      "The most blessed leader is one who loves the people, and -in return, they love him" (Mohammad PBUH)

      If ur depressed ur living in the past. If ur anxious ur living in the future. If ur at peace ur living in the present" (LaoTzu)

      The post was edited 2 times, last by swann ().

    • Chapter 1. Ruby

      Part one. Evaporate

      Sekitar 100 hari sebelumnya, di Travian Land…

      Perempuan itu duduk di beranda kastilnya, menikmati pemandangan matahari terbit seperti biasanya. Yang tak biasa adalah, di hadapannya kini, jauh di pusat kerajaan, berdiri dengan megah bangunan keajaiban dunia yang telah rampung sepenuhnya. Bangunan itu terlihat jelas dari kastilnya yang berada di punggung bukit. Bangunan keajaiban dunia berbentuk piramid yang menjulang tinggi, dengan taman yang indah dibangun di setiap tingkatannya, menjadi penanda supremasi kerajaan yang dipimpin oleh keponakannya, mengungguli kerajaan-kerajaan lain, termasuk Natar yang ditakuti seluruh pasukan di seluruh dunia.

      Tak terlihat lagi kesibukan para pekerja dalam membangun keajaiban dunia tersebut. Telah berhenti pula kesibukan bongkar muat berbagai sumber daya di pasar menuju gudang, atau kerepotan di dapur mengolah gandum menjadi roti yang memberi makan berjuta pekerja dan tentara yang mengamankan keajaiban dunia. Perempuan itu mengamati seisi kerajaan bergerak dalam kesunyian yang luar biasa. Para pedagang menutup kedainya, mengemasi barangnya ke kereta kuda yang siap mengantarkan mereka pindah ke negeri yang baru. Para tentara seolah membeku dalam diam, tak ada lagi yang bisa mereka kerjakan. Sebagian yang tersisa melakukan hal sama persis sepertinya, duduk mengagumi keindahan keajaiban dunia, mengabadikannya sebagai lukisan indah di ingatan masing-masing. Sebagian yang lain masih menikmati saling berkunjung ke tetangganya, mengucapkan selamat tinggal, permohonan maaf, dan harapan sekiranya mereka berjumpa kembali di negeri yang baru.

      Semua berkemas. Termasuk keponakannya. Merapikan arsip-arsip penting, dan bersiap meninggalkan kerajaan dan keajaiban dunia yang baru selesai dibangunnya. Menyelesaikan keajaiban dunia memang sebuah kebanggaan yang dikejar, namun juga berarti akhir dari kehidupan suatu negeri. Kutukan natar berlaku setiap kali satu keajaiban dunia rampung, sehingga ladang di seluruh negeri tak ada lagi yang menghasilkan, sumber daya tak bisa lagi digali dan dimanfaatkan, bangunan tak bisa lagi diperbaiki ataupun dipermegah, dan pasukan mendadak lumpuh di titik temu mereka. Antrian kereta kuda membawa sisa emas dan harta yang dimiliki mengular menuju gerbang perbatasan negeri. Sebagian bermigrasi ke negeri lain dan melanjutkan petualangan mereka, sebagian yang lain hanya ingin ‘pulang’.

      “Mak,” satu suara memecah keheningan. Seorang pemuda turun dari kudanya dan menghampiri perempuan itu.
      Perempuan itu menoleh. “Kenapa kamu masih di sini? Kamu tidak ingin bermigrasi seperti yang lainnya?”
      “Mak sendiri masih di sini? Mau menghabiskan dua minggu hingga langit tergulung dengan sendirinya dan tak menyisakan apapun selain ruang hampa?”
      Perempuan itu tersenyum. “Itu pun tak masalah buatku. Sudah tak ada lagi godaan bagiku untuk bermigrasi ke manapun. Semua yang kucapai di negeri ini sudah menuntaskan semua mimpiku. Aku hanya tinggal menunggu cakrawala menghilang, lalu aku ‘pulang’, ber-evaporate,” jawabnya.

      “Jangan ber-evaporate dulu, Mak,” tukas pemuda itu. “Aku masih harus belajar banyak dari Mak. Ajari aku, Mak, untuk jadi ksatria pembela luar biasa, yang memimpin pasukan luar biasa besar untuk mempertahankan negeri dan teman-teman…”
      “Nak,” panggil perempuan itu sambil tersenyum. “Tanpa aku pun kamu pasti bisa. Menjadi super atau mega defender itu mudah. Asalkan kau punya banyak desa, banyak sumber daya, dan tanpa henti melatih pasukanmu menjadi defender terbaik, kau pasti bisa…”

      “Rasanya tak sesederhana itu, Mak,” protes sang pemuda.
      “Percayalah, sesederhana itu,” jawab perempuan itu. “Kau tahu? Yang sulit sebenarnya bukanlah pada menyiapkan pasukannya, tapi justru pada bagaimana kau berdamai dengan hatimu ketika menjalani peran sebagai megadefender tersebut…”

      Pemuda itu memberikan tatapan tanda tak mengerti. Perempuan itu pun membisikkan beberapa kalimat ke telinga sang pemuda. Pemuda itu tercenung sesaat begitu mendengarnya. Tapi beberapa saat kemudian ia berkata, “Aku rasa aku siap untuk itu Mak…”
      “Bagus kalau begitu,” perempuan itu tersenyum.

      Pemuda itu pun berpamitan. Ia memacu kudanya meninggalkan bukit tempat kastil itu berada, lalu bergabung dalam antrian mereka yang meninggalkan gerbang negeri untuk bermigrasi. Sementara sang perempuan pecinta pagi itu, kembali mengamati seluruh negeri dan keajaiban dunia di hadapannya. Hingga ketika glitch demi glitch menyentakkan kesadarannya, langit negeri mulai tergulung dan menampakkan rangkaian kode di baliknya, dan berakhirlah realitas virtual yang dibangun atas rangkaian kode biner 0 dan 1 tersebut.

      ---

      Real World, awal Agustus

      Perempuan pecinta pagi itu membuka matanya. Ia dalam posisi setengah berbaring dengan goggle hologram menutupi matanya. Ia mengenakan piyama, bukan gaun tradisional Eropa abad pertengahan seperti yang dikenakannya di travian land. Dia menekan sebuah tombol di alat yang berada di dekat telinganya, dan goggle hologram yang menutupi matanya tersebut menghilang. Dia mengambil alat tersebut dan memasangkan kembali ke braceletnya. Dikliknya braceletnya, dan muncullah hologram di depannya, informasi tentang perjalanan ke dunia virtual yang baru saja dia selesaikan. Dia mengklik satu pilihan, sehingga kini tertera di depannya, “Server 1, umur 267 hari, Status: Dinonaktifkan.”

      Dia mengambil segelas susu coklat dingin dari lemari esnya. Beberapa keping biskuit menjadi teman kudapannya sembari duduk di sofanya. Sambil makan, ia memutar ulang semua pesan yang masuk ke kotak pesannya selama ia bertualang di travian land. Ada beberapa pesan masuk ke inboxnya. Dikliknya satu pesan yang paling menarik perhatiannya, dari Laras, temannya.

      “Hai Ruby,” sapa Laras, seorang laki-laki seusianya dengan t-shirt putih, dalam tampilan bayangan hologram. “Berminat perjalanan baru lagi? Server 7 telah dibuka. Kamu sudah selesai kan di server 1?”

      Ruby spontan tertawa mendengarnya. Dia teringat kalimat yang ia ucapkan menjelang dinonaktifkannya server 7 tadi. “Semua yang kucapai di negeri ini sudah menuntaskan semua mimpiku. Aku hanya tinggal menunggu cakrawala menghilang, lalu aku ‘pulang’, ber-evaporate...”

      Dan di sinilah dia sekarang. Pulang ke real world. Ber-evaporate alias menghilang dari travian land. Sama sekali belum ada keinginan untuk mencoba migrasi ke server lainnya untuk petualangan berikutnya. Ah, besok sajalah menjawab pesan Laras, pikirnya. Sekarang ia cukup lelah dan hanya ingin beristirahat.

      ---




      glossary
      .evaporate adalah sebuah fenomena unik sekaligus mengerikan yang kian hari kian marak di Jepang. Sementara sebagian masih mempertahankan tradisi bunuh diri ketika menghadapi kegagalan atau hal memalukan menimpa mereka, sebagian yang lain mulai menjadikan evaporate ini sebagai solusi. Menghilang dari tempat lama ia mengalami kegagalan atau hal memalukan, untuk pindah ke tempat baru, identitas baru, memulai hal baru. Terkesan saja dengan fenomena ini, dan di novel ini istilah evaporate akan digunakan untuk setiap fenomena 'menghilang’, apapun alasannya (tak selalu krn kegagalan atau hal memalukan), baik del id di 1 server untuk memulai server yang lain, atau pensiun sepenuhnya dari travian.
      "The most blessed leader is one who loves the people, and -in return, they love him" (Mohammad PBUH)

      If ur depressed ur living in the past. If ur anxious ur living in the future. If ur at peace ur living in the present" (LaoTzu)

      The post was edited 3 times, last by swann ().

    • dhana wrote:

      pencinta server indo ya tan??
      Gak begitu paham ane tapi keren banget travian bisa dideskripsikan seperti ini..

      :) <3 :love:
      pencinta? hehe, gimana ya... cinta ga cinta sih :D
      kerumitan rasanya si tertuang di sini

      makasih ya apresiasinya. lanjut dulu kali ya..
      "The most blessed leader is one who loves the people, and -in return, they love him" (Mohammad PBUH)

      If ur depressed ur living in the past. If ur anxious ur living in the future. If ur at peace ur living in the present" (LaoTzu)
    • Chapter 1. Ruby

      Part two. The Visit

      Sekitar sepekan kemudian…

      Sebuah dering panggilan tiba-tiba membangunkan Ruby dari tidurnya. Diliriknya braceletnya, jam 11 malam. Lampu di braceletnya berkedip warna hijau, menunjukkan panggilan dilakukan dari virtual world, travian land. Dikliknya dengan malas, dan muncullah tampilan hologram Laras dengan helm gladiator, zirah sisik kecil, dan pedang pendek pretoria.

      “Ya ampun, Laras, jam berapa ini? Mengganggu orang tidur saja…” gerutu Ruby.
      “Ayolah Ruby, aku tidak akan menggunakan fitur panggilan dari travian land ke real world kalau tidak benar-benar membutuhkannya,” sahut Laras. “Ayo dibuka dulu matanya…”
      “Kenapa Ras?” tanya Ruby dengan mata setengah terpejam. Meski belum sepenuhnya terbangun, ia bisa mengenali atribut yang Laras kenakan bukanlah atribut Galia. “Kamu seorang Roman sekarang, Ras?”
      Laras hanya nyengir menanggapi pertanyaan Ruby tentang suku yang dia pilih. “Ruby aku butuh bantuanmu…”
      “Aku kan sudah jawab waktu itu Ras, aku tak mau lagi menjelajah travian land,” tukas Ruby.
      “Iya, iya, aku tahu,” sahut Laras. “Kalau kau tak mau menjelajah lagi, tak apa. Tapi aku butuh masukanmu. Datang berkunjunglah ke sini, dan beri aku masukan pilihan apa yang sebaiknya aku ambil…”
      “Hanya berkunjung ya, setelah itu sudah,” Ruby memastikan.
      “Iya, Ruby cantik…”
      Ruby mencibir.

      Setelah mendapatkan kata kunci untuk berkunjung ke travian land, dan memastikan dirinya terjaga sepenuhnya, Ruby mengaktifkan goggle hologramnya.

      Server 7, status: Aktif

      ---

      Ruby berdiri di gerbang travian land. Mengenakan gaun berbahan katun warna coklat, menunjukkan perannya hanya rakyat biasa, sama sekali bukan pejuang. Registrar menatapnya lekat-lekat, memastikan yang ada di depannya bukan penyusup maupun oknum pengganda identitas yang selalu diburunya.

      “Tujuan ke travian land?”
      “Berkunjung ke tempat teman.”
      “Nama dan suku?”
      “Laras, Roman.”
      “Kata kunci?”
      Ruby menyebutkan kata kunci yang Laras berikan.
      “Baiklah, silakan masuk, Nona,” sang Registrar menyerahkan dokumen untuk memasuki travian land.

      Masuk ke gerbang travian land, Ruby menyerahkan dokumen yang didapatnya ke penjaga. Setelah distempel dan dipersilakan, Ruby langsung berjalan ke arah barat daya seperti biasa. Tiba-tiba penjaga tersebut memanggilnya. Ruby terkesiap, kesalahan apa gerangan yang dilakukannya.

      “Nona,” panggil penjaga. “Jika Nona ingin berkunjung ke Tuan Laras, bukan ke sana arahnya. House of Enuresis arahnya ke timur laut, Nona…”

      Diperhatikannya alamat yang tertera di dokumen, ternyata benar, koordinat Laras di timur laut. Setelah berterima kasih, Ruby pun berjalan ke alamat tersebut. Sambil berjalan, ia bertanya-tanya, kenapa Laras tak biasanya mengambil kuadran timur laut, dan menjadi seorang Roman, pula. Biasanya, mereka berdua selalu memilih menjadi Galia, dan menempati barat daya.

      ---

      ‘House of Enuresis’, tulisan yang terpampang di depan pintu rumah Laras. Ruby menggerutu. “House of Enuresis… apa sih kerennya? Enuresis kan artinya ngompol…”

      “Hai Ruby,” Laras menyambutnya. “Pas sekali kamu datang. Daging panggang hasil buruanku baru saja matang. Yuk…” Laras mengajak Ruby makan di teras belakang rumah sambil mengamati sekeliling.

      “Seperti kau lihat, Ruby, timur laut cukup kaya dan potensial,” ujar Laras. “Banyak ladang yang luas dengan bonus oasis gandum yang melimpah. Secara kapasitas penghuni, kuadran ini juga paling menjanjikan,” Laras menyerahkan buletin travian land yang memuat data terbaru pemain terbesar, terganas, tergiat dalam menjarah, maupun terkuat dalam bertahan.

      Ruby sepakat. Banyak desa yang telah berkembang menjadi kota di timur laut, berkembang pesat melampaui desa dan kota-kota di kuadran lain. Dari buletin yang Laras sodorkan, Ruby pun melihat bahwa timur laut memiliki potensi militer luar biasa dilihat dari besarnya jarahan yang didapat.

      “Kau lihat bangunan yang megah itu, Ruby?” Laras menunjuk suatu bangunan besar. “Itu Rhesus Mansion. Banyak ksatria bergabung di dalamnya. Dan tower tertinggi di bangunan itu, itu milik Sans Nom, pemimpin para ksatria di mansion itu.”

      “Sans Nom? Bukankah itu artinya tanpa nama?” tanya Ruby.
      Laras tertawa. “Iya, tapi percuma dia menyebut kastilnya Sans Nom. Seisi travian land mengenalnya. Namanya Felix. Dia tipe yang tidak bisa diam, selalu sesumbar akan kekuatannya, baca saja di buletin itu…”

      Ruby mencermati buletin di tangannya, lalu tiba-tiba tergelak. “Ini Felix yang pernah kita kenal beberapa tahun yang lalu? Yang kita ribut dengannya tiap hari karena perebutan oasis ketika kita dan dia sama-sama memiliki ladang 15 hektar bersebelahan?”
      “Hahaha, kau ingat rupanya…” Laras ikut tergelak.
      'Ah, bagaimana mungkin tak ingat,' batin Ruby.

      Tak berapa lama, Laras kembali mengarahkan pandangannya ke kejauhan. “Nah, kalau yang samar di kejauhan itu Devil Mansion. Leader mereka bernama Sir Kendrick. Kalau kau baca di buletin itu, ada Panglima Erlan di sana, yang kemampuan perangnya tak diragukan lagi.”

      Ruby manggut-manggut. “Kekuatan yang besar dan menjanjikan,” gumamnya. “Lantas apa tujuanmu mengundangku ke sini Ras?”

      Laras sumringah, mendengar pertanyaan yang ia tunggu akan terlontar dari Ruby. “Aku butuh masukanmu, By, sebaiknya aku bergabung ke mana ya? Mansion Rhesus atau Devil…”
      "The most blessed leader is one who loves the people, and -in return, they love him" (Mohammad PBUH)

      If ur depressed ur living in the past. If ur anxious ur living in the future. If ur at peace ur living in the present" (LaoTzu)

      The post was edited 2 times, last by swann ().

    • Chapter 1. Ruby

      Part three. The Choice

      “Kau lihat bangunan yang megah itu, Ruby?” Laras menunjuk suatu bangunan besar. “Itu Rhesus Mansion. Banyak ksatria bergabung di dalamnya. Dan tower tertinggi di bangunan itu, itu milik Sans Nom, pemimpin para ksatria di mansion itu.”
      “Nah, kalau yang samar di kejauhan itu Devil Mansion,” Laras menunjuk ke kejauhan. “Leader mereka bernama Sir Kendrick. Kalau kau baca di buletin itu, ada Panglima Erlan di sana, yang kemampuan perangnya tak diragukan lagi.”
      “Aku butuh masukanmu, By, sebaiknya aku bergabung ke mana ya? Mansion Rhesus atau Devil…”

      “Heh?” Ruby mengernyitkan keningnya. “Repot-repot aku datang hanya untuk pertanyaan ini? Pilih saja yang kamu lebih suka, Ras. Kan aku tidak ikut bertualang di sini…”

      “Ruby,” Laras menahan tangan Ruby ketika ia hendak beranjak pergi. “Kau lihat kan besarnya potensi timur laut? Kekuatan para ksatria di kedua mansion ini akan sangat besar jika digabungkan. Itu pasti akan menggentarkan kerajaan-kerajaan di kuadran lain. Tapi jika mereka tidak bisa akur, bencana, dan kuadran lain yang akan bertepuk tangan melihatnya…”

      “Kenapa timur laut Ras? Bukannya biasanya pecinta barat daya sejati?” tanya Ruby penuh selidik. “Sebentar, kamu ke sini bersama tim siapa saja?”

      “Ya ampun Ruby, curiga amat sih... Aku sendiri saja seperti biasa. Kamu kan tahu tim kita sudah menghilang sejak lama...” Laras menjelaskan. “Kenapa timur laut, karena aku sudah lelah bermain di barat daya, yang terlalu sering hanya jadi ajang politik kuadran lain, terpecah belah dan dimanfaatkan. Meski tak selalu, tapi cukup sering aliansi kuat yang terbentuk sejak lama memilih di timur laut.”

      “Aku baru saja menyelesaikan server 1, Ras. Dan tim kami di barat daya kompak dan akhirnya berhasil memenangkannya loh,” tukas Ruby.

      “Ok, kamu telah berhasil mematahkan kutukan barat daya, By,” sahut Laras. “Tapi aku kan belum. Jadi ini mimpiku, By. Aku hanya ingin bermain untuk kuadran, merasakan kuadran yang rapi, terorganisir dan kuat, tanpa perang saudara berlarut-larut. Dan, aku ingin merasakan... kuadranku menang, By...” Laras nyengir ketika menyampaikan kalimat terakhirnya.

      Tawa Ruby meledak mendengarnya. “Kasihan sekali kau nak,” ujarnya sambil mengucak rambut Laras. “Belum pernah menang ya...” ledeknya. “Bagaimana mungkin bisa menang kalau jiwa pemberontakmu ini selalu berprinsip It’s better to be a pirate than join navy...”

      Laras cemberut.

      Ruby tersenyum. Kini ia duduk menghadap Laras. “Kau lihat bendera yang berkibar di Rhesus Mansion Ras? Tertulis di situ: NE. Jadi mestinya mereka benar-benar akan memperjuangkan kuadran ini. Tapi memang, aku tak mengenal baik siapa-siapa di dalamnya. Hanya Felix, itu pun dengan memori samar tentang kurang mampunya kita bekerja sama dengan baik dengannya, juga memori samar tentang gaya berpolitik keluarganya di masa lalu yang tak kusukai,” Ruby menghela nafas.

      “Sementara Devil Mansion,” Ruby melanjutkan, “memang bukan bendera kuadran yang mereka kibarkan, melainkan bendera keluarga. Tapi aku mengenal mereka, Ras. Server 1 kemarin mereka adalah musuh yang kami kalahkan. Namun pertempuran yang sengit dan adil membuat kami respek kepada mereka. Mereka kuat. Berperang dengan skill mereka. Non politik. Dan mereka selalu di timur laut. Tak ada yang ragukan kecintaan mereka yang berakar untuk timur laut. Aku pun yakin, mereka memiliki persiapan lebih kali ini...”

      “Jadi...?” tanya Laras.
      “Aku sebenarnya pernah duduk bersama para ksatria Devil itu,” Laras menambahkan, ketika dilihatnya Ruby masih diam. “Ketika itu Devil Mansion belum ada. Lalu ketika aku membuat desa baru, desa dengan ladang luas luar biasa di dekat lokasi bakal keajaiban dunia di pedalaman timur laut, seseorang mengusirku dari kumpulan itu. Tak berapa lama Devil Mansion selesai dibangun, dan ternyata banyak dari mereka yang pernah duduk-duduk bersamaku bergabung ke sana. Leader Devil pun pernah menawariku bergabung ketika melihatku sendirian, lalu aku katakan aku mengamati saja. Karena siapapun nanti yang akan membangun keajaiban dunia untuk timur laut, aku siap mendukungnya...”

      “Semestinya keduanya bisa bersinergi untuk kekuatan timur laut, Devil dan Rhesus ini, Ras,” komentar Ruby. “Kalau kau nyaman dengan posisi sebagai pengamat, dan tak ada yang mempermasalahkan, kenapa tidak. Tapi jika kau berpikir waktunya bergabung dan bertanya bergabung ke mana, aku akan menjawab, bergabunglah ke Devil Mansion, Ras.”

      Laras berpikir sejenak.

      “Aku mengenal Ken, Ras,” sambung Ruby. “Perlu aku sampaikan padanya bahwa ksatria tukang ngompol dari House of Enuresis ingin bergabung ke Devil Mansion?” pertanyaan yang Ruby lontarkan sambil terkekeh dan berlari menghindari pukulan Laras.

      ---

      Merasa sudah tuntas permasalahan Laras, Ruby berpamitan. Ia serahkan kepada Laras kapan akan menghubungi Devil Mansion untuk bergabung.

      Tapi sebelum meninggalkan travian land, Ruby pikir tak ada salahnya sekalian berjalan-jalan sebentar. Ia pun menuju Devil Mansion. Sengaja ia menunggu di luar gerbang, berharap bisa berjumpa Sir Kendrick yang berangkat atau pulang berburu.

      Nasib baik berpihak padanya. Rombongan para ksatria Devil sedang pulang dari berburu.

      “Ken,” seru Ruby melihat sosok sang leader. Ksatria yang lain spontan bergerak mendekati Ruby dan menyiagakan pedang mereka, bertujuan melindungi sang leader.

      Melihat siapa yang memanggilnya, Ken pun memberi isyarat kepada adik-adik dan para ksatrianya untuk mundur. Dia meminta mereka segera masuk dan membawa hasil buruan mereka. Ia sendiri turun dari kudanya dan menghampiri Ruby.

      “Hai Mbak,” sapa Ken. “Bermigrasi ke sini?”
      Ruby tersenyum. “Nggak, Ken. Aku hanya berkunjung ke sini sebentar. Mengintip, sekaligus menyemangati kalian, hehehe...”
      Ken tertawa.

      “Kulihat Devil turun lagi. Full team? Berbasis di NE lagi?”
      “As always, Mbak,” sahut Ken. “Bahkan kita lebih siap sekarang dibanding yang kemarin.”

      “Orang yang aku kunjungi, yang aku pakai namanya untuk mendapat izin mengintip negeri ini, bertanya kepadaku harus bergabung ke mana,” papar Ruby. “Kubilang saja bergabunglah ke Devil. Kutahu kalian pasti solid berjuang untuk timur laut, tanah leluhur kalian…”
      “Wah, siapa Mbak? Sini biar aku undang dia ke Mansion kami.”
      “Tak usah Ken, biar nanti dia sendiri yang mengajukan dirinya. Mana mau dia diwakil-wakili orang lain, emak-emak pula yang mewakili…”
      Ken tertawa.

      “Ken,” panggil Ruby. “bagaimana pendapatmu tentang para ksatria di Rhesus Mansion? Aku lihat mereka juga mengusung bendera NE.Ini luar biasa besar kekuatan di NE jika bersatu, tapi bisa jadi bumerang jika malah pecah perang dalam kuadran, bisa jadi NE tidak akan dapat apa-apa nantinya.”
      “Sepanjang mereka juga berjuang untuk kuadran yang sama, kenapa tidak, Mbak” sahut Ken. “Meski aku sebenarnya belum terlalu bisa percaya ke tim mereka sih Mbak…”

      Ruby tersenyum. “Semoga berhasil ya Ken.”
      Ken mengangguk.

      “Selamat ber-evaporate, Mbak,” ujar Ken ketika mengantarkan Ruby ke gerbang travian land. “Semoga sukses di real world nya ya…”
      Ruby tertawa dan melambaikan tangannya.

      ---

      Ruby kembali melepas goggle hologramnya, dan bersiap untuk mandi dan berangkat ke tempat kerjanya. Ketika sebuah email masuk dari Laras.

      “Jika ada masalah yang rawan memecah kesatuan kuadran NE, berjanjilah Ruby bahwa kau akan kembali dan membantuku…”

      Ruby menepuk jidatnya.
      "The most blessed leader is one who loves the people, and -in return, they love him" (Mohammad PBUH)

      If ur depressed ur living in the past. If ur anxious ur living in the future. If ur at peace ur living in the present" (LaoTzu)

      The post was edited 1 time, last by swann ().

    • Chapter 1. Ruby

      Part four. Involved

      Hampir sebulan berlalu. Ruby sudah mulai menikmati hari-harinya tanpa harus berkali-kali mengaktifkan portal ke travian land. Dia baru saja menyelesaikan berkas terakhir tugasnya hari itu, ketika sebuah deringan dan kedipan hijau menyala di bracelet nya.

      “Laras, aku masih di tempat kerja,” seru Ruby.
      “Kalau sudah luang datanglah kemari,” pinta Laras. Kali ini dia mengenakan helm kesadaran dan zirah pelindung dada. Di latar belakang tampak berkibar bendera Devil di menara Devil Mansion. Tahulah Ruby, Laras sudah bergabung bersama para ksatria Devil.

      “Ruby, Ada ancaman perpecahan di timur laut,” ujar Laras. “Ada ksatria dari Rhesus Mansion yang terus menerus menyerangku meskipun pesan bersahabat untuk mengingatkan telah kukirimkan. Ken sendiri telah menyiagakan pasukan dan bersiap perang melawan mereka…”
      “Baiklah, Ras, akan kubantu nanti kalau aku sudah sampai rumah,” janji Ruby.

      Ah, ksatria dari Rhesus Mansion. Berarti tim Felix. Ruby menghela nafas.
      Memang ada tipikal orang yang begitu kalimatnya terdengar, atau begitu wajahnya tampak, orang-orang begitu mudah jatuh hati dan percaya kepada orang tersebut. Tapi ada juga sebaliknya, sebagian yang lain langsung mengundang kecurigaan, ketidakpercayaan, atau bahkan kebencian begitu kalimatnya terdengar atau wajahnya tampak.
      Ruby beruntung termasuk golongan yang pertama, atau setidaknya, itu klaim yang lahir dari narsisme luar biasa yang dimilikinya. Sementara Felix, sepertinya tak sadar bahwa dia termasuk dalam golongan kedua: biang kerok.

      Dalam perjalanan pulang, Ruby mengirim email ke Felix.
      ‘Hai Lix, masih belum bosan bermigrasi dari server ke server? Aku masih mendapat kiriman email buletin rutin travian land, dan namamu muncul lagi rupanya...’
      Felix belum tahu bahwa Ruby sudah sempat berkunjung dan melihat Rhesus Mansion, juga belum tahu ada Laras di sana.
      ‘Hai Ruby… Baru juga mulai lagi setelah bertahun-tahun vakum. Ayo sini bantu aku, aku butuh tambahan tangan,’ jawab Felix.

      Ruby pun menghubungi Felix. Terlihat Felix sedang duduk di sofanya dengan kaleng soda di tangan kanannya. Dia masih di real world.
      “Siapa saja timnya, Lix ?” tanya Ruby.
      “Tim? Boro-boro,” sahut Felix. “Sendiri aja. Tapi ini dah mulai ketemu teman-teman baru, tim kecil tapi kompak, aku yakin kita akan jadi tim solid koq nantinya.”

      “Ok deh, tapi ga janji bantu banyak ya…”
      “Gapapa By, siapkan defender yang banyak aja, hahaha…”
      “Emang dah mau perang?” Ruby berusaha menggali situasi dari sudut pandang Felix.
      “Ga si, tapi bukannya kamu biasa main def?”
      “Iya deh, nanti aku buka kavling di sana.”

      “Server 7, timur laut ya By,” Felix mengingatkan Ruby. “Kalau mau buka kavling, pakai saja referensiku, nanti aku bantu biar desanya cepat berkembang…”
      “Iya, iya,” tukas Ruby. “Nanti kalau dah sampai rumah.”
      “Ok, ketemu di sana ya. Daag Ruby…”

      ---

      Ruby kembali menghadap meja sang Registrar untuk kedua kalinya. Berdegup jantungnya karena ia harus menyembunyikan dokumen perjalanan sebelumnya agar tak tertangkap sebagai pengganda identitas di travian land. Sengaja ia mengikat rambutnya lebih tinggi dan mengubah cara berpakaiannya agar tak dikenali.

      “Tujuan ke travian land?”
      “Membuka kavling dan mencari penghidupan baru.”
      “Nama?”
      “Matah Ati”
      “Ada referensi yang dibawa?”
      Ruby menyerahkan referensi dari Felix.
      “Area?”
      “Timur laut.”
      “Suku?”
      Ruby berpikir sejenak. Hmm, selalu ada saat pertama kali untuk semua hal, pikirnya. Ia pun menjawab dengan mantap.

      ---

      “Hahaha, teuton!!! Bagus, bagus, kita akan butuh banyak sekali spearman,” Felix dengan girang menyambut Ruby. “Selamat datang di Rhesus Mansion, Ruby…”

      Felix mengumpulkan para ksatrianya dan memperkenalkannya ke hadapan Ruby.
      “Ini Richy,” Felix memperkenalkan, “nama keluarga ini adalah idenya, kampanye nya untuk kesehatan dan kemanusiaan. Makanya desa-desanya juga bernama rhesus negatif. Kau sudah mengenalnya kan By?”
      Ruby tersenyum dan mengangguk. Ia mengenal Richy beberapa tahun sebelumnya. Seingat Ruby, Richy memang berasal dari keluarga yang sama dengan Felix.

      “Perkenalkan, Freddy, Rasta, Hesfi, Ronron, Wandha, …” Felix menyebutkan beberapa nama lagi yang tak semuanya berhasil Ruby rekam saat itu. Yang jelas, semua nama terdengar baru baginya. Semakin menambah tanda tanya di benak Ruby, di mana keluarga Felix yang lainnya menetap. Dan jika bukan di timur laut, untuk siapa Felix berjuang di server ini.

      “Dan semuanya, ini Ruby,” Felix memperkenalkan Ruby ke mereka. “Jadi, berhubung sudah ada sosok wanita di sini sekarang, kita punya ibu yang bisa mengerem dan mengendalikan kita kalau sewaktu-waktu kita terlalu meledak-ledak.”
      “Kita?” Richy protes. “Kita mah nggak. Yang suka meledak-ledak tu om Felix, Bu…”

      “Iya, saya di sini memang untuk jaga Felix agar tidak meledak-ledak,” sahut Ruby kalem yang disambut gelak tawa para ksatria yang lain.
      “Awas kalian ya…” ancam Felix.

      Secara umum, begitu hangat sambutan keluarga baru itu Ruby rasakan. Senyum tipis dan anggukan canggung pun Ruby berikan. ‘Padahal bukan untuk kalian tujuan awal kehadiranku di sini…’ ia membatin.

      Kecuali satu. Satu orang yang Felix perkenalkan sebagai partnernya dalam mengelola kastil Sans Nom, mengesankan karakter arogan dan merasa paling benar, merendahkan pendapat orang lain, juga enggan mengikuti aturan yang penting tujuannya tercapai. Itu menambah kekhawatiran Ruby. Namun ia simpan kekhawatiran itu.

      “Bagaimana kebijakanmu tentang para ksatria di Devil Mansion Lix?” tanya Ruby setelah Felix dan Richy memandunya tour berkeliling mansion.
      “Devil? Tentu saja sejalan, kita kan sekutu mereka,” jawab Felix spontan. “Kita sama-sama besar di NE, sama-sama berjuang untuk kuadran. Sekarang saja masih pakai nama sendiri-sendiri, nanti juga akan menyatu koq…”

      “Aku dengar ada serangan dari Rhesus Mansion ke Devil,” pancing Ruby.
      “Aku dengar dari Ken, Lix, aku mengenalnya,” Ruby menambahkan ketika Felix memandangnya heran mempertanyakan dari mana Ruby mendapat informasi itu.

      “Oh, bukan dari Rhesus Mansion itu,” jawab Felix. “Ada beberapa mansion lain yg lebih kecil, WARS dan SYN, yang semuanya sama-sama mengibarkan bendera NE,” Felix menjelaskan. “Si Chesta itu memang menjengkelkan, dia pikir Devil karena berbeda bendera bisa dia serang, padahal kan satu kuadran dan sekutu. Tapi sudah kuingatkan, kalau besok masih dia serang House of Enuresis, biar aku yang mengusirnya sendiri,” gerutu Felix.

      “House of Enuresis?” tanya Ruby.
      “Iya, rumahnya ksatria tukang ngompol, entahlah kenapa namanya aneh begitu,” jawab Felix. “Kemarin dia mengirim pesan padaku kalau Chesta menyerangnya. Aku juga tak tahu dia siapa, tapi kata ksatria itu dia mengenalku dan pernah berjuang bersamaku. Entah kenapa dia malah memilih bergabung ke Devil, bukannya ke Rhesus. Tapi tak masalah buatku, Devil dan Rhesus sama-sama satu tujuan ini koq. Chesta sudah kutegur. Ksatria yang lain juga sudah kuberi pengumuman untuk tidak menyerang Devil sama sekali.”

      Ruby menahan senyumnya. Felix benar-benar tak tahu siapa penghuni House of Enuresis. “Chesta itu siapa?”
      “Dia awalnya termasuk pendiri mansion ini Bu,” kali ini Richy yang menjawab. “Awalnya dia aktif luar biasa. Dia juga beri saya hak untuk mengelola semua urusan mansion. Lama-lama dia berkurang keaktifannya juga komunikasinya. Tipe gerak sendiri sepertinya dia.”
      “Oh begitu…”
      “Pokoknya kalau memang macam-macam ya aku nanti yang hukum By, kita pegang komitmen sekutu dengan Devil,” kata Felix. “Kalau Richy mah ga enakan orangnya…”

      Kekhawatiran Ruby mulai memudar. Meski belum hilang sepenuhnya.

      ---

      Selesai menata rumah barunya (dan Felix menepati janjinya dengan membantu menyediakan banyak hal untuk mengatur rumah baru Ruby), Ruby bergegas mendatangi tempat Ken.

      “Orang yang pernah phi kunjungi rumahnya untuk sekaligus mengintip negeri ini sudah menjadi penghuni mansion mu ya Ken?” tanya Ruby.
      “Iya tuh, pakai rahasia-rahasia segala gaya dia ketika minta bergabung. Aku senyum-senyum saja, dah tahu pasti ini teman yang Mbak cerita…”

      “Masih ada serangan ke desanya Ken?”
      “Tadi dia titip, terakhir aku cek sih aman,” jawab Ken. “Padahal aku sudah siapkan pasukan untuk menghadang, tapi malah ditolak oleh Laras.”
      “Iya, Felix sudah melarang semua ksatrianya untuk mengirim serangan ke Devil.”

      “Padahal kalau mau perang, perang aja, kita siap,” ujar Ken.
      “Mbak sendiri kenapa memilih tinggal di Rhesus mansion? Masuk dengan referensi Felix, pula… Pro kita atau Felix nih?” tanya Ken penuh selidik.

      “Loh, memangnya berseberangan?”
      “Ga, Mbak, bercanda aja koq,” kilah Ken. “Di awal juga para Brothers, teman lama di barat laut sempat menghubungi kita. Tapi kutanggapi biasa saja, rasanya kita fokus di timur laut saja kali ini.”

      Brothers… Ruby berusaha menggali ingatannya untuk mengenali siapa di barat laut yang Ken maksud, namun tak berhasil. Yang jelas, kesungguhan Ken membuatnya merasa semakin mantap untuk mengenal tim Felix lebih lanjut, untuk bisa tahu dan memastikan bahwa memang masih sama-sama berjuang untuk kepentingan kuadran yang sama.

      ---

      Setelah semua itu, barulah Ruby menuju kediaman Laras.

      “Tega kamu By, seisi timur laut sudah kamu kunjungi, aku yang terakhir kamu datangi,” protes Laras.
      “Lho aku kan harus memastikan dulu semua terkendali seperti rikuesmu kan?” Ruby membela diri.
      “Iya deh, iya. Untungnya Felix komit.”

      “Oh ya Ras,” Ruby berucap pelan.
      Laras pun menengok ke arah Ruby.
      “Kau tahu kan ini pertama kali aku menjadi seorang teuton…” ujar Ruby makin lirih. “Aku tak tahu bagaimana cara menjadi teuton yang baik…”

      “Ya ampun, Rubyyyy,” Laras menjerit. “Latih clubswinger yang banyak dan merampoklah!!!”
      “Aku kan tak punya cukup banyak waktu untuk merampok…”

      “Iya deh iya, nanti aku bantu mengelola desa dan pasukanmu. Selalu saja merepotkan orang emak-emak satu ini,” gerutu Laras. “Untung House of Enuresis hanya memproduksi pretorian...”

      “Memangnya ada yang bisa ga sayang sama Ruby?” tanya Ruby retoris. “Everybody loves me, na?” ujarnya sambil memamerkan deretan giginya.
      Laras sudah hampir memukul Ruby dengan pentungan clubbies milik Ruby, tapi Ruby keburu kabur.

      ---

      Maka resmilah Matah Ati, teuton imut-imut itu terlibat dengan server 7, mengemban mimpi besar Laras: kuadran yang stabil dan rapi. Dan untunglah, Ken dan Felix sama-sama mendukungnya. Atau setidaknya, ia pikir begitu...
      "The most blessed leader is one who loves the people, and -in return, they love him" (Mohammad PBUH)

      If ur depressed ur living in the past. If ur anxious ur living in the future. If ur at peace ur living in the present" (LaoTzu)

      The post was edited 3 times, last by swann ().

    • Felix-2_ID wrote:

      Lanjutkeun Phi, biar gemes bacanya
      siyaapp...
      masih belum nggemesin si chapter 1 nya. smg ga ada penggambaran yg ga akurat ya... :saint:
      "The most blessed leader is one who loves the people, and -in return, they love him" (Mohammad PBUH)

      If ur depressed ur living in the past. If ur anxious ur living in the future. If ur at peace ur living in the present" (LaoTzu)
    • xeqtr wrote:

      Keren, cc.. Notif on untuk nunggu lanjutan ceritanya dah..
      Mksh sis... <3

      Filantrofis_ID wrote:

      +1 dulu lah di novel kali ini, biar yg nulis semangat dikid, jgn sampe ngikutin si GRRM yg nyebelin, nulis novel sebiji aja dah 6 taon ga kelar2.

      Ga sabar nunggu lakon saia tampil.
      mksh ya jempolnya. ga tulus jempolinnya juga gpp, nanti saja tulis lakon situ deh :d
      "The most blessed leader is one who loves the people, and -in return, they love him" (Mohammad PBUH)

      If ur depressed ur living in the past. If ur anxious ur living in the future. If ur at peace ur living in the present" (LaoTzu)
    • el_payaso_ID wrote:

      itu brothers rasanya di barat laut bukan barat daya deh...CMIIW
      wah iya, jarinya kurang konsen itu ngetiknya, maklum sblmnya sw lovers mulu #ngeles :d
      mksh bro, skrg dah dikoreksi
      "The most blessed leader is one who loves the people, and -in return, they love him" (Mohammad PBUH)

      If ur depressed ur living in the past. If ur anxious ur living in the future. If ur at peace ur living in the present" (LaoTzu)
    • Shoulder The Burden

      Chapter 2. Sandaran Hati Matah

      Part one. Shoulder The Burden

      Hari-hari selanjutnya berputar laiknya putaran jam, rutin. Membangun desa, menggali sumber daya, memproduksi pasukan, merampok, membuat desa baru, membangun desa, menggali sumber daya, dst…

      Internal kuadran timur laut stabil. Tidak ada gesekan antara bendera Devil dengan bendera NE (Rhesus Mansion dan yang lain). Begitu pun ketika Panglima Erlan meninggalkan Devil Mansion dan mendirikan Mansion Hantu di sebelahnya, tak ada kericuhan apa pun. Semua memaklumi, itu hanya kebutuhan Sang Panglima untuk bergerak lebih leluasa dan memiliki ruang penyimpanan sendiri yang lebih besar untuk hasil jarahannya yang berkali-kali lipat ksatria lainnya. Yang ada hanya gesekan kecil dengan mereka yang tanpa aliansi atau aliansi kecil di timur laut. Di atas kertas, kekuatan timur laut adalah kekuatan terbesar server itu.

      Barat daya, seperti lazimnya yang tertulis di berbagai sejarah travian land, masih sibuk dengan perang saudara tak berkesudahan. Barat laut, terlihat solid dengan bendera yang sama, CBR, dipimpin oleh Sang Gubernur yang tinggal di Istana Buitenzorg. Tenggara, juga terlihat solid dengan bendera mereka, BEST.

      Satu hal yang mengganjal di benak Laras adalah kekuatan besar timur laut itu masih tegak dengan dua bendera: NE dan Devil. Dan meski status sekutu serta perdamaian terpelihara baik, tak terlihat tanda-tanda penyatuan bendera atau koordinasi gerak bersama dalam waktu dekat, padahal artefak akan keluar dalam waktu kurang dari sebulan lagi.

      ---

      Sebenarnya dua hari setelah Ruby bergabung, Felix mengajukan usul peleburan bendera ke Ken. Namun Ken menangguhkannya karena masih belum percaya sepenuhnya dengan Felix dan timnya. Secara pribadi, Ken telah menandai ada cela pada karakter Felix sejak awal menetap di tanah itu. Gentleman's agreement tentang 2 desa dengan ladang luas bersebelahan dan oasis melimpah telah dibuat, Felix telah persilakan untuk diambil Ken. Namun di detik-detik terakhir, karena nilai budaya Felix telah cukup lebih awal, ia pun memberangkatkan imigrannya ke desa tersebut, membuat imigran Ken harus balik kanan setelah berjalan begitu jauh.

      Ken menceritakan hal itu pada Ruby, dan minta pendapatnya mengenai peleburan bendera. Ruby pun belum berani menyarankan apapun karena masih berusaha mengenal tim Felix lebih lanjut.

      ---

      Butuh waktu sekitar sebulan bagi Ruby untuk bisa mengenal para ksatria di Rhesus Mansion. Mereka hanya orang-orang yang kebetulan dipertemukan karena memilih kuadran yang sama sebagai tempat tinggal mereka. Banyak di antara mereka adalah pejuang baru yang lemah, meski beberapa adalah pejuang yang telah lama malang melintang di travian land. Sebagian mereka yang lemah dan lambat belajar Felix keluarkan dari Mansion, sisanya yang bersemangat tinggi untuk belajar dan mengejar ketinggalannya Felix pertahankan.

      Sedikit mulai hilang keraguan Ruby. Ia mulai meyakini bahwa timur laut bisa dan memang harus disatukan. Ruby memang tak bisa menjamin bahwa tak akan muncul cela lagi pada karakter Felix, tapi dengan sebuah manajemen yang baik, ia yakin kesalahan-kesalahan personal tersebut bisa dicegah atau diselesaikan.

      Ken sendiri masih berpikir penangguhan penyatuan bendera adalah lebih baik. Ia tak ingin jika timur laut tegak dengan satu bendera, kuadran lain akan menyadari kekuatan besar timur laut dan bersekutu untuk memeranginya. Felix kali ini mengiyakan saja, tak mau dianggap ngeyel atau ngotot.

      Ruby sangat sadar, bahayanya dua bendera dalam satu kuadran ketika perebutan artefak nantinya. Perselisihan sedikit saja dapat memicu pertikaian, dan itu benar-benar akan menghabiskan energi dalam kuadran sendiri. Karenanya, meskipun belum ada penyatuan tag, Ruby bersikeras mengusulkan untuk menyatukan manajemen pengambilan arte agar tidak ada kesalahpahaman yang berpotensi memecah kuadran gara-gara perebutan arte.

      Felix dan Ken berpandangan sejenak mendengar usul Ruby, lalu secara bersamaan seolah ada yang memberi komando, mereka berdua mengacungkan telunjuknya ke arah Ruby.

      “Kamu saja yang memimpin manajemen pengambilan arte, Mbak,” ujar Ken.
      “Iya, Ruby saja,” Felix menimpali.

      Ruby menatap Ken, ia melihat ketidakpercayaan terhadap Felix begitu kental terpancar dari matanya. Pun begitu menatap Felix, ia melihat ada keengganan jika koordinasi pengambilan artefak dipimpin oleh Ken. Ruby menghela nafas…

      “Kalau begitu aku akan butuh data masing-masing, Ken, Lix,” ujar Ruby. “Kekuatan pasukan, lokasi barak dan istal, juga barak besar dan istal besar jika ada. Juga lokasi di mana saja gudang ilmu untuk menampung artefak kecil maupun besar dibangun, gudang ilmu yang besar terutama, agar bisa mengatur tugas pengambilan artefak nantinya. Aku juga perlu tahu gaya berperang masing-masing ksatria, artefak apa yang pernah mereka pegang, dan artefak apa yang mereka inginkan untuk dipegang sekarang.”

      “Sebisa mungkin kita akan sesuaikan arte dengan keinginan para ksatria, namun perlu diingat juga ada arte tertentu yang akan lebih tepat peruntukannya jika dipegang ksatria dengan kriteria tertentu. Anta spesial untuk ksatria dengan sumber daya tak terbatas untuk memproduksi pasukan tak terbatas pula, megahammer kita nantinya, misalnya…” sambung Ruby.

      “Anta spesial aku minta untuk Erlan, panglimaku, Mbak,” ujar Ken.
      “Aku setuju anta spesial untuk Panglima Erlan,” Felix mengiyakan. “Biar kita memiliki megahammer untuk ratakan keajaiban dunia yang dibangun lawan nantinya. Anak-anak Rhesus biar pada merusuh saja.”

      “Baik,” sahut Ruby. “Untuk yang lainnya aku tunggu datanya.”
      “Siap By,” sahut Felix spontan.
      “Baik Mbak, nanti aku cek data anak-anak di Devil,” sahut Ken. “Kalau Mbak butuh apa-apa atau ada instruksi apa, kasih tau aku saja, nanti aku sampaikan ke anak-anak, mereka akan ikut apapun kataku…”

      Ruby tersenyum.

      ---

      Segera setelah pertemuan itu, Felix mengumpulkan para ksatria Rhesus Mansion dan memberikan pengumuman. “Mulai hari ini, semua harus mengumpulkan informasi untuk persiapan pengambilan artefak ke Ruby. Apapun data yang diminta Ruby harus diberikan. Barang siapa menyembunyikan kondisi desa atau pasukannya, sehingga Ruby menilai kalian tidak bermain untuk tim, Ruby berhak mengeluarkan kalian dari mansion ini.”

      “Siap Bu,” sahut Richy sambil mengangguk ke Ruby, yang ditimpali sahutan yang serupa dari para ksatria lainnya.

      Ruby segera menyikut Felix.
      “Kenapa, ada yang salah?” Felix memandang Ruby dengan heran.
      “Kupikir data sudah ada di tanganmu dan aku tinggal menyusun rencananya,” protes Ruby setengah berbisik.
      “Kan biar sekalian, kamu saja By yang mengecek mereka” sahut Felix ringan.
      Ruby mendengus.

      Mulai hari itu, Ruby pun benar-benar tersibukkan dengan pengecekan. Barak demi barak para ksatria ia kunjungi. Sebagian sudah siap, hanya perlu Ruby arahkan sedikit agar lebih kuat dan rapi persiapannya. Ada yang menargetkan memegang artefak tertentu, yang hanya Ruby catat saat itu, karena ia masih harus menilai kelayakannya setelah semua data ia pegang dan bandingkan. Umumnya mengatakan ikut saja nanti diberi tugas mengambil atau memegang artefak apa pun. Itu pun Ruby catat.

      Ada satu ksatria yang menarik perhatian Ruby. Di ruangan pertemuan, dia tak terlalu banyak bicara. Pernah Ruby berkunjung ke salah satu desanya, dan sepulang dari sana ia mengeluh pada Felix, karena desa tersebut sangat tidak optimal perkembangannya. Namun pada pengecekan terbaru kali ini, ksatria itu menunjukkan semua desanya, memaparkan semua rencananya di masing-masing desa, menunjukkan di mana letak baraknya serta target masing-masing, Ruby terkesima. Ini bukan ksatria sembarangan, dan dia tidak main-main dengan rencananya.

      “Mbak,” panggil ksatria itu. “Apa semua artefak akan dibagi sesuai permintaan masing-masing begitu saja?”
      “Tentu tidak, Rasta,” sahut Ruby. “Kita akan lihat potensi masing-masing, tepat atau tidak peruntukannya…”
      “Kalau begitu, aku boleh titip pesan, Mbak?”
      Ruby mencondongkan badannya untuk lebih menyimak. “Tentu, Rasta.”

      Rasta pun memberikan masukan, arte apa saja akan lebih optimal di ksatria dengan karakter seperti apa. Sepertinya dia benar-benar peduli dan ingin memastikan apa yang ada di kepalanya sama seperti yang nanti akan direncanakan Ruby.

      “Aku tidak ada permintaan arte khusus apa pun, Mbak, karena aku juga tak tahu bagaimana kondisi desa-desa dan pasukan para ksatria lainnya. Mbak saja yang menilai bagaimana desa-desa dan pasukanku dibandingkan dengan yang lainnya, dan tentukan nanti aku harus mengambil apa,” Rasta mengakhiri pemaparannya.

      “Tentu, terima kasih, Rasta,” jawab Ruby. Ia meninggalkan barak Rasta dengan rasa puas.

      ---

      Tapi tak semuanya seperti Rasta. Sebagian yang lain masih jauh dari siap untuk perebutan arte. Ruby masih harus mengarahkan bagaimana mereka sebaiknya mengelola desa-desanya, mengingatkan hal-hal penting yang terlupakan oleh mereka untuk persiapan pengambilan arte, bahkan ikut mengotori tangannya untuk turut melatih beberapa pasukan di barak mereka.

      Ruby terduduk kelelahan begitu sampai pondoknya. ‘Kamu melakukan apa saja selama dua bulan ini, Lix? Kau sama sekali tak mengajari dan mempersiapkan mereka...’ keluh Ruby dalam hati.

      Dan itu kurang dari empat pekan sebelum arte...
      "The most blessed leader is one who loves the people, and -in return, they love him" (Mohammad PBUH)

      If ur depressed ur living in the past. If ur anxious ur living in the future. If ur at peace ur living in the present" (LaoTzu)

      The post was edited 2 times, last by swann ().

    • NW or SE, and We Choose NE

      Chapter 2. Sandaran Hati Matah

      Part two. NW or SE, and We Choose NE

      Dua pekan sebelum arte,

      “Masih jauhkah, Mbak?” tanya Ken.
      “Sebentar lagi, Ken,” sahut Ruby. Setengah berlari ia melewati pepohonan di hutan itu, meninggalkan Ken di belakangnya. Ruby menoleh dan tertawa melihat Ken agak terengah-engah berusaha menyusulnya.

      “Hey, Ken, sekarang kau bisa menghargai betapa lelahnya para scout teuton tanpa kuda seperti yang dinaiki para scout suku lain kan?” tanya Ruby sambil duduk di sebuah tunggul kayu, menunggu Ken.
      “Iya, iya,” sahut Ken, lalu duduk di tunggul kayu lainnya di dekat Ruby. “Jadi ini alasanmu sengaja menyuruhku meninggalkan kuda-kuda kita?” Ken bertanya setelah dilihatnya tempat itu sebenarnya masih sangat memungkinkan untuk dicapai dengan naik kuda.

      “Yep,” sahut Ruby, “Bagaimana kita bisa menghargai mereka yang berjasa seremeh apapun untuk negeri kita, jika kita tak pernah bisa menghayati kesulitan yang mereka tempuh, kan?”
      Ken bergumam membenarkan.

      “Itu pondokku,” Ruby menunjuk ke arah sebuah pohon dengan tangga untuk memanjat ke atas. Sebuah rumah pohon bertengger di atasnya.
      “Wah, seru banget, Mbak,” cetus Ken. “Mata hati?” Ken mengeja nama yang tertera di papan di depan rumah pohon Ruby.

      “Matah ati,” ralat Ruby. “Cuma karena spasinya tak terlihat, orang jadi sering membacanya mata hati.”
      “Artinya?”
      “Matah ati berarti melayani hati,” jawab Ruby. “Berarti melayani orang dan tanah yang memang menjadi sandaran hati…”
      “Hmm…” gumam Ken.

      “Kau tak bertanya apa atau siapa yang menjadi sandaran hatinya?” pancing Ruby.
      “Tanah, aku tahu,” sahut Ken. “Pasti timur laut. Tapi orang?” Ken menggeleng. “Aku tak berani menebaknya…”
      Ruby tertawa.

      “Hey,” seru seseorang dari atas rumah pohon. “Kalian tak naik?”
      “Sebentar, Ras,” teriak Ruby.

      Ken dan Ruby segera memanjat. Di atas, Laras telah menunggu dengan ubi rebus terhidang di depannya.

      “Ubi dari mana Ras?” tanya Ruby.
      “Dari mana lagi kalau bukan dari kebun Matah,” sahut Laras. “Kebunmu,” tegasnya lagi. “Benar-benar kamu By, jarang sekali menengok kebunmu, aku terus yang menggarapnya…”
      “Hahaha, maaf Ras…”

      Bertiga mereka menikmati ubi rebus di atas rumah pohon itu, yang ternyata mereka bisa melihat jelas Rhesus Mansion dan Devil Mansion dari atas situ. Dua mansion besar di tanah yang Ruby cintai: timur laut. Dua mansion yang Ruby impikan persatuannya. Bergantian ia menatap Laras dan Ken di sampingnya, seolah ingin mengatakan, 'Kau bertanya siapa sandaran hati Matah? Iya, kalian berdua dan timur lautlah yang jadi sandaran hati ini…’

      ---

      “Kenapa masih dengan dua bendera?” tanya Laras dengan gusar. “Padahal artefak sebentar lagi keluar…”

      Ken menjelaskan alasannya menjaga timur laut dengan dua bendera agar tidak menjadi alasan bersatunya kuadran lain melawan Timur laut. “Namun, koordinasi arte sudah kita lakukan sejak sekitar dua pekan lalu dipimpin Mbak koq,” ujar Ken.

      “Oh, syukurlah kalau begitu,” ujar Laras. Ia baru menyadari, baru kali ini ia bisa mendengar suara Ken cukup banyak. Sebelumnya ia hanya berkomunikasi dengan surat ketika mengajukan bergabung ke Devil. Setelah bergabung pun, belum pernah ia mendengar Ken memberikan pengumuman atau pengarahan tertentu untuk seluruh penghuni Devil Mansion.

      Laras masih menyimpan satu keresahan. Adanya anggapan di sebagian penghuni Devil Mansion bahwa penghuni Rhesus Mansion cenderung kepada SE. Sebaliknya, sebagian penghuni Rhesus Mansion menganggap penghuni Devil Mansion condong ke NW. Dan dengan status perdebatan di buletin travian yang memanas saat itu adalah perseteruan kubu CBR di NW dengan BEST di SE, ia khawatir timur laut akan ditarik dalam perseteruan tersebut sehingga pecahlah persekutuan NE dan Devil di timur laut.

      “Masa si begitu?” komentar Ken. “Kita tak pernah menuduh seperti itu. Justru rasanya mereka yang duluan menuduh kita sekutu bawah tangan dengan NW…”

      “Faktanya sendiri bagaimana Ken?” tanya Ruby.
      “Kita memang memiliki banyak teman di NW. Bahkan pernah berjuang bersama. Mereka juga pernah menghubungi, tapi hanya kutanggapi personal sebagai teman. Aku pernah cerita ke Mbak kan? Devil kali ini untuk NE.”

      Laras lega.
      “Mereka sendiri bagaimana Mbak?” Ken bertanya balik. “Bukankah Mbak pernah sampaikan gaya politik Felix yang patut diwaspadai…”

      ---

      Ruby ingat beberapa tahun yang lalu, dia pernah mengkritik gaya bermain keluarga Felix. Ruby menganggap mereka menebar anggota keluarganya di banyak kuadran, dan bertujuan memenangkan keluarganya di kuadran yang paling kondusif. Jadi siapapun pemenang server itu, mereka bisa turut mengklaim kemenangannya. Oportunis.

      Ruby khawatir jika di server ini Felix pun turun bersama tim yang tersembunyi di kuadran lain. Sehingga meskipun dia di timur laut, entah bermain untuk siapa yang akan dimenangkan di kuadran lain. Kekhawatiran itu pernah ia bagi ke Laras maupun Ken.

      Namun tinggal di Rhesus Mansion, mengenal Felix dan para ksatrianya, ia mulai meyakini satu hal: Felix memang berjuang untuk kuadran. Dia datang ke travian land tanpa keluarga besarnya yang dulu, baik di timur laut maupun kuadran lainnya. Bertemu dengan Richy yang ia kenal baik bertahun sebelumnya, lalu membangun Rhesus Mansion bersamanya. Di situlah ia menyusun kekuatan bersama Freddy, Hi Men, Rasta, Hesfi, Ronron, Wandha, dan banyak lagi yang baru ia kenal di negeri baru ini.

      Sekitar sepekan sebelum kunjungan Ken ke Pondok Matah Ati, Ruby pun pernah menanyakan kebijakan Felix mengenai kuadran lain.

      “Travian land itu negeri yang sangat tua, Ruby,” papar Felix. “Telah puluhan bahkan mungkin ratusan portal dibuka. Kemungkinan untuk bertemu kembali dengan mereka yang pernah berjuang bersama kita sebelumnya tapi kini berada di seberang itu sangat besar.”

      “Karena itu kalian menduga ada hubungan Devil dengan barat laut?”
      “Ruby, aku memang dengar dari teman-teman bahwa Devil pernah berjuang bersama dengan NW sebelumnya. So what? Aku juga punya banyak teman di NW. Aku juga punya teman di SE. Di SW juga ada. Tapi here we are, di NE. Di real world kami berteman baik, tapi di sini tak ada salahnya saling berperang mempertahankan kuadran masing-masing. Apalagi kau lihat, Ruby, analisis kekuatan saat ini, NE adalah kuadran terkuat, NW selanjutnya. Kalau hanya karena pertimbangan teman maka tak saling berperang, apa serunya dunia ini…”

      “Jadi karena itu kamu lebih baik memilih bersekutu dengan SE untuk melawan NW?” selidik Ruby.
      “Wrong, Ruby,” tegas Felix. “Ruby, dengar. Di real world, kita memiliki tempat berkumpul untuk semua perwakilan kuadran yang ada di negeri ini. Ken pun ikut berkumpul di sana. Kita semua telah bersepakat, tak akan mengorbankan pertemanan kita di real world untuk perkara remeh politik di travian land. Jadi di sini, tak ada sekutu-sekutu, kita murni berperang untuk menguji siapa yang skill berperangnya terbaik, kita berjuang untuk kuadran masing-masing.”

      “Is that possible?” komentar Ruby. “Jadi tiap kuadran akan melawan ketiga kuadran lainnya?” Ruby belum bisa membayangkan.
      “Tentu saja, kenapa tak mungkin?” sahut Felix.

      Ruby tercenung. “Tapi kenapa kau tak pernah menyerang SE? Kulihat kau hanya merencanakan penyerangan ke NW…”
      “Kata siapa Ruby? Mereka pernah menyerang kita dan kita pertahankan dengan baik. Aku pun pernah menyerang SE tapi tak mereka pertahankan sama sekali. Sepertinya mereka terlalu takut dengan pasukan Sans Nom…”

      “Uh, narsis,” cibir Ruby.
      “Ok, pointnya bukan itu,” kilah Felix. “Tapi berarti, untuk saat ini, kita bisa anggap SE bukan ancaman. NW sebagai kekuatan terbesar kedua itu yang harus segera kita atasi lebih dulu. Apalagi sudah terbukti mereka berusaha mengacaukan kuadran kita…”

      “Maksudnya?”
      “Kau ingat nama Chesta?”
      Ruby mengangguk. Salah satu pendiri Rhesus Mansion yang tak lagi menjadi pengurus mansion karena berkurang keaktifannya, dan yang menyerang Laras.

      “Semakin kuat dugaanku kalau dia adalah kaki tangan NW yang berniat mengacaukan NE. Kau ingat dia pernah menyerang ksatria ngompol kan?”

      Ruby mengangguk. 'Tentu ingat, Lix, itu alasanku berdiri di sini hari ini,’ jeritnya dalam hati.

      “Nah,” lanjut Felix, “Makin ke sini, aku makin tak bisa mengendalikannya. Semua serba tertutup, tak ada info yang dia laporkan mengenai desa dan pasukannya, dan banyak lagi alasan yang kudapat pula dari Richy dan yang lain yang membuatku yakin dia spy.”

      “Menurutmu NE mampu berdiri sendiri menghadapi ketiga kuadran lainnya?”
      “Pasti, Ruby, kita punya Devil dan NE fam. Di Devil ada Erlan sang panglima yang begitu melimpah rampasan perangnya, kau bisa bayangkan seberapa besar kekuatan pasukan yang bisa dia bangun dengan kekayaannya itu… Di NE fam, dari aku sendiri saja, kau lihat begitu luas dan besar desa-desaku, aku sanggup untuk membangun kekuatan militer yang luar biasa dengannya… Belum lagi dari teman-teman lain nanti.”

      “Hmm…” Ruby menggumam.
      “Kalau kau perhatikan Ruby, tentu kau rasakan panasnya hubungan NW dengan SE saat ini. Dan aku yakin mereka tak ingin frontal berhadapan sementara kita hidup damai dan semakin kuat. Mereka pasti akan menarik kita terlibat. Tapi menurutku, kenapa tidak kita malah manfaatkan saja perseteruan mereka untuk keuntungan kuadran kita.”

      “Jadi, alih-alih memilih antara NW atau SE, lebih baik kita memilih NE,” komentar Ruby.
      “Tepat sekali Ruby,” Felix tersenyum puas.

      ---

      Kembali ke percakapan Ruby dan Ken…
      “Mereka sendiri bagaimana Mbak? Bukankah Mbak pernah sampaikan gaya politik Felix yang patut diwaspadai…”

      “Aku melihat Felix yang sekarang berbeda Ken. Dia benar-benar berjuang untuk timur laut,” jawab Ruby.

      “Mbak,” Ken terlihat lebih hati-hati berbicara. “Aku dapat info kalau Felix sudah membuat perjanjian bawah tangan dengan SE…”

      “Dari mana kau dapat info itu Ken?”
      “Ada mbak, aku ga bisa sebut namanya.”

      “Aku memang pernah mendengar Felix sampaikan ke kami di ruang pertemuan para ksatria Rhesus, bahwa SE menawarkan bantuan untuk mempertahankan desa kita jika sewaktu-waktu ada serangan dari NW, karena tujuan SE adalah menangkap hammer NW,” ujar Ruby.

      “Hmm…” Laras menimpali. “Kalau itu untuk keuntungan NE kenapa tidak. Yang jelas NE kuat kalau bersatu. NW dan SE sedang berseteru. Kita diuntungkan dengan itu. Jangan sampai malah kita yang dimanfaatkan.”

      “Iya,” sahut Ken. “Makanya biar aku cek dulu apa maksud info itu, apa tujuannya. Apakah untuk mengadu domba atau apa. Kalau tak ada bukti, ya I don't buy it…”
      Ruby dan Laras mengiyakan.

      Ruby dan Laras ke belakang menyiapkan buah-buahan hasil kebun mereka lainnya. Suara canda tawa mereka ketika menyiapkan hidangan terdengar sampai ke depan tempat Ken duduk termenung. Ken mengeluarkan selembar kertas dari kantongnya. Dipandanginya surat itu, lalu ia arahkan pandangan ke kedua mansion jauh di depannya. “Apa maksudnya ini…” keluhnya pelan. “Tapi aku tak bisa percaya SE…”

      ---

      Kembali ke sekitar sepekan sebelumnya, ketika Ruby menanyakan pandangan Felix tentang situasi lintas kuadran.

      “Kalau kau perhatikan Ruby, tentu kau rasakan panasnya hubungan NW dengan SE saat ini,” ujar Felix. “Dan aku yakin mereka tak ingin frontal berhadapan sementara kita hidup damai dan semakin kuat. Mereka pasti akan menarik kita terlibat. Tapi menurutku, kenapa tidak kita malah manfaatkan saja perseteruan mereka untuk keuntungan kuadran kita.”

      “Jadi, alih-alih memilih antara NW atau SE, lebih baik kita memilih NE,” komentar Ruby.
      “Tepat sekali Ruby,” Felix tersenyum puas. “Dan aku sedang menggodog rencana bagaimana memanfaatkan situasi tersebut…”

      Ruby sedang tak ingin, dan memang tak pernah suka mengetahui rencana detail tim ke kuadran lain, karena menurutnya semakin banyak yang ia ketahui semakin berat tanggung jawab yang dipikulnya. Jadi, sepanjang itu untuk kebaikan kuadran, tak masalah baginya. Ruby hanya ikut tersenyum.

      Yang tak disadari baik oleh Ruby maupun Felix adalah, tepat saat mereka membicarakan sikap Felix tentang kuadran lain itu, seekor merpati terbang dari salah satu jendela ruangan di Rhesus Mansion. Seekor merpati dengan gulungan kecil surat terikat di kakinya, terbang lurus ke arah barat…
      "The most blessed leader is one who loves the people, and -in return, they love him" (Mohammad PBUH)

      If ur depressed ur living in the past. If ur anxious ur living in the future. If ur at peace ur living in the present" (LaoTzu)

      The post was edited 1 time, last by swann ().